← Beranda
Nokia Tutup Fasilitas di Tiongkok Daratan hingga Akhir 2026, Terdesak Persaingan Lokal
Mellyna Putri DiniarKamis, 20 Agustus 2026 | 05.00 WIB
Logo Nokia terpampang di kantor perusahaan telekomunikasi asal Finlandia tersebut (SCMP)

 

JawaPos.com - Nokia bersiap memangkas sebagian besar tenaga kerja dan menutup hampir seluruh fasilitasnya di Tiongkok daratan secara bertahap hingga akhir 2026. Penyusutan tersebut menjadi perubahan besar bagi perusahaan telekomunikasi asal Finlandia itu setelah lebih dari empat dekade membangun bisnis di Tiongkok, yang pernah menjadi pasar tunggal terbesarnya di dunia.

Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, pengurangan tenaga kerja akan dilakukan bertahap pada divisi Mobile Networks dan Network Infrastructure. Nokia memiliki sekitar 7.200 karyawan di Tiongkok daratan, Hong Kong, dan Taiwan pada akhir 2025. Fasilitasnya tersebar di Beijing, Shanghai, Hangzhou, Chengdu, dan Qingdao. Setelah restrukturisasi, layanan purnajual akan menjadi salah satu aktivitas yang tersisa.

Melansir South China Morning Post, Rabu (19/8/2026), rencana tersebut disampaikan Nokia dalam konferensi video internal dari kantor pusatnya di Helsinki pada awal Agustus. Seorang sumber di Shanghai menyebut langkah tersebut "pada dasarnya merupakan penarikan diri secara bertahap dari pasar."

Sejumlah karyawan telah dipindahkan ke Finlandia pada awal tahun ini. Seorang mantan pegawai Nokia di Shanghai juga mengatakan dirinya menerima paket pesangon "N+3", yakni kompensasi berdasarkan masa kerja ditambah tiga bulan gaji.

Baca Juga: Nokia Perluas Aliansi dengan TIM Brasil dan Deutsche Telekom untuk Percepat Jaringan 5G Berbasis AI di Pasar Global

Perubahan itu menunjukkan berbaliknya posisi Nokia di Tiongkok. Perusahaan masuk ke negara tersebut pada 1985 melalui kantor pertamanya di Beijing dan ikut membangun jaringan telekomunikasi pada 1990-an. Nokia kemudian menjadi salah satu merek telepon seluler populer di Tiongkok. Pendapatannya mencapai puncak €7,62 miliar atau sekitar Rp157,56 triliun dengan kurs €1 = Rp20.670 pada 2010, ketika Tiongkok menjadi pasar tunggal terbesar Nokia secara global.

Namun, posisi tersebut merosot setelah persaingan dengan pemain domestik menguat. Nokia kehilangan banyak peluang dalam pembangunan jaringan 5G Tiongkok dan tertinggal dari Huawei Technologies serta ZTE. Seorang karyawan Nokia di Shanghai mengatakan lembaga pemerintah dan perusahaan milik negara semakin memilih teknologi serta peralatan domestik, sementara bisnis dari perusahaan swasta juga menyusut.

Dampaknya terlihat pada kinerja bisnis. Pendapatan Nokia di Tiongkok turun dari €1,84 miliar pada 2019 menjadi €913 juta tahun lalu, atau masing-masing sekitar Rp38,04 triliun dan Rp18,88 triliun. Kontribusi Tiongkok terhadap pendapatan grup juga turun dari 7,9 persen menjadi 4,6 persen.

Nokia kini mempercepat integrasi bisnis Tiongkok ke struktur global setelah mengambil alih penuh Nokia Shanghai Bell, bekas perusahaan patungan dengan China Huaxin yang didukung negara. Perusahaan memperkirakan biaya integrasi €350 juta atau sekitar Rp7,23 triliun hingga akhir 2026, dengan target penghematan sekitar €200 juta atau Rp4,13 triliun. Proses tersebut kini ditargetkan selesai dalam dua tahun, lebih cepat dari rencana awal dua hingga tiga tahun.

Dalam pernyataannya kepada South China Morning Post, Nokia tidak mengonfirmasi maupun membantah rencana penutupan seluruh fasilitas.

Juru bicara perusahaan mengatakan, "Nokia telah mengambil langkah-langkah untuk menyelaraskan operasinya di Tiongkok dengan lebih baik dengan cara operasi global Nokia. Bisnis Nokia di Tiongkok telah terus menurun selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, kami menyesuaikan jejak operasional kami di Tiongkok untuk menghadapi kenyataan tersebut."

Salah satu langkah konkretnya adalah penutupan pusat penelitian dan pengembangan Nokia di Hangzhou yang berdampak pada sekitar 1.600 pekerjaan. Nokia telah mengonfirmasi penutupan fasilitas tersebut.

Sementara itu, Reuters melaporkan pada Selasa (18/8/2026) bahwa Nokia akan mengurangi operasi secara signifikan di Tiongkok daratan hingga akhir tahun, termasuk menutup hampir seluruh fasilitas dan memangkas tenaga kerja.

Baca Juga: Dari Korban Disrupsi iPhone ke Pusat Infrastruktur AI Dunia, Nokia Amankan Kemitraan Strategis dengan Nvidia

Langkah Nokia menjadi bagian dari tren perusahaan teknologi asing yang mengurangi operasi di Tiongkok. IBM menutup unit penelitian dan pengembangan utamanya pada 2024, Microsoft menutup sejumlah cabang dan perusahaan patungan serta memindahkan sebagian peneliti ke luar negeri, sedangkan Amazon menutup laboratorium AI di Shanghai tahun lalu. 

Bagi Nokia, penyusutan ini memperlihatkan bagaimana melemahnya bisnis dan menguatnya pemain domestik mendorong perusahaan multinasional mengubah strategi dari ekspansi lokal menuju operasi yang lebih terintegrasi secara global.

EDITOR: Candra Mega Sari