← Beranda
Harga BBM Turun, JAL dan ANA Pangkas Biaya Tambahan: Tiket Internasional Lebih Murah
Dhimas GinanjarRabu, 19 Agustus 2026 | 16.16 WIB
Pesawat milik Japan Airlines. (JAL)

JawaPos.com - Japan Airlines Co. (JAL) memangkas biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge untuk tiket penerbangan internasional yang diterbitkan pada September dan Oktober. Kebijakan ini dilakukan setelah harga bahan bakar yang sebelumnya melonjak akibat perang Amerika Serikat-Iran mulai turun.

Untuk penerbangan sekali jalan ke Amerika Utara dan Eropa, JAL menurunkan fuel surcharge menjadi JPY 50.000 (setara Rp5.550.000, kurs 1 JPY = Rp111). Angka itu turun dari rekor JPY 65.000 (setara Rp7.215.000) yang berlaku untuk tiket Juli dan Agustus.

Sementara itu, surcharge untuk penerbangan menuju Tiongkok dan Taiwan dipangkas menjadi JPY 12.400 (setara Rp1.376.400), dari sebelumnya JPY 16.900 (setara Rp1.875.900).

Kebijakan serupa juga dilakukan All Nippon Airways Co. (ANA). Maskapai tersebut telah mengumumkan penurunan fuel surcharge pada pekan lalu.

ANA menetapkan biaya tambahan sebesar JPY 55.000 (setara Rp6.105.000) untuk penerbangan ke Amerika Utara dan Eropa, turun dari JPY 65.000. Untuk penerbangan ke Tiongkok dan Taiwan, surcharge turun menjadi JPY 14.300 (setara Rp1.587.300) dari JPY 15.400 (setara Rp1.709.400).

Fuel surcharge merupakan biaya tambahan yang dikenakan di luar tarif dasar tiket dan nilainya mengikuti perubahan harga bahan bakar.

Seperti dilansir Kyodo, Rabu (19/8), penurunan harga bahan bakar pada Juni dan Juli menjadi dasar penetapan biaya tambahan untuk tiket yang diterbitkan pada September dan Oktober.

Harga bahan bakar sebelumnya melonjak akibat perang Amerika Serikat-Iran. Namun, setelah kedua negara menandatangani kesepakatan damai awal pada pertengahan Juni untuk mengakhiri perang, harga bahan bakar pada Juni dan Juli mengalami penurunan.

Meski demikian, besaran fuel surcharge pada akhir tahun masih sulit dipastikan. Negosiasi Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang saat ini kembali mengalami kebuntuan, sehingga pergerakan harga bahan bakar masih penuh ketidakpastian.

EDITOR: Dhimas Ginanjar