← Beranda
Dario Amodei Akui Dunia Dilanda Krisis Kepercayaan AI, Industri Dituntut Buktikan Manfaatnya
Mellyna Putri DiniarSelasa, 18 Agustus 2026 | 06.44 WIB
Dario Amodei, CEO Anthropic, dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos (Fortune)

 


JawaPos.com
- CEO Anthropic Dario Amodei mengakui adanya krisis kepercayaan terhadap kecerdasan buatan (AI) di tengah meningkatnya kekhawatiran publik atas dampak teknologi tersebut. Dia mengatakan masyarakat kini cenderung mencurigai perusahaan teknologi dan pemerintah yang mengembangkan serta mengatur AI.

Dalam unggahan panjang di X pada Sabtu (15/8/2026), Amodei, yang biasanya jarang menggunakan media sosial, membantah anggapan bahwa dirinya menjadi penyebab pesimisme publik terhadap AI. Namun, dia mengakui persoalan kepercayaan memang nyata. Menurutnya, masyarakat tidak hanya mempertanyakan risiko AI, tetapi juga mencurigai kepentingan perusahaan dan pemerintah yang mengembangkannya.

Dilansir dari Fortune, Senin (17/8/2026), Amodei mengatakan, "Saya pikir ini pada dasarnya adalah krisis kepercayaan. Masyarakat biasa tidak mempercayai perusahaan, pemerintah, atau industri teknologi dan selalu menduga bahwa kami sedang menyiapkan cara baru untuk merugikan mereka." Dia menilai ketidakpercayaan itu telah terbentuk selama puluhan tahun dan AI kini menjadi bagian terbaru dari persoalan tersebut.

Baca Juga: Model AI OpenAI dan Anthropic Gunakan Identitas Palsu, Tipu Developer dalam Uji Keamanan di Inggris

Tak hanya itu, Amodei menolak pilihan seolah-olah AI hanya dapat dikendalikan dengan memusatkan teknologi pada segelintir perusahaan dan politisi atau, sebaliknya, menyebarkannya melalui model terbuka. Dia menilai AI secara struktural memang cenderung memusatkan kekuasaan karena hukum peningkatan skala, yakni kemampuan model menjadi lebih baik ketika sumber daya komputasi yang digunakan semakin besar.

Karena itu, menurut Amodei, model dengan bobot terbuka memang dapat memperluas akses, tetapi tidak otomatis menghapus konsentrasi kekuasaan. Kendali tetap dapat bergeser kepada pihak yang memiliki kapasitas komputasi dan cip terbesar. Dia mendukung aturan yang sekaligus mengatasi risiko siber, biologis, dan risiko AI yang menyimpang dari tujuan manusia, membatasi kekuatan perusahaan AI terdepan, serta tetap memberi ruang bagi model terbuka dengan pengamanan khusus.

Dalam kerangka itu, Amodei mendukung pembentukan lembaga pengawas yang menyerupai FINRA dan pendekatan pemerintahan Donald Trump terhadap pengujian AI. Dia juga menegaskan Anthropic selama ini mendukung kebijakan yang dapat memperlambat perusahaan AI terdepan sekaligus memberi ruang lebih besar bagi pesaing yang lebih kecil.

Namun, persoalan kepercayaan juga berkaitan dengan cara para pemimpin AI berbicara tentang dampak teknologi. Amodei sebelumnya pernah memperingatkan AI dapat menghilangkan hingga 50 persen pekerjaan kerah putih. Namun belakangan ini, Amodei melunakkan pandangan tersebut dan menyebut otomatisasi sebagai pengganda produktivitas.

"Jika AI mengotomatisasi 90 persen pekerjaan, manusia masih mengerjakan 10 persen sisanya. Namun, 10 persen itu dapat berkembang hingga mencakup seluruh pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia," kata Amodei kepada Fortune pada Mei. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas hingga 10 kali lipat.

Perubahan sikap serupa juga terlihat pada CEO OpenAI Sam Altman. Fortune mencatat Amodei dan Altman mulai melunakkan peringatan mengenai dampak AI terhadap pekerjaan saat OpenAI dan Anthropic bersiap menuju penawaran umum perdana (IPO). Namun, Amodei menilai citra AI tidak akan membaik hanya melalui kampanye pemasaran. Klaim bahwa AI dapat menyembuhkan kanker, misalnya, justru akan dianggap sebagai upaya menipu publik.

Menurut Amodei, cara membangun kembali kepercayaan bukan dengan membuat janji yang lebih besar, melainkan membuktikan manfaat AI secara nyata. "Hal yang akan berhasil adalah benar-benar menyembuhkan kanker," katanya.

Dia mengakui kritik paling tepat terhadap perusahaan AI, termasuk Anthropic, adalah bahwa mereka "belum memenuhi janji besar untuk memberikan manfaat bagi dunia."

Karena itu, Anthropic kini berupaya menunjukkan manfaat tersebut melalui pengembangan AI di bidang biologi dan kedokteran. Amodei mengatakan telah melihat "secercah awal" dari hasil yang berpotensi besar, tetapi menegaskan perusahaan tidak akan menjanjikan hasil sebelum bukti nyata tersedia.

Dia juga memilih tetap terbuka mengenai risiko AI. "Kejujuran adalah hal yang benar untuk dilakukan," katanya, seraya menilai keterbukaan mengenai risiko justru dapat membantu memulihkan kredibilitas perusahaan.

Baca Juga: Model AI OpenAI dan Anthropic Mulai Meretas Perusahaan Lain Tanpa Perintah Manusia, Siapa yang Harus

EDITOR: Candra Mega Sari