← Beranda
Zuckerberg Akui Meta Siapkan USD 200 Miliar Sebelum Yakin Model AI Buatannya Berhasil
Mellyna Putri Diniar• Kamis, 15 Oktober 2026 | 02.17 WIB
Meta CEO Mark Zuckerberg (Bloomberg)

 

JawaPos.com - Mark Zuckerberg mengungkapkan Meta Platforms sempat mempertimbangkan investasi hingga USD 200 miliar atau sekitar Rp3.578 triliun, dengan kurs Rp17.890 per dolar AS, untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) ketika keberhasilan model yang dikembangkan belum dapat dipastikan. 

Pengakuan ini memperlihatkan besarnya risiko finansial yang dihadapi Meta dalam persaingan mengembangkan teknologi AI yang mampu menyaingi para pemimpin industri.

Dalam podcast Cheeky Pint yang dirilis Senin (12/10), Zuckerberg menceritakan percakapannya dengan Alexandr Wang, kepala AI Meta, mengenai rencana investasi pada akhir tahun lalu.

"Kami akan mengeluarkan dana sekitar USD 100 miliar atau USD 200 miliar. Saya bertanya kepada Alex, ‘Kamu yakin ini akan berhasil?'," ujar Zuckerberg, seperti dilansir Bloomberg, Rabu (14/10/2026). Saat itu, mereka belum melihat hasil model yang sedang dikembangkan.

Baca Juga: Larry Ellison Borong Rumah untuk Staf, Privasi Miliarder Berhadapan dengan Kepentingan Warga

Wang mengatakan perkembangan riset memang memberikan alasan untuk optimistis, tetapi belum menjamin keberhasilan. Dalam pertemuan eksekutif di Hawaii, Direktur Keuangan Meta Susan Li berulang kali mengingatkannya tentang konsekuensi kegagalan.

"Susan berkali-kali mengajak saya berbicara dan berkata, 'Saya hanya ingin mengingatkan, jika ini tidak berhasil, dampaknya akan sangat buruk, terutama dari sisi keuangan'," tutur Wang.

Zuckerberg mengakui peringatan tersebut sempat membuat Wang khawatir. "Menurut saya, Susan sedikit membuatmu takut," katanya. Wang menjelaskan bahwa setiap pembicaraan mengenai investasi itu berakhir dengan harapan bahwa semuanya akan berjalan baik.

Dia belum bisa menjamin keberhasilan, bahkan ketika perusahaan telah menggelontorkan dana dalam jumlah luar biasa besar. Menurut Wang, saat itu sama sekali belum jelas apakah strategi tersebut akan berhasil.

Ketidakpastian itu menjadi persoalan penting bagi investor ketika belanja AI Meta terus membengkak. Perusahaan memperkirakan belanja modal 2026, termasuk pembayaran pokok sewa pembiayaan, mencapai USD 130 miliar hingga USD 145 miliar atau sekitar Rp2.326 triliun hingga Rp2.594 triliun.

Sementara itu, analis Cantor Fitzgerald memperkirakan pengeluaran Meta dapat mencapai USD 200 miliar pada 2027, menurut laporan Business Insider. Angka tersebut merupakan proyeksi analis, bukan anggaran resmi yang telah ditetapkan Meta.

Kekhawatiran pasar sudah terlihat pada April, ketika saham Meta turun lebih dari 6 persen dalam perdagangan setelah jam bursa. Penurunan itu terjadi setelah perusahaan menaikkan proyeksi belanja tahunannya menjadi USD 125 miliar hingga USD 145 miliar, meskipun membukukan hasil yang kuat.

Reaksi investor menunjukkan bahwa pertumbuhan pengeluaran saja belum cukup; Meta juga harus membuktikan bahwa investasi AI mampu menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sepadan.

Di tengah tekanan tersebut, Meta memperkenalkan model AI baru yang diklaim memiliki kemampuan tingkat terdepan. Pimpinan perusahaan menyatakan model itu mampu bersaing dengan ChatGPT milik OpenAI dan Claude dari Anthropic, terutama dalam pemrograman serta menjawab persoalan keuangan dan hukum. Peluncuran ini menjadi ujian bagi upaya Zuckerberg membangun kembali tim AI melalui perekrutan tenaga ahli dan investasi besar.

Meta juga meluncurkan Muse, asisten AI personal yang dirancang membantu konsumen berbelanja, membeli tiket film, dan menjadwalkan janji temu. Namun, Zuckerberg mengakui belum mengetahui bagaimana konsumen akan merespons produk tersebut.

Artinya, tantangan Meta bukan hanya menghasilkan model yang canggih, tetapi juga mengubah kemampuan teknis menjadi produk yang benar-benar digunakan konsumen dan memberikan nilai bisnis.

Wang menggambarkan keputusan tersebut sebagai risiko yang sangat besar. Zuckerberg berpendapat kegagalan investasi itu akan membutuhkan skenario yang lebih luas daripada sekadar kegagalan Meta.

"Agar upaya ini gagal, bukan hanya kami yang harus gagal, tetapi AI secara keseluruhan juga harus gagal," katanya. Dia menambahkan bahwa kapasitas komputasi yang dibangun masih dapat dimanfaatkan secara produktif untuk kebutuhan lain, bahkan jika pengembangan model tidak berjalan sesuai harapan.

Baca Juga: Meta Tindak 33,2 Juta Konten Eksploitasi Anak, Perkuat Deteksi dengan AI

Bagi Meta, pertaruhan tersebut mencerminkan persaingan perusahaan teknologi global untuk menguasai AI melalui pembangunan pusat data, kapasitas komputasi, perekrutan ahli, dan pengembangan produk. Namun, besarnya investasi tidak otomatis menjamin hasil komersial.

Zuckerberg kini menghadapi dua tuntutan sekaligus: membuktikan model AI Meta mampu bersaing dengan rivalnya dan meyakinkan investor bahwa pengeluaran berskala ratusan miliar dolar AS dapat menghasilkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

EDITOR: Candra Mega Sari