JawaPos.com - Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Prof.Dr. dr. Yuda Turana menekankan pentingnya menempatkan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dengan tetap menjunjung tinggi martabat manusia.
Ia mengatakan kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan manusia untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bijaksana.
“Dampak teknologi harus kembali kepada satu pusat: martabat manusia. AI harus membuat kita lebih mampu, bukan lebih tergantung. Media harus membuat lebih tercerahkan, bukan lebih mudah dimanipulasi,” kata Yuda dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, perkembangan AI tidak dapat dipandang semata-mata sebagai kemajuan teknologi, tetapi juga sebagai perubahan yang turut memengaruhi cara manusia memperoleh pengetahuan, berkomunikasi, bekerja, hingga menentukan pilihan.
Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni Unika Atma Jaya Prof. Rosdiana Sijabat menambahkan AI kini telah berkembang dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari logika sosial yang turut memengaruhi cara manusia bekerja dan berinteraksi dengan informasi.
Menurut Rosdiana, perubahan tersebut berlangsung melalui proses datafikasi, kurasi algoritmik, produksi generatif, serta adaptasi institusi terhadap logika platform.
Dalam kondisi tersebut, AI tidak hanya berfungsi memproses informasi, tetapi juga dapat memengaruhi informasi yang dilihat pengguna, membentuk preferensi, serta memengaruhi pilihan dan keputusan.
“Mediasi berarti AI membantu kita bekerja. Mediatisasi berarti kita mulai bekerja menurut logika AI,” katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Profesor Unika Atma Jaya Prof. Laura F. N. Sudarnoto mengemukakan perkembangan AI perlu menjadi ruang refleksi bersama bagi perguruan tinggi.
Ia menilai perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk manusia yang dapat memanfaatkan pengetahuan dan teknologi secara kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab.
Baca Juga: Tiongkok Mengirim Robot Humanoid ke Dunia Nyata untuk Memenangkan Perlombaan Kecerdasan Buatan Fisik
“AI bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga dipertimbangkan dampaknya pada kehidupan manusia, komunikasi, etika, masyarakat, bahkan kemanusiaan,” ujarnya. (*)