← Beranda
Tiga Dekade Setelahnya, Mantan Presiden Sega Ungkap Alasan Menyelamatkan Nvidia yang Nyaris Gagal
Mellyna Putri DiniarKamis, 23 Juli 2026 | 19.48 WIB
Mantan Presiden Sega Shoichiro Irimajiri mengatakan kejujuran Jensen Huang menjadi alasan utama menyelamatkan Nvidia pada pertengahan 1990-an (Inc)

 

JawaPos.com - Di balik kebangkitan Nvidia sebagai perusahaan semikonduktor paling bernilai di dunia, terdapat keputusan bisnis yang bertumpu bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada kepercayaan terhadap sosok pendirinya, Jensen Huang. 

Tiga dekade lalu, ketika teknologi grafis Nvidia justru dinilai gagal, mantan Presiden Sega, Shoichiro Irimajiri, tetap mengucurkan dana sekitar 5 juta dolar AS yang kini bernilai sekitar Rp89,55 miliar (dengan kurs Rp17.910 per dolar AS). 

Keputusan itu memberi waktu bagi Nvidia untuk bertahan dan membangun fondasi yang kemudian mengubah industri komputasi global. Kala itu, Nvidia masih merupakan perusahaan rintisan yang berjuang menemukan arah bisnis. Produk grafis yang tengah dikembangkan bersama Sega tidak memenuhi harapan. 

Baca Juga: AI Mulai Bertindak Sendiri, OpenAI Ungkap Insiden Peretasan Otonom yang Guncang Industri Teknologi

Alih-alih menutupi kegagalan tersebut, Huang justru menyampaikan kondisi sebenarnya kepada mitra bisnisnya dan meminta Sega menghentikan proyek sekaligus tetap memberikan dukungan pendanaan agar Nvidia memiliki kesempatan membangun teknologi baru.

Dilansir dari Inc, Rabu (22/7/2026), Irimajiri mengungkapkan bahwa keputusan menyetujui pendanaan tersebut bukan lagi didasarkan pada keyakinannya terhadap produk Nvidia, melainkan terhadap karakter Huang. "Jensen adalah sosok yang sangat langka di Silicon Valley pada era 1990-an. Dia benar-benar jujur, terus terang, tidak pernah main-main, dan tidak pernah menyampaikan sesuatu yang tidak dia yakini," ujar Irimajiri kepada Inc.

Menurut Irimajiri, Huang secara terbuka mengakui Nvidia telah memilih pendekatan teknis yang keliru. Dia meminta Sega membebaskan perusahaan dari proyek yang sedang berjalan, namun tetap memberikan sekitar 5 juta dolar AS agar Nvidia dapat bertahan.

Sega mengonfirmasi kepada Inc bahwa pendanaan itu disetujui pada pertengahan 1990-an, tepatnya sekitar 1995 atau 1996. Meski demikian, perusahaan sudah tidak memiliki catatan yang menjelaskan apakah dana tersebut diberikan sebagai pembayaran kontrak, investasi ekuitas, atau gabungan keduanya.

Alih-alih mengikis kepercayaan Sega, pengakuan tersebut justru memperkuat keyakinan Irimajiri terhadap Huang sebagai pemimpin perusahaan. "Bahkan hingga sekarang, saya masih mengingat dengan jelas rasa tenang yang selalu saya rasakan setiap kali berbicara dengannya," ujarnya. 

Menurut Irimajiri, kejujuran Huang menjadi alasan utama dia tetap memberikan kesempatan kepada Nvidia, meskipun teknologi yang tengah dikembangkan perusahaan saat itu dinilai telah menemui jalan buntu.

Selain integritas pribadi, Irimajiri juga melihat kemampuan teknis Huang sebagai modal yang sulit ditemukan. Mantan insinyur kedirgantaraan yang pernah mengembangkan mesin sepeda motor dan Formula One di Honda itu menilai Huang memiliki pemahaman yang sangat mendalam mengenai perangkat keras maupun perangkat lunak grafis komputer. Meski saat itu baru berusia awal 30-an, Huang juga dinilai memiliki "tingkat ambisi dan tekad sebagai wirausahawan yang luar biasa."

Atas dasar itu, Irimajiri mengaku enggan melihat Nvidia berakhir sebelum sempat mewujudkan potensinya. "Karena itulah saya merasa akan menjadi kerugian besar apabila Nvidia gagal ketika dipimpin oleh sosok seperti dirinya. Saya percaya perusahaan itu layak memperoleh kesempatan untuk terus mengejar visinya," ujarnya.

Dana talangan tersebut memberi Nvidia waktu sekitar enam bulan untuk meninggalkan arsitektur lama dan mengembangkan RIVA 128, cip grafis berbasis segitiga yang kemudian menjadi keberhasilan komersial besar pertama perusahaan. Produk itu menjadi titik balik yang membuka jalan bagi Nvidia hingga berkembang menjadi pemimpin global dalam sektor pemrosesan grafis, kecerdasan buatan (AI), dan komputasi berperforma tinggi.

Baca Juga: Nvidia Bernilai Hampir USD 4,8 Triliun, tetapi Tetap Menolak Budaya 'Makan Siang Gratis' ala Silicon Valley

Awal pekan ini, Huang kembali ke Tokyo untuk menemui Irimajiri dan mengucapkan terima kasih atas keputusan yang pernah menyelamatkan Nvidia dari kebangkrutan. Momen tersebut bertepatan dengan pengumuman Sega bahwa gim-gim mendatang akan mendukung komputer RTX Spark terbaru dari Nvidia. Pertemuan itu menjadi simbol bagaimana hubungan bisnis yang dibangun atas dasar kepercayaan mampu bertahan lintas dekade sekaligus membentuk arah industri teknologi global.

Mengenang keputusan tersebut, Irimajiri menegaskan tidak pernah menyesali pilihannya. "Saya bangga telah memutuskan menaruh kepercayaan kepada Jensen pada masa-masa yang sangat sulit itu," ujarnya. Dia menambahkan, pada saat itu Nvidia baru memiliki "potensi yang masih samar," tetapi menurutnya sosok Huang telah menunjukkan kualitas kepemimpinan yang layak diberi kesempatan kedua.

EDITOR: Candra Mega Sari