JawaPos.com – Pemulihan perjalanan luar negeri warga Jepang masih tertahan. Hingga r2025, angkanya baru mencapai sekitar 70 persen dari level sebelum pandemi.
Seperti dilansir Kyodo, Minggu (26/4), total perjalanan ke luar negeri tercatat 14,73 juta. Angka itu masih jauh dari rekor 20,08 juta perjalanan pada 2019.
Pemerintah sebelumnya menargetkan pemulihan penuh pada 2025. Namun target tersebut kini diundur hingga 2030.
Pelemahan yen menjadi faktor utama yang menekan minat bepergian. Biaya perjalanan luar negeri menjadi lebih mahal bagi warga Jepang.
Sebagai upaya mendorong minat, pemerintah akan menurunkan biaya pembuatan paspor. Kebijakan ini berlaku untuk pengajuan mulai 1 Juli.
Industri penerbangan juga terdampak kondisi ini. Maskapai membutuhkan jumlah penumpang keluar negeri yang stabil untuk menjaga rute internasional.
Setelah anjlok drastis saat pandemi, perjalanan luar negeri mulai pulih sejak 2022. Pada 2021, jumlahnya bahkan sempat jatuh ke 510 ribu perjalanan.
Pemulihan berlanjut pada 2024 dengan total 13 juta perjalanan. Namun lajunya masih belum cukup untuk kembali ke level normal.
Secara wilayah, Tokyo mencatat penurunan paling kecil dibanding daerah lain. Sementara Fukushima mengalami penurunan paling besar.
Dari sisi demografi, perempuan usia 20-an menjadi kelompok paling aktif bepergian. Sebaliknya, kelompok usia di atas 70 tahun masih paling rendah.
Ke depan, pemulihan berpotensi kembali tertekan. Kenaikan biaya bahan bakar diperkirakan mendorong tarif penerbangan internasional naik.
Di sisi lain, wisatawan asing justru membludak ke Jepang. Pada 2025, jumlahnya menembus 42,43 juta kunjungan.