JawaPos.com – Sebuah museum di Kota Nagasaki berupaya mengungkap kisah yang selama ini kurang mendapat perhatian mengenai korban bom atom asal Korea. Museum tersebut juga menyajikan perspektif sejarah yang menggambarkan Jepang bukan hanya sebagai korban perang, tetapi juga sebagai negara yang pernah melakukan kolonialisasi dan kejahatan perang selama Perang Dunia II.
Seperti dilansir Kyodo, Jumat (24/7), Museum Hak Asasi Manusia dan Perdamaian Nagasaki yang dikelola organisasi nirlaba itu berada sekitar tiga kilometer di utara titik ledakan bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat pada 1945.
Pengelola museum menilai jumlah korban warga Korea akibat bom atom jauh lebih besar dibandingkan angka resmi pemerintah Kota Nagasaki. Perbedaan itu muncul karena metode penghitungan yang digunakan kedua pihak tidak sama.
Mantan Wakil Ketua Museum Tomohiro Shinkai memperkirakan sekitar 20.000 warga Korea terdampak bom atom di Nagasaki. Dari jumlah tersebut, sekitar 10.000 orang diperkirakan meninggal dunia.
Sementara itu, Pemerintah Kota Nagasaki memperkirakan terdapat sekitar 12.000 hingga 13.000 warga Korea yang terdampak bom atom. Dari jumlah tersebut, korban meninggal diperkirakan hanya sekitar 1.400 hingga 2.000 orang.
Shinkai mengatakan jumlah korban bahkan bisa mencapai sekitar 30.000 orang apabila memasukkan penyintas yang memasuki kota setelah ledakan dan terpapar radiasi sisa, serta mereka yang terpapar radiasi saat masih berada dalam kandungan.
Menurut pengelola museum, estimasi tersebut didasarkan pada penelitian lapangan yang dilakukan kelompok pegiat hak asasi manusia di Nagasaki. Mereka meyakini hasil penelitian tersebut lebih akurat dibandingkan perkiraan yang hanya mengacu pada literatur terdahulu.
Ketua museum Noboru Sakiyama menjelaskan bahwa sejak Era Meiji, Jepang melakukan ekspansi ke berbagai wilayah Asia. Kondisi itu membuat banyak warga Korea dibawa ke Jepang, terutama setelah Semenanjung Korea berada di bawah pemerintahan kolonial Jepang pada 1910 hingga 1945.
Banyak warga Korea saat itu dipaksa bekerja di tambang batu bara, pabrik, dan berbagai fasilitas industri. Di Nagasaki, mereka juga dipekerjakan sebagai buruh berat, termasuk di galangan kapal milik Mitsubishi Heavy Industries.
Akibatnya, banyak warga Korea yang menjadi korban bom atom setelah sebelumnya dimobilisasi ke Jepang. Setelah perang berakhir, mereka juga tidak langsung memperoleh akses terhadap layanan kesehatan dan bantuan bagi penyintas bom atom karena kebijakan awal hanya berlaku bagi warga negara Jepang.
Museum tersebut didirikan pada 1995 oleh sekelompok warga Nagasaki. Selain mengangkat kisah korban bom atom asal Korea, museum juga memamerkan berbagai materi mengenai pembantaian Nanjing, kerja paksa, Unit 731 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang, hingga tantangan yang dihadapi penyintas bom atom di luar negeri.
Beberapa sejarawan dan negara tetangga selama ini mengkritik Jepang karena dianggap kurang terbuka dalam mengajarkan sebagian aspek sejarah masa perang. Menurut Sakiyama, museum didirikan untuk menjaga dan mewariskan kisah-kisah yang tidak banyak diajarkan di sekolah.
Dalam beberapa tahun terakhir, museum mencatat peningkatan jumlah pengunjung asing, terutama dari Amerika Serikat dan Eropa. Shinkai mengatakan pengunjung dari Tiongkok dan Korea Selatan juga semakin banyak serta umumnya memberikan tanggapan positif terhadap materi yang dipamerkan.
Sakiyama mengaku justru khawatir karena jumlah pelajar Jepang yang berkunjung ke museum terus menurun. Menurutnya, generasi muda perlu memahami sejarah negaranya agar mampu membangun hubungan yang lebih baik dengan masyarakat dari negara lain di masa depan.