← Beranda
Marak Serangan Beruang, Jumlah Pendaki di Hokkaido dan Tohoku Turun 32 Persen
Dhimas GinanjarSelasa, 11 Agustus 2026 | 18.36 WIB
Seorang pendaki melewati papan yang menunjukkan tingkat peringatan beruang di Gunung Rausu, Hokkaido, pada 5 Juli 2026. (Kyodo)

JawaPos.com - Aktivitas pendakian di wilayah Hokkaido dan Tohoku, Jepang, turun lebih dari 30 persen dalam periode April hingga Juni 2026 dibandingkan periode yang sama dua tahun sebelumnya. Penurunan paling tajam terjadi di kawasan yang mengalami banyak serangan beruang.

Seperti dilansir Kyodo, Senin (10/8), analisis data lokasi ponsel pintar menunjukkan jumlah pendaki di 100 gunung terkenal Jepang atau "hyakumeizan" turun 34 persen di Tohoku dan 32 persen di Hokkaido dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Secara nasional, jumlah pendaki di 100 gunung tersebut turun 18 persen.

Data tersebut dianalisis Tokyo-based IT company Uneri Inc. bersama Kyodo News dengan menggunakan data lokasi ponsel pintar selama tiga tahun. Analisis berfokus pada pengguna yang berada dalam radius 500 meter dari puncak gunung. Data dikumpulkan dari aplikasi ponsel dengan persetujuan pengguna.

Di Tohoku, jumlah pendaki sebenarnya sudah turun 35 persen pada 2025 dibandingkan 2024. Tahun ini, tingkat kunjungan masih bertahan pada level rendah tersebut.

Penurunan paling tajam terjadi di Hachimantai, yang berada di perbatasan Prefektur Iwate dan Akita. Jumlah pendaki di gunung tersebut turun 46 persen dibandingkan 2024.

Gunung Adatara di Prefektur Fukushima juga mengalami penurunan 27 persen. Sementara di Hokkaido, jumlah pendaki kembali turun setelah sebelumnya merosot 18 persen pada 2025.

Akita mencatat 59 kasus serangan beruang hitam terhadap manusia sepanjang tahun fiskal 2025, termasuk serangan di kawasan perkotaan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Jepang, jumlah tersebut merupakan yang tertinggi di antara 47 prefektur.

Iwate mencatat 39 kasus dan berada di posisi kedua. Secara keseluruhan, sembilan orang meninggal akibat serangan beruang di kedua prefektur tersebut.

Di Hokkaido, jalur pendakian Gunung Rausu sempat ditutup setelah serangan beruang cokelat yang menewaskan seseorang pada musim panas tahun lalu. Akses ke sejumlah gunung lainnya juga telah dibatasi dalam beberapa tahun terakhir.

Penurunan aktivitas pendakian juga terjadi di wilayah lain Jepang. Kanto yang mencakup Tokyo mencatat penurunan 17 persen, Jepang tengah 15 persen, Jepang barat dan Shikoku secara gabungan 6 persen, serta Kinki 3 persen.

Jumlah pendaki Gunung Kumotori yang berada di perbatasan Tokyo, Saitama, dan Yamanashi juga turun 33 persen dibandingkan 2024. Serangan beruang telah dilaporkan terjadi di sekitar gunung tersebut.

Kyushu, pulau utama Jepang paling selatan, mencatat penurunan 11 persen meski beruang diyakini tidak hidup di wilayah tersebut.

Kiyoshi Yamauchi, profesor madya bidang pengelolaan satwa liar di Universitas Iwate yang mengkhususkan diri pada ekologi beruang, mengatakan serangkaian serangan fatal pada tahun lalu dan tahun ini kemungkinan meningkatkan kekhawatiran para pendaki.

"Serangan beruang banyak terjadi ketika orang sedang mencari sayuran liar atau di kawasan dekat rumah," kata Yamauchi.

Menurut dia, beruang di kawasan pegunungan cenderung waspada dan sering melarikan diri ketika merasakan keberadaan manusia. Namun, pertemuan mendadak di jalur pendakian atau berhadapan dengan induk beruang yang ditemani anaknya tetap dapat berbahaya.

Yamauchi mengimbau pendaki tetap berhati-hati tanpa harus berlebihan dalam merasa takut. Ia menyarankan penggunaan lonceng atau peluit khusus beruang serta tetap berada di jalur pendakian yang telah ditentukan.

EDITOR: Dhimas Ginanjar