JawaPos.com – Malang dikenal bukan hanya sebagai kota wisata alam, tetapi juga sebagai kawasan dengan beragam destinasi wisata religi yang kaya nilai.
Dari masjid berarsitektur megah, klenteng bersejarah, hingga desa dengan tradisi keagamaan yang unik, semuanya tersebar di berbagai sudut kota.
Setiap destinasi religi di kawasan ini menawarkan pengalaman spiritual yang berbeda sekaligus wawasan budaya yang menarik untuk dijelajahi.
Dilansir dari laman GoTravelly dan Ongis Travel pada Sabtu (16/5), berikut 15 rekomendasi wisata religi di Malang.
1. Masjid Agung Jami'
Berlokasi tepat di sisi alun-alun kota dan mudah ditemukan dari berbagai arah, masjid bersejarah ini dibangun dalam dua tahap, yakni pada tahun 1890 dan dilanjutkan pada 1903.
Arsitekturnya mempertahankan desain lama dengan struktur baja dan dua atap tumpang tindih yang menjadi ciri khasnya hingga kini.
Di dalam kawasan masjid, terdapat prasasti pembangunan yang merekam perjalanan panjang berdirinya salah satu masjid paling ikonik di kota ini.
Kawasan alun-alun di sekitar masjid juga dapat dimanfaatkan untuk bersantai bersama keluarga setelah beribadah.
Tidak ada biaya tiket masuk untuk mengunjungi masjid ini, dan pintu selalu terbuka pada setiap waktu sholat tiba.
2. Masjid Tiban Turen
Berlokasi di Jalan KH Wachid Hasyim, Gang Anggur No.17, Sananrejo, Kecamatan Turen, masjid ini buka setiap hari mulai pukul 04.00 hingga 21.00 WIB dengan biaya parkir sekitar Rp5.000.
Berdiri di atas lahan seluas empat hektar, masjid ini tampil mencolok dengan dominasi warna biru putih dan perpaduan arsitektur Timur Tengah, India, dan China yang dirancang oleh KH Ahmad Bahru Mafdaluddin Soleh.
Cerita mistis tentang pembangunannya yang melibatkan 250 santri dan diselesaikan lebih cepat dari perkiraan turut menambah daya tarik tersendiri.
Tempat ini ramai dikunjungi hampir setiap hari, namun sangat padat saat hari-hari besar keagamaan umat Islam.
3. Masjid Agung Kota Batu
Berlokasi tepat di seberang Alun-Alun Batu, masjid ini memadukan arsitektur tradisional Jawa dengan sentuhan modern yang menghadirkan tampilan klasik namun tetap megah.
Kubah besar yang menjulang dan menara yang bercahaya di malam hari menjadikan masjid ini salah satu landmark religi yang paling mencolok di kawasan Kota Batu.
Suasana di dalamnya sejuk dan tenang, cocok untuk beribadah maupun sekadar mencari ketenangan di tengah perjalanan wisata.
Lokasinya yang berada di pusat kota memudahkan akses dari berbagai arah dan menjadikannya titik singgah yang praktis bagi wisatawan.
4. Masjid Salman Al-Farizi
Berlokasi di Dusun Karangampel, Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, masjid yang mulai dibangun pada 2013 dan rampung pada 2017 ini buka setiap saat, khususnya pada waktu sholat, dengan tiket masuk gratis dan infaq seikhlasnya.
Daya tarik utamanya adalah empat pilar besar dan belasan kubah kecil berwarna putih yang mengelilingi kubah utama, menciptakan tampilan yang mengingatkan pada kemegahan Taj Mahal.
Selain digunakan untuk kegiatan ibadah rutin, masjid ini juga sering menjadi lokasi berbagai kegiatan keagamaan dan menjadi spot foto favorit pengunjung.
Luas area masjid mencapai 1,8 hektare dengan lingkungan yang berdekatan dengan kawasan permukiman warga.
5. Masjid Ki Ageng Gribig
Berlokasi di Jalan Ki Ageng Gribig, Gang II, Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, kawasan ini merupakan kompleks makam sekaligus masjid yang dikelilingi banyak pepohonan rindang.
Ki Ageng Gribig dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di kawasan ini, sehingga tempat ini menjadi tujuan ziarah yang ramai dikunjungi.
Selain berziarah, pengunjung dapat sekaligus mempelajari sejarah peradaban Islam di kawasan ini melalui atmosfer dan peninggalan yang ada.
Suasana kompleks yang sejuk dan tenang menjadikan tempat ini nyaman untuk berdoa dan beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk perjalanan.
6. Desa Peniwen
Berlokasi di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, kawasan ini buka setiap hari tanpa biaya tiket masuk, namun area sakral seperti Gereja Peniwen hanya dapat diakses pada jam ibadah.
Desa ini dihuni mayoritas umat Nasrani dengan kehadiran banyak gereja yang menjadi ciri khas permukiman, serta nuansa keagamaan yang kental dan damai.
Salah satu momen paling istimewa di sini adalah saat pergantian tahun baru, ketika Gereja Peniwen membunyikan lonceng sebanyak hitungan tahun yang baru.
Di desa ini juga terdapat Monumen Peniwen Affair yang dibangun sebagai pengingat jasa Palang Merah Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.
Bagi yang ingin bermalam saat tahun baru, tersedia penginapan sederhana atau pilihan menyewa rumah warga setempat sesuai kesepakatan.
7. Ziarah Gunung Kawi
Berlokasi di Kecamatan Wonosari, kawasan wisata religi ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB dengan harga tiket keseluruhan termasuk parkir sebesar Rp25.000.
Gunung Kawi merupakan gunung berapi aktif yang di dalamnya terdapat makam dan klenteng bernuansa Kong Hu Chu, namun dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai latar belakang agama.
Pengunjung yang datang untuk berziarah disarankan memperhatikan instruksi dan aturan keamanan dari penjaga sebelum memasuki area kawasan.
Kawasan ini juga memiliki pemandian air panas berbelerang di sekitarnya yang dapat dikunjungi setelah selesai berziarah.
8. Klenteng Eng An Kiong
Berlokasi di Jalan RE Martadinata No.1, klenteng yang dibangun sejak tahun 1825 ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB.
Klenteng ini sejak awal pembangunannya memang dirancang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai destinasi wisata oleh Letnan Kwee Sam Hway yang memerintahkan pendiriannya.
Pada hari perayaan keagamaan umat Tionghoa, klenteng ini sangat ramai dikunjungi, sementara pada hari biasa pengunjung mayoritas datang untuk berfoto.
Harga tiket masuk bisa gratis pada momen tertentu, sedangkan pada hari biasa dikenakan biaya sekitar Rp100.000 per orang.