JawaPos.com – Kekayaan dan keindahan alam di Indonesia memang tak ada habisnya, salah satunya adalah Banda Neira.
Banda Neira adalah sebuah surga tersembunyi di timur Indonesia, yang memikat banyak wisatawan dengan keindahan alamnya.
Pulau Banda Neira yang terletak di Kepulauan Banda, Maluku Tengah ini, adalah sebuah destinasi menakjubkan dengan sejarah, keindahan alam menawan dan budayanya yang unik.
Baca Juga: Rundown Pestapora 2023 Hari Kedua, Siap-siap Nonton Banda Neira Comeback
Namun, dibalik keindahannya ternyata pulau ini menyimpan sejarah yang kelam. Dilansir dari Pojok Satu dan jurnal Kemdikbud.
Salah satunya yaitu terjadinya pembantaian besar-besaran, pada tahun 1621 oleh Belanda terhadap rakyat Banda.
Pulau ini telah menjadi saksi dan area pertempuran para penjajah, dalam memperebutkan perdagangan rempah di Indonesia.
Baca Juga: Kabur 5 Hari, Pelaku Pemerkosa di Banda Neira Diamankan
Berikut adalah sejarah dan fakta menarik dibalik keindahan kepulauan Banda Neira, yang mungkin belum Anda ketahui.
1. Benteng Belgica yang bersejarah
Salah satu daya tarik utama di Pulau Banda Neira adalah Benteng Belgica.
Dibangun oleh Belanda pada abad ke-17, benteng ini merupakan bagian dari sistem pertahanan untuk mengamankan perdagangan rempah-rempah.
Benteng Belgica kini menjadi salah satu situs bersejarah yang terkenal di pulau ini, dan menawarkan pemandangan spektakuler dari atas.
Baca Juga: Vokalis Banda Neira Samakan Mars Hymne KPK dengan Mars Perindo
2. Kepulauan Banda dalam Kitab Negarakertagama
Keberadaan Kepulauan Banda, termasuk di Banda Neira, sudah tercantum dalam catatan tertua Nusantara, yaitu Kitab Negarakertagama.
Catatan tertua Nusantara ini ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365 masehi. Dalam kitab tersebut, nama Banda tertulis dengan kata Wandan.
Banda (Wandan) masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit, bersama dengan beberapa wilayah lainnya di Kepulauan Maluku seperti Buru, Sula, Ternate, Seram, Ambon, dan Kei.
Baca Juga: Respons Heru Budi Hartono Soal Usulan Istana Presiden di Banda Neira
3. Penghasil palaterbaik di Indonesia
Sejak zaman dahulu, Kepulauan Banda terkenal sebagai penghasil produk rempah-rempah, yaitu pala.
Buah pala dari Banda memang tidak diragukan lagi kualitasnya, dibandingkan dengan berbagai jenis pala lainnya di Indonesia.
Kepulauan Banda sebagai produsen pala ini, sudah terkenal di dunia internasional sejak sebelum abad ke-15.
Selain menjual pala dan fulinya, orang Banda juga ikut serta dalam pelayaran perdagangan sampai ke Malaka, tempat berkumpulnya berbagai armada dagang.
Baca Juga: Intip Keindahan Desa Wisata Pulisan di Minahasa Utara yang Cocok Jadi Rekomendasi Libur Nataru
4. Cikal bakaljalur rempah
Pulau Banda Neira memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan rempah-rempah.
Pada abad 16 dan 17, pulau ini menjadi pusat produksi dan perdagangan pala, cengkeh dan rempah-rempah lainnya.
Melalui para pedagang yang telah memiliki jaringan perdagangan internasional tersebut, rempah Indonesia ini pun mulai didistribusikan dan dipasarkan.
Rempah-rempah dari Kepulauan Banda dipasarkan melalui jalur darat dan laut, hingga akhirnya bisa masuk dalam pasaran Eropa.
Jalur laut yang dilalui oleh para pedagang ini, dapat dikatakan sebagai cikal bakal dari jalur yang dikenal dengan sebutan jalur rempah.
5. Menjadi medan pertempuran antara Belanda, Inggris, dan Rakyat Banda
Tujuan kedatangan orang-orang Belanda (VOC) ke Banda Neira, adalah untuk menguasai kepulauan itu.
Namun, ketika Inggris datang ke Banda Neira, mereka memanfaatkan situasi itu untuk membantu penduduk lokal melawan Belanda.
Akibatnya sejak tahun 1609, terjadilah perang tiada henti antara rakyat Banda melawan tentara Belanda dengan bantuan Inggris.
Dalam perjanjian Breda tahun 1667 antara Inggris dengan Belanda, pulau Run (berada di tengah-tengah laut Banda) yang menjadi salah satu wilayah kekuasaan VOC, berhasil ditukarkan oleh Inggris dengan Manhattan, New York.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Wisata Air Terjun di Mojokerto untuk Nikmati Waktu Libur Nataru
Selain itu, Banda Neira telah tercatat dalam sebuah peristiwa sejarah terbesar pada tahun 1667, atas terjadinya perseteruan Belanda dengan Inggris.