← Beranda
Intel Kembali Melirik Bisnis Memori, CEO Lip-Bu Tan Ungkap Arsitektur Baru untuk Era AI
Mellyna Putri DiniarSabtu, 15 Agustus 2026 | 02.57 WIB
CEO Intel Lip-Bu Tan (Tom's Hardware)

 

JawaPos.com - Intel kembali membuka kemungkinan masuk ke bisnis memori, sektor yang pernah menjadi bagian penting dari sejarah perusahaan sebelum ditinggalkan pada 1980-an. CEO Intel Lip-Bu Tan kini melihat perubahan besar di industri tersebut, ketika memori yang dahulu dipandang sebagai komoditas berubah menjadi komponen strategis di tengah lonjakan kebutuhan komputasi dan kecerdasan buatan (AI).

Tan mengatakan arsitektur memori baru menjadi salah satu proyek yang menarik perhatiannya. Dia bahkan mengisyaratkan pendekatan yang lebih radikal, yakni menempatkan memori di atas prosesor untuk memperpendek jarak antara komputasi dan penyimpanan data. Langkah tersebut berpotensi memperkuat posisi Intel dalam memperluas strategi perusahaan di luar bisnis prosesor dan manufaktur cip untuk pelanggan.

Dilansir dari Tom's Hardware, Jumat (14/8/2026), Tan mengakui pandangannya terhadap bisnis memori telah berubah. "Dulu saya berpikir, 'jangan berinvestasi di memori karena ini semacam bisnis komoditas', tetapi sekarang sudah berbeda," kata Tan. Dia menilai banyak teknologi baru bermunculan dan Intel mulai mengeksplorasi arsitektur memori generasi berikutnya.

Baca Juga: Era AI Datang, Keamanan Siber Jadi Fondasi Ekonomi Digital Indonesia

Tan menyebut pengangkatan Seok-Hee Lee, mantan pemimpin SK hynix, sebagai salah satu petunjuk arah pemikirannya.

"Jadi, kami sedang melihat salah satu proyek yang sangat saya minati, yaitu beberapa arsitektur memori baru. Saya rasa Anda baru saja melihat beritanya: saya merekrut teman baik saya, Seok-Hee Lee, yang sebelumnya memimpin SK hynix. Jadi, Anda bisa mengetahui apa yang sedang saya pikirkan. Kami belum siap mengungkapkannya," ujarnya.

Lee memang ditunjuk sebagai wakil presiden eksekutif Intel Foundry pada Juni dan bertanggung jawab atas pengemasan canggih, integrasi sistem, pengembangan teknologi serta manufaktur bagian belakang chip. Intel menyatakan keahliannya akan membantu menggabungkan logika, memori, jaringan, dan komponen lain dalam sistem komputasi berkinerja tinggi.

Lebih jauh, Tan mengisyaratkan bahwa integrasi fisik CPU dan memori dapat menjadi salah satu jalur inovasi. "Menurut saya, CPU dan memori memiliki banyak cara untuk benar-benar kita susun bersama," katanya. Dia menambahkan bahwa Intel juga mencari arsitektur memori baru karena masih terdapat ruang besar untuk inovasi.

Pernyataan itu sejalan dengan pembahasan Tan dalam laporan kinerja Intel sebelumnya. Saat ditanya mengenai peluang di bisnis memori, dia mengatakan memori kini menjadi kendala pasokan penting bagi infrastruktur AI.

"Kami juga melihat area lain tempat kami dapat mengintegrasikan komputasi dan memori, termasuk bagaimana melakukan stacking dan bagaimana menggunakan memori secara lebih efisien," ujarnya.

Namun, Tan belum memastikan apakah proyek tersebut berarti Intel akan kembali memproduksi memori secara langsung. Dia juga tidak menjelaskan apakah inisiatif itu sepenuhnya merupakan strategi Intel atau berkaitan dengan perusahaan yang menjadi investasinya. Karena itu, sinyal tersebut belum dapat dianggap sebagai keputusan resmi untuk membangun kembali bisnis memori.

Secara historis, Intel memang memulai kiprahnya pada 1968 sebagai perusahaan memori dan sempat menjadi pemain besar hingga perusahaan Jepang mengambil alih kepemimpinan pasar pada 1980-an. Intel kemudian keluar dari bisnis tersebut setelah mengalami kerugian besar. Upaya berikutnya melalui NAND dan Optane juga akhirnya dihentikan, termasuk penjualan bisnis NAND kepada SK hynix pada 2020.

Baca Juga: Nvidia Bahas Dukungan Rp 4.512 Triliun untuk OpenAI, Taruhan Infrastruktur AI Hadapi Gelombang Penolakan Pusat Data

Kini situasinya berbeda. Produsen DRAM dan 3D NAND menikmati profitabilitas tinggi, sementara kebutuhan memori untuk AI menjadikannya aset strategis. Meski demikian, kembali menjadi produsen memori bukan langkah ringan: Intel membutuhkan modal untuk membangun fasilitas produksi, riset dan pengembangan teknologi proses, serta waktu untuk mengejar pemain mapan. 

Di tengah upaya memperkuat Intel Foundry, Tan masih harus membuktikan bahwa perusahaan mampu menanggung investasi besar tersebut tanpa mengorbankan bisnis intinya.

EDITOR: Candra Mega Sari