← Beranda
Anthropic Pantau Aktivis Anti-AI, Bangun Sistem Pengawasan untuk Prediksi Protes
Mellyna Putri DiniarSabtu, 12 September 2026 | 15.00 WIB
Ilustrasi aksi protes menentang perkembangan dan penggunaan kecerdasan buatan (Futurism)

 

JawaPos.com - Anthropic, perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang dipimpin Dario Amodei, memperluas operasi keamanannya dengan membangun sistem pemantauan yang tidak hanya mengantisipasi ancaman terhadap eksekutif dan fasilitas perusahaan, tetapi juga memantau aktivis yang menentang perkembangan pesat AI. Sistem itu bahkan diarahkan untuk memprediksi potensi insiden sebelum terjadi.

Temuan tersebut menunjukkan perubahan pendekatan keamanan perusahaan teknologi AI dari sekadar merespons ancaman menjadi pengumpulan informasi secara proaktif. Pemantauan mencakup aktivitas protes di sekitar eksekutif maupun aset fisik Anthropic, sementara perusahaan juga disebut menerapkan pendekatan yang digambarkan sebagai "pre-crime", yakni mencoba memperkirakan insiden sebelum terjadi dan, dalam kasus tertentu, melaporkan pihak yang dianggap mencurigakan kepada polisi.

Dilansir dari Futurism, Jumat (11/9/2026), laporan mengenai sistem tersebut pertama kali diungkap The American Prospect berdasarkan wawancara dengan pejabat keamanan senior Anthropic dan penelusuran sejumlah lowongan pekerjaan perusahaan. Salah satu gambaran paling jelas muncul dari wawancara antara Manajer Pusat Operasi Keamanan Global Anthropic Keon Ellison, Manajer Operasi Keamanan Zach Melvin, dan CEO perusahaan deteksi risiko Samdesk, James Neufeld.

Baca Juga: Meta Paksa Ribuan Karyawan Pindah ke Divisi AI, Tanda Baru Perlombaan Kecerdasan Buatan Silicon Valley

Dalam wawancara itu, Ellison menceritakan perjalanan seorang eksekutif Anthropic ke sebuah kota besar ketika Samdesk memberi informasi mengenai rencana aksi protes. Jadwal demonstrasi kemudian dimajukan satu jam akibat persoalan izin kepolisian.

"Samdesk memberi kami pemberitahuan sekitar 60 menit sebelumnya bahwa penyelenggara protes memajukan waktunya," kata Ellison. Informasi tersebut memungkinkan Anthropic mengubah rute perjalanan eksekutif dan mengarahkannya melalui pintu layanan hotel.

"Tambahan waktu satu jam itu sangat penting. Tanpanya, eksekutif kami akan meninggalkan pertemuan dan langsung berada di tengah gangguan," lanjut Ellison. Dia kemudian menyimpulkan, "Situasi yang semula berpotensi menjadi sangat menegangkan benar-benar dapat diredam melalui deteksi dini dari Samdesk dan pemberian informasi tersebut."

Operasi itu tidak berhenti pada pemantauan aksi massa. Anthropic juga mulai rutin melaporkan ancaman kepada kepolisian di berbagai wilayah Amerika Serikat. Kepada The Wall Street Journal pada Juli, perusahaan mengatakan, "Kami melacak perilaku yang mengkhawatirkan dari waktu ke waktu melalui proses pemantauan individu yang menjadi perhatian, sehingga kami dapat menangkap pola eskalasi sejak dini."

The American Prospect mencatat sejumlah orang yang kemudian dilaporkan kepada polisi sebelumnya sudah dipantau tim keamanan Anthropic.

Kasus lain memperlihatkan bagaimana pendekatan tersebut diterapkan pada pengguna Claude. Pada Agustus, Anthropic melaporkan seorang pria kepada polisi San Francisco setelah pria itu mengatakan kepada chatbot Claude bahwa dirinya memiliki senapan AR-15 dan menempatkan Amodei "dalam bidikannya". 

Kepada The San Francisco Standard, pria tersebut kemudian mengatakan dirinya hanya “bercanda”. Anthropic juga menolak memberikan percakapan tersebut kepada polisi dengan alasan kebijakan internal perusahaan.

Bagi Anthropic, arah kebijakan itu secara terbuka dikaitkan dengan perlindungan terhadap target bernilai tinggi. Manajer keamanan perusahaan menjelaskan, "Tujuannya adalah mengubah operasi dari informasi reaktif menjadi pengumpulan informasi secara proaktif, prediktif, serta keterlibatan dan pengelolaan ancaman secara preventif." Dia menilai pendekatan tersebut merupakan tingkat kematangan operasional yang masuk akal untuk melindungi target bernilai tinggi di industri mana pun.

Perluasan itu juga terlihat dari perekrutan tim Global Safety, Intelligence, and Security (GSIS). Salah satu lowongan analis intelijen perusahaan mencantumkan tugas untuk mengidentifikasi, menilai, melacak, dan menyelidiki ancaman global, mulai dari ketidakstabilan geopolitik, terorisme, kejahatan, aktivisme, hingga ancaman negara terhadap sektor AI. Posisi tersebut menawarkan gaji USD 180.000–USD 230.000 atau sekitar Rp3,17-Rp4,04 miliar dengan kurs Rp17.590 per dolar AS.

Baca Juga: Peneliti Anthropic Keluar dari Perusahaan, Sebut Risiko AI Musnahkan Manusia Lebih dari 10 Persen

Perkembangan tersebut ironis karena Anthropic sebelumnya menolak penggunaan teknologinya untuk pengawasan domestik massal dan senjata otonom dalam perselisihannya dengan Departemen Pertahanan AS.

Kini, perusahaan justru memperluas operasi keamanan untuk memantau protes, mengidentifikasi ancaman, dan memprediksi potensi gangguan sebelum terjadi. Aktivis yang menolak AI pun masuk dalam daftar aktivitas yang ingin dipantau perusahaan.

Jika kemampuan semacam ini jatuh ke tangan pemerintah yang represif, teknologi yang dibangun untuk menjaga keamanan dapat berubah menjadi alat untuk mengawasi, memetakan, bahkan membungkam kelompok yang dianggap mengganggu kekuasaan.

EDITOR: Candra Mega Sari