← Beranda
Mengenal Fitur Agentic Trading, ChatGPT Kini Bisa Bantu Eksekusi Investasi
Nanda PrayogaSelasa, 4 Agustus 2026 | 19.47 WIB
Ilustrasi investasi dengan AI. (Pinterest)

JawaPos.com - Pluang memperkenalkan fitur terbaru bernama Pluang Agentic Trading, yang memungkinkan pengguna menghubungkan akun investasi mereka dengan asisten kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini.

Melalui fitur ini, pengguna dapat meminta AI menganalisis portofolio, melakukan riset pasar, hingga membantu mengeksekusi transaksi investasi menggunakan percakapan bahasa alami.

Hal ini menghadirkan integrasi langsung antara asisten AI dengan akun investasi ritel yang berada di bawah pengawasan regulator. Untuk tahap awal, fitur tersebut masih tersedia dalam versi beta dan hanya dapat diakses oleh kelompok pengguna yang telah masuk dalam daftar whitelist.

Baca Juga: Demam Matcha Dongkrak Ekspor Pangan Jepang ke Rekor Tertinggi, Tembus Rp 103,2 Triliun

Andreas Agung Hendrawan, Director of Marketing & Commercial Pluang, menjelaskan, bahwa selama ini, analisis investasi berkualitas lebih banyak dinikmati oleh mereka yang memiliki akses paling dekat dengan informasi, lembaga keuangan profesional, layanan riset berbayar, atau pelaku pasar di pusat-pusat keuangan dunia.

“Melalui Pluang Agentic Trading, kami membuka akses tersebut bagi semua orang. Investor di Jayapura maupun Jember kini dapat memperoleh kualitas analisis yang setara dengan investor di Jakarta, bahkan trader kelas dunia di Singapura maupun Hong Kong, sekaligus memiliki kemampuan untuk langsung bertindak berdasarkan analisis tersebut. Inilah wujud nyata misi Pluang dalam mendemokratisasi peluang membangun kekayaan sekaligus kontribusi kami terhadap upaya nasional meningkatkan literasi keuangan," ujar Andreas.

Fitur Agentic Trading dikembangkan sebagai evolusi dari Aura AI, layanan analisis berbasis AI milik Pluang yang telah lebih dulu hadir di dalam aplikasi. Kini, kemampuan AI tidak hanya terbatas pada memberikan analisis, tetapi juga dapat membantu proses transaksi setelah memperoleh persetujuan dari pengguna.

Melalui fitur ini, investor dapat meminta AI untuk memantau kondisi portofolio secara real-time, mengakses data pasar, merangkum laporan keuangan maupun prospektus, menguji strategi investasi menggunakan data historis (backtest), hingga menempatkan order beli dan jual pada berbagai instrumen investasi seperti saham Amerika Serikat, saham Indonesia, emas, aset kripto, dan Crypto Futures.

Pluang menilai fitur tersebut mampu menyederhanakan proses investasi yang selama ini mengharuskan pengguna berpindah-pindah antara berbagai sumber informasi dan aplikasi trading. Dengan Agentic Trading, proses riset, analisis, hingga eksekusi transaksi dapat dilakukan dalam satu percakapan dengan AI.

Model serupa sebelumnya telah diperkenalkan oleh sejumlah platform investasi global, seperti Robinhood, Interactive Brokers, dan TradeStation, kepada investor di Amerika Serikat pada awal 2026. Pluang menjadi perusahaan pertama yang menghadirkan konsep tersebut bagi investor ritel di Indonesia.

Meski memanfaatkan AI dalam proses investasi, Pluang menegaskan fitur ini bukan robot trading yang bekerja secara otomatis. Seluruh transaksi tetap berada di bawah kendali pengguna melalui mekanisme keamanan berlapis dengan prinsip AI mengusulkan, manusia memutuskan, dan platform mengeksekusi.

Setiap transaksi wajib memperoleh konfirmasi dari pengguna sebelum diproses. Selain itu, sistem juga menerapkan batas maksimum transaksi berdasarkan nilai order, batas harian, maupun kelas aset.

Untuk memperkuat keamanan, setiap transaksi menggunakan token sekali pakai (one-time token) yang memiliki masa berlaku terbatas, serta dilengkapi perlindungan terhadap potensi manipulasi prompt (prompt injection).

Pluang juga mengingatkan bahwa seluruh analisis yang diberikan berasal dari asisten AI yang dipilih pengguna, bukan dari Pluang. Karena itu, hasil analisis AI masih berpotensi mengandung kekeliruan, keterlambatan informasi, maupun estimasi yang bersifat probabilistik sehingga pengguna tetap disarankan melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Platform tersebut menyebut seluruh sistem Agentic Trading dirancang dengan mengedepankan persetujuan pengguna, keamanan pengelolaan data, kepatuhan terhadap regulasi, serta perlindungan pada akses akun dan pelaksanaan transaksi sesuai ketentuan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

"Tantangan terbesar bukan membuat AI dapat melakukan transaksi, melainkan membangun sistem pengaman yang mampu mencegah AI melakukan transaksi yang salah atau tidak mendapatkan otorisasi. Sistem perlindungan tersebut harus tertanam pada tingkat infrastruktur, bukan hanya bergantung pada algoritma model AI. Keamanan dana pengguna merupakan prioritas utama," ujar Claudia Kolonas, Co-Founder Pluang.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah