← Beranda
153 Juta Data SIM Bocor di Dark Web, Termasuk SIM Jurnalis dan Menhan AS
Nanda PrayogaJumat, 4 September 2026 | 13.05 WIB
Ilustrasi seorang pengemudi menyerahkan SIM ke polisi. (Pexels/Kindel Media)

JawaPos.com - Sebanyak lebih dari 153 juta hasil pindai (scan) surat izin mengemudi (SIM) Amerika Serikat (AS) dan Kanada diduga bocor dan sempat diperjualbelikan di dark web.

Seperti dilansir dari Engadget, jurnalis keamanan siber Brian Krebs menjadi salah satu korban dalam kebocoran data tersebut.

Data tersebut ditawarkan melalui sebuah layanan bernama Nexus yang menyediakan berbagai dokumen pribadi lainnya.

Menariknya, Krebs mengetahui keberadaan basis data itu setelah seseorang memberitahunya bahwa hasil pindai kartu identitas miliknya digunakan sebagai sampel gratis untuk mempromosikan layanan Nexus.

Baca Juga: Sunroof Mobil Kamu Bocor? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Sebelum Makin Parah

Krebs kemudian berinteraksi langsung dengan para pelaku untuk memastikan keaslian data yang diperjualbelikan.

Para pelaku bahkan memberikan hasil pindai SIM milik Krebs sendiri. Korban lainnya juga mengonfirmasi bahwa dokumen yang ditawarkan merupakan data mereka yang sebenarnya.

Selain SIM, basis data tersebut dilaporkan berisi berbagai dokumen pribadi lain, seperti kartu medis, catatan pekerjaan, dan kartu identitas penduduk.

Para pelaku juga sempat memperlihatkan kepada Krebs hasil pindai SIM milik Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena menyangkut dokumen identitas pejabat tinggi pemerintahan AS.

Baca Juga: SPPG di Mojokerto Meledak Akibat Gas Bocor, 5 Orang Luka-luka

Kebocoran semacam ini berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai bentuk penipuan identitas maupun kejahatan siber lainnya.

Sementara itu, Biro Investigasi Federal AS (FBI) telah memulai penyelidikan terkait kasus tersebut.

Kebocoran Diduga dari Pihak Ketiga

Krebs menduga sumber kebocoran berasal dari IDScan, perusahaan verifikasi identitas yang berbasis di Louisiana.

Dugaan tersebut muncul karena banyak korban memiliki kesamaan, yakni pernah menyewa kendaraan dari Hertz. Perusahaan rental tersebut diketahui menggunakan layanan IDScan untuk proses verifikasi identitas pelanggan.

IDScan sendiri memiliki sejumlah klien lain, termasuk Target, FedEx, Motorola, dan Jack Henry.

Baca Juga: Garuda Calling untuk FIFA ASEAN Cup Bocor di Media Sosial, PSSI: Tidak Benar!

Namun, Target telah menyatakan kepada Engadget bahwa mereka tidak terlibat dalam insiden tersebut.

Target mengatakan pihaknya tidak mengirimkan data pelanggan kepada IDScan sehingga informasi pelanggan Target tidak terdampak dalam dugaan serangan tersebut.

Penyelidikan FBI disebut dilakukan oleh kantor cabang FBI di New Orleans. Hal itu dinilai semakin memperkuat dugaan bahwa insiden tersebut berkaitan dengan perusahaan verifikasi identitas yang berbasis di Louisiana.

Di sisi lain, layanan Nexus sebelumnya dipromosikan melalui forum kejahatan siber Rusia Exploit.

Dalam promosinya, pelaku menggunakan hasil pindai SIM milik Krebs sebagai sampel gratis untuk menarik calon pelanggan.

Baca Juga: Bocor Alus Pemain Asing ke-11 Persebaya: Masih Aktif di Negaranya, Belum Pernah Main di Indonesia

Saat ini, Nexus telah ditutup. Halaman masuk layanan tersebut menampilkan pemberitahuan bahwa platform tidak lagi tersedia dan tidak dapat digunakan.

Meski dokumen-dokumen tersebut sudah tidak lagi ditawarkan melalui Nexus, bukan berarti data yang telah bocor benar-benar hilang.

Dokumen pribadi yang sempat diperoleh pelaku masih berpotensi beredar di berbagai forum dan jaringan kejahatan siber.

Kasus serupa juga pernah terjadi pada Discord ketika salah satu penyedia layanan pihak ketiganya diretas.

Insiden tersebut menyebabkan lebih dari 70.000 kartu identitas pemerintah terekspos.

Baca Juga: Atap Old Trafford Bocor Lagi, Manchester United Kena Sindir Fans

Kebocoran dalam skala besar seperti ini menunjukkan bahwa data identitas tidak hanya rentan ketika berada di tangan perusahaan pemilik data, tetapi juga ketika diproses dan disimpan oleh penyedia layanan pihak ketiga.

 

EDITOR: Bayu Putra