JawaPos.com - Praktisi keamanan siber asal Indonesia Stephanus Sunarto Purnomo meraih Letter of Recognition (LOR) dari NASA usai membongkar kerentanan sistem yang memaparkan lebih dari 5.000 catatan kredensial internal lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.
Keberhasilan Stephanus berawal dari analisis terhadap kerentanan sistem yang semula hanya dikategorikan berisiko Medium–High.
Namun, melalui validasi manual, penelusuran attack path, dan analisis kontrol keamanan, dia menemukan potensi dampak yang jauh lebih masif bagi organisasi.
Baca Juga: 153 Juta Data SIM Bocor di Dark Web, Termasuk SIM Jurnalis dan Menhan AS
Temuan tersebut langsung dilaporkan melalui mekanisme responsible disclosure resmi sebelum akhirnya mendapat validasi serta pengakuan langsung dari pihak NASA.
Mengombinasikan Kerentanan Lewat Analisis Attack Path
Stephanus, yang saat ini berkarir di sektor perbankan nasional sekaligus menjadi mentor Cyber Security perguruan tinggi menjelaskan, tidak memandang celah keamanan secara terpisah.
Dia berfokus pada potensi risiko saat beberapa kelemahan sistem terkombinasi.
Baca Juga: AiMOGA Perluas Robot AI ke 60 Negara, Dipakai di Berbagai Sektor
"Cyber security bukan tentang seberapa jauh kita dapat menembus sebuah sistem. Cyber security adalah tentang menemukan kelemahan sebelum dimanfaatkan pihak yang berniat buruk, membuktikan risikonya, dan membantu membuat sistem menjadi lebih aman," tegas Stephanus.
Melalui pemetaan attack surface, pengujian mekanisme otentikasi, serta evaluasi security boundary, analisis impact assessment yang dilakukannya berhasil mengonfirmasi paparan lebih dari 5.000 credential records internal.
Risiko paparan kredensial ini dinilai sangat kritis karena dampaknya amat bergantung pada validitas akun, tingkat hak akses, hingga potensi penggunaan kembali kredensial pada sumber daya terhubung lainnya.
Nalar Manusia Melampaui Automated Scanner
Meskipun perangkat pemindai otomatis (automated scanner) dapat menemukan exposed endpoint atau kesalahan konfigurasi, Stephanus menegaskan, alat otomatis belum tentu mampu memahami konteks sistem secara menyeluruh.
Menurut dia, scanner hanya memberikan indikasi awal.
Untuk merangkai berbagai kelemahan menjadi sebuah attack path yang nyata, tetap diperlukan penalaran dan analisis logis dari seorang manusia.
Baca Juga: Komdigi Tegaskan Platform Media Sosial Tak Bisa Lepas Tangan dari Integritas Informasi
Atas dasar itu, tingkat keparahan suatu celah tidak bisa dinilai dari angka individual semata, melainkan harus memperhitungkan faktor exploitability, sensitivitas data, hak akses, serta estimasi kerugian organisasi.
Tetap Etis dan Menjaga Batas Tanggung Jawab
Dalam seluruh proses risetnya, Stephanus memegang teguh prinsip responsible disclosure.
Pengujian dilakukan secara terukur tanpa mengubah data, mengganggu operasional layanan, menyalahgunakan akun, maupun memperjualbelikan kredensial yang ditemukan.
Baca Juga: Bluetooth Android Eror? 5 Cara Ini Bikin Koneksi Langsung Lancar
Seluruh rincian sensitif seperti payload, token, hingga konfigurasi internal dijaga kerahasiaannya dan tidak dipublikasikan ke publik guna mencegah potensi penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pengalaman berharga ini turut dia bagikan kepada para mahasiswa bimbingannya.
Dia menekankan bahwa calon ahli siber masa depan tak cuma harus mahir memakai tools, tetapi juga wajib memiliki pola pikir penyerang (attacker mindset), pemahaman pertahanan, dan etika profesi yang kuat.
Baca Juga: Spam Call ke Pengguna Smartphone Indonesia Meningkat, Modusnya Kini Merambah Pesan dan Link Palsu
Pencapaian Stephanus menjadi bukti nyata bahwa peneliti keamanan siber asal Indonesia memiliki kapasitas dan daya saing tinggi untuk berkontribusi dalam ekosistem keamanan digital global.