← Beranda
Google Danai Pembangkit Nuklir Georgia untuk Menambah Daya bagi Lonjakan Kebutuhan Data Center
Mellyna Putri DiniarSelasa, 22 September 2026 | 18.31 WIB
Google memperluas penggunaan energi nuklir untuk mendukung kebutuhan listrik data center (Bloomberg)

 

JawaPos.com - Google memperluas strategi energinya dengan mendukung peningkatan kapasitas dua pembangkit listrik tenaga nuklir milik Georgia Power di Amerika Serikat (AS). Kesepakatan ini memperlihatkan bagaimana kebutuhan listrik data center atau pusat data mulai mendorong peningkatan kapasitas pembangkit nuklir yang sudah beroperasi.

Georgia Power dan Google pada Senin (21/9) mengatakan peningkatan kapasitas di Plant Vogtle dan Plant Hatch diperkirakan menambah sekitar 96 megawatt (MW) ke jaringan listrik Georgia. Kesepakatan itu masih membutuhkan persetujuan Georgia Public Service Commission (PSC). Reuters melaporkan permintaan listrik dari pusat data dan pengguna besar lain mendorong minat untuk meningkatkan pembangkit nuklir yang sudah ada sebagai sumber listrik bebas karbon sepanjang waktu. 

Dilansir dari Bloomberg, Selasa (22/9/2026), kerja sama ini melibatkan extended power uprate (EPU) pada unit-unit nuklir Georgia Power di Vogtle dan Hatch. Georgia Power mengajukan struktur tarif baru bernama Nuclear Uprate (NU-1) serta permohonan EPU untuk Unit 1 dan 2 Plant Hatch. Sementara itu, EPU untuk Unit 1 dan 2 Plant Vogtle telah disetujui PSC melalui rencana sumber daya terpadu 2025.

Melalui skema berbasis langganan itu, Google akan berlangganan tarif NU-1 dan memperoleh zero-emission credits yang mewakili atribut bebas karbon dari listrik nuklir yang dihasilkan melalui peningkatan kapasitas. Georgia Power memperkirakan skema ini dapat memberikan manfaat sekitar USD 900 juta atau Rp16,07 triliun dengan kurs Rp17.860 per dolar AS kepada pelanggan selama masa operasi unit.

Baca Juga: Jensen Huang Bantah Klaim AI Akan Memusnahkan Manusia pada 2030

Secara teknis, EPU tidak berarti membangun reaktor baru. Peningkatan dilakukan dengan memodifikasi peralatan seperti turbin, pompa, motor, dan sistem pendingin. Perubahan itu memungkinkan reaktor beroperasi pada tingkat daya termal berlisensi yang lebih tinggi sehingga menghasilkan lebih banyak panas dan meningkatkan aliran uap menuju generator turbin. 

Bagi Georgia, tambahan itu memperkuat sistem yang sudah sangat bergantung pada nuklir. Georgia Power melayani sekitar 2,8 juta pelanggan, sedangkan Plant Hatch dan Vogtle menyumbang sekitar seperempat listrik yang digunakan di negara bagian tersebut. Kedua fasilitas dikelola Southern Nuclear, perusahaan saudara Georgia Power di bawah Southern Company yang mengkhususkan diri pada operasi nuklir. 

"Banyak pelanggan besar kami memiliki target energi bersih tertentu, dan kami terus bekerja sama dengan PSC Georgia untuk menciptakan program yang tidak hanya membantu mereka mencapai target, tetapi juga selaras dengan Komitmen Perlindungan Pelanggan kami, meningkatkan keandalan dan ketahanan jaringan listrik serta menciptakan penghematan bagi seluruh pelanggan," kata Senior Vice President Strategic Growth Georgia Power Aaron Mitchell. 

Mitchell menilai kerja sama dengan Google merupakan contoh bagaimana pertumbuhan kebutuhan listrik dari pelanggan besar dapat memberi manfaat bagi seluruh pelanggan. Di sisi lain, Direktur Advanced Energy Technologies Google Lucia Tian mengatakan pusat data perusahaan merupakan investasi jangka panjang yang dapat mendorong ekonomi lokal sekaligus mempercepat penggunaan energi bersih. 

"Pusat data Google merupakan investasi jangka panjang di komunitas tempat kami berada, mendorong pembangunan ekonomi lokal dan mempercepat penerapan energi bersih,"kata Tian.

Menurutnya, kerja sama dengan Georgia Power menunjukkan bahwa pertumbuhan infrastruktur digital dapat berjalan bersama dampak lokal yang positif dan membantu menghadirkan sistem energi yang lebih terjangkau, bersih, dan andal bagi warga Georgia. 

Langkah di Georgia juga menjadi bagian dari strategi Google mengamankan listrik nuklir untuk ekspansi pusat datanya. Awal September, perusahaan menandatangani kesepakatan nuklir internasional pertamanya dengan perusahaan utilitas Finlandia Fortum senilai USD 15,1 miliar atau sekitar Rp269,69 triliun. Google akan membeli hingga 50 persen listrik dari PLTN Loviisa selama 22 tahun untuk mendukung sedikitnya tiga pusat data di Finlandia. 

Baca Juga: AS dan Tiongkok Siapkan Jalur Peringatan AI untuk Cegah Krisis di Tengah Perang Teknologi

Dengan demikian, kebutuhan energi infrastruktur digital mulai membentuk hubungan baru antara perusahaan teknologi dan pembangkit listrik. Di Georgia, Google tidak menunggu pembangunan reaktor baru untuk mendapatkan tambahan pasokan, tetapi mendukung peningkatan daya dari fasilitas yang telah beroperasi. 

EDITOR: Candra Mega Sari