JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperluas ekosistem inovasi digital ke berbagai daerah melalui peluncuran Garuda Spark Innovation Hub (GSIH) di 10 kota.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan, jaringan tersebut dirancang agar inovasi daerah tidak berhenti di lingkup lokal, tetapi bisa terkoneksi dengan talenta, investor, industri hingga pasar global.
Peluncuran GSIH dilakukan secara serentak di BSD City, Tangerang Selatan, Rabu (26/8). Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem digital yang lebih merata sehingga akses terhadap peluang pengembangan inovasi tidak hanya terpusat di kota-kota besar.
Meutya mengatakan, pembangunan infrastruktur konektivitas harus diikuti dengan upaya membuka akses yang lebih luas terhadap ekosistem inovasi. Menurutnya, keberadaan jaringan digital akan lebih bermakna apabila mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang bagi masyarakat di daerah.
Baca Juga: Presiden Prabowo-Wapres Gibran Tiba di Tempat Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU
“Kita tidak boleh berhenti hanya di konektivitas. Kita harus memastikan keterhubungan itu tertranslasikan menjadi pertumbuhan atau connectivity become growth,” ujar Meutya.
Karena itu, GSIH diarahkan untuk menjadi wadah yang mempertemukan talenta dan startup daerah dengan berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk berkembang. Mulai dari akses inovasi, investor, industri hingga pasar menjadi bagian dari ekosistem yang ingin dibangun pemerintah.
“Yang kita pastikan adalah daerah-daerah juga punya akses. Akses terhadap inovasi, akses terhadap talenta, akses terhadap investor, akses terhadap industri, dan tentunya akses terhadap pasar. Jadi bukan hanya konektivitas secara fisik, tetapi konektivitas terhadap ekosistem,” kata Meutya.
GSIH dikembangkan menggunakan skema Hub and Spoke. Saat ini terdapat 10 hub yang berada di Jakarta, Batam, Medan, Bandung, Malang, Makassar, Papua, Yogyakarta, Aceh, dan Surabaya.
Adapun spoke berfungsi sebagai titik yang menghubungkan ekosistem inovasi di daerah dengan hub. Dengan pola tersebut, talenta, startup, serta inovasi yang tumbuh di daerah dapat memperoleh akses menuju jaringan yang lebih luas secara nasional.
Pemerintah menargetkan jaringan Garuda Spark nantinya berkembang hingga 500 titik. Khusus pada 2026, Kemkomdigi menargetkan penambahan 20 Garuda Spark.
Namun, Meutya menekankan bahwa ekspansi tersebut tidak sekadar berorientasi pada pencapaian jumlah titik. Pemerataan akses terhadap ekosistem inovasi menjadi perhatian utama agar talenta di daerah tidak harus berpindah ke pusat-pusat ekonomi untuk memperoleh kesempatan yang sama.
“Target kita tidak hanya angka tapi juga pemerataannya. Kita ingin memastikan anak-anak muda di daerah tidak harus selalu pergi ke pusat untuk mendapatkan akses terhadap ekosistem inovasi,” tegas Meutya.
Baca Juga: Presiden Prabowo-Wapres Gibran Tiba di Tempat Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU
Menurutnya, pengembangan GSIH juga berkaitan dengan upaya memperkuat kemampuan Indonesia menghasilkan inovasi dari dalam negeri. Talenta lokal diharapkan memiliki ruang untuk menciptakan teknologi dan inovasi yang dapat mendukung kemandirian digital nasional.
“Kita ingin memiliki inovasi-inovasi yang juga bisa lahir dari tangan anak-anak muda di tanah air. Tujuan akhirnya cukup besar yaitu membuat Indonesia mandiri dalam transformasi digitalnya,” ujarnya.
Potensi tersebut dinilai semakin penting mengingat struktur demografi Indonesia. Pada 2030, sekitar 68 persen penduduk Indonesia diproyeksikan berada dalam kelompok usia produktif 15 hingga 64 tahun.
Meutya menilai besarnya jumlah penduduk usia produktif harus diikuti dengan pemberian ruang dan akses agar generasi muda dapat terlibat langsung dalam perkembangan ekonomi digital.
“Kita ingin mengisi ruang-ruang untuk bagaimana anak-anak muda terlibat dalam transformasi digital di tanah air,” katanya.
Tak hanya menghubungkan daerah dengan ekosistem nasional, GSIH juga diposisikan sebagai global gateway dua arah. Artinya, jaringan tersebut diharapkan mampu membuka jalan bagi inovasi Indonesia untuk masuk ke pasar internasional sekaligus menjadi pintu masuk bagi investasi, teknologi, dan jejaring global ke Indonesia.
Dengan konektivitas tersebut, pemerintah ingin talenta dan startup Indonesia memiliki posisi yang semakin kompetitif di tingkat internasional.
“Daya saing kita menjadi setara di tingkat global, startup kita dihargai di tingkat global, talenta-talenta kita sejajar dan sama tinggi dengan talenta-talenta di mancanegara,” ujar Meutya.
Pengembangan GSIH mengusung prinsip Locally Adapted, Nationally Coordinated, Globally Connected. Pendekatan ini menempatkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah sebagai dasar pengembangan, kemudian diperkuat melalui koordinasi nasional sebelum diarahkan menuju jaringan dan pasar global.
Baca Juga: Ketahuan Bawa Golok dan Kunci Ring, Pria Tak Dikenal Diamuk Massa Saat Demo AMPB di DPR
Dengan model tersebut, GSIH tidak sekadar diproyeksikan sebagai lokasi fisik bagi pelaku startup dan inovasi. Lebih jauh, jaringan ini diharapkan menjadi penghubung antara potensi lokal dengan modal, teknologi, industri, talenta, serta akses pasar yang diperlukan agar inovasi dapat berkembang.
“Ujungnya adalah kedaulatan digital,” kata Meutya.
Peluncuran GSIH turut ditandai dengan kolaborasi Kemkomdigi bersama Sinar Mas Land, Indosat Ooredoo Hutchison, Ericsson, dan Nongsa Digital Park. Pemerintah tetap menargetkan penambahan 20 Garuda Spark pada 2026 sebagai bagian dari perluasan jaringan ekosistem inovasi tersebut.