JawaPos.com - Kecerdasan buatan (AI) kini dimanfaatkan pencari kerja untuk menyusun curriculum vitae (CV) yang lebih menarik dan sesuai dengan posisi yang dilamar.
Namun, penggunaan teknologi ini perlu dilakukan secara hati-hati, terutama ketika berkaitan dengan keamanan data pribadi dan keaslian informasi dalam dokumen.
Survei terbaru Kaspersky menunjukkan, 90 persen responden menggunakan perangkat berbasis AI, sementara satu dari lima pengguna memanfaatkannya secara aktif untuk mencari pekerjaan.
AI dapat membantu menyesuaikan CV dengan kebutuhan perusahaan dan memasukkan kata kunci yang relevan. Meski begitu, penggunaan berlebihan berisiko membuat isi CV terkesan generik dan kehilangan sentuhan personal.
Lama Saqquor, pakar keamanan dan privasi di Kaspersky, menjelaskan bahwa alat bantu penulisan berbasis AI sangat berguna untuk menyusun dan memoles konten. Namun harus diingat bahwa chatbot publik pada dasarnya adalah ‘penyerap data’.
Alhasil, memasukkan riwayat karier lengkap, detail kontak, atau pencapaian yang dilindungi oleh NDA ke dalam platform AI eksternal berarti menyerahkan kendali atas bagaimana informasi sensitif tersebut disimpan, diproses, atau bahkan berisiko terekspos dalam model pelatihan AI di masa depan.
“Sebaiknya perlakukan AI sebagai mitra diskusi untuk analisis, manfaatkan untuk membantu pengaturan format dan menemukan celah dalam struktur, sembari memastikan bahwa detail profesional Anda tetap autentik dan data pribadi Anda tetap tersimpan secara offline,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (16/10).
Sementara itu, untuk membantu pencari kerja memanfaatkan AI secara tepat, Kaspersky membagikan sejumlah kiat berikut!
1. Prioritaskan keamanan data pribadi
Sebelum memasukkan CV ke chatbot AI, hapus informasi sensitif seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat rumah, alamat email, nama perusahaan, hingga dokumen hasil pemindaian.
Periksa juga pengaturan privasi layanan AI yang digunakan. Jika tersedia, nonaktifkan opsi yang memungkinkan percakapan digunakan untuk melatih model AI.
Pastikan layanan tersebut memiliki kebijakan privasi yang jelas dan hindari memasukkan informasi yang tidak ingin diketahui atau tersebar kepada pihak lain.
2. Siapkan CV agar mudah dibaca sistem ATS
Perusahaan menengah dan besar banyak menggunakan Applicant Tracking System (ATS), yakni perangkat lunak yang membantu mengumpulkan dan menyaring lamaran kandidat.
Sistem tersebut kini semakin banyak mengintegrasikan AI untuk memproses CV secara otomatis.
Karena itu, gunakan kata kunci yang relevan dengan posisi yang dilamar. Namun, jangan hanya berfokus pada sistem penyaringan otomatis. CV juga perlu disusun dengan bahasa yang wajar dan mudah dipahami karena perekrut tetap dapat memeriksanya secara langsung.
3. Gunakan AI sebagai penyunting, bukan penulis utama
Kaspersky menyarankan pencari kerja membuat draf CV sendiri terlebih dahulu dengan menonjolkan pengalaman, keterampilan, dan pencapaian yang paling relevan.
Setelah itu, gunakan AI untuk memperbaiki pilihan kata, merapikan struktur, dan menyesuaikan penekanan pengalaman dengan posisi yang dituju.
Menyerahkan seluruh proses penulisan kepada AI berisiko menghasilkan kalimat klise atau informasi yang tidak sesuai dengan kemampuan dan pengalaman sebenarnya.
4. Periksa kembali CV sebelum dikirim
Sebelum mengirimkan CV kepada perekrut, pastikan tidak ada informasi pribadi yang tidak diperlukan atau materi yang dilindungi perjanjian kerahasiaan (NDA).
Periksa pula keterbacaan dokumen, termasuk penggunaan judul, penulisan tanggal, dan urutan setiap bagian. Kaspersky menyarankan penggunaan format DOCX atau PDF dengan tata letak sederhana, tanpa elemen grafis yang rumit.
Pastikan seluruh informasi mengenai keterampilan, pengalaman, dan pencapaian benar-benar akurat serta dapat dipertanggungjawabkan saat wawancara. AI terkadang menghasilkan pernyataan yang berlebihan atau kurang sesuai dengan fakta.