← Beranda
Telkomsat Jajaki Pemanfaatan Satelit VLEO untuk Perkuat Konektivitas Digital Indonesia
Nanda PrayogaSelasa, 14 Juli 2026 | 01.52 WIB
PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) mulai mengeksplorasi pemanfaatan teknologi satelit generasi baru untuk memperkuat layanan konektivitas di Indonesia. (Istimewa)

JawaPos.com - PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) mulai mengeksplorasi pemanfaatan teknologi satelit generasi baru untuk memperkuat layanan konektivitas di Indonesia.

Langkah ini mencakup pengembangan solusi berbasis satelit yang diharapkan mampu mendukung kebutuhan telekomunikasi nasional, termasuk di wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial.

Salah satu teknologi yang tengah dikaji adalah arsitektur Very Low Earth Orbit (VLEO) beserta layanan Direct-to-Device, yang dinilai berpotensi memperluas akses konektivitas di masa depan.

Pengembangannya dilakukan dengan memadukan kapabilitas jaringan berbasis antariksa dari Telkomsat dan perusahaan penyedia infrastruktur konektivitas antariksa, UNIVITY.

Dalam pengembangannya, kedua perusahaan juga menelaah pemanfaatan infrastruktur stasiun bumi di Indonesia yang nantinya dapat terintegrasi dengan konstelasi satelit VLEO.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapabilitas konektivitas satelit nasional sekaligus mendukung kemandirian infrastruktur digital Indonesia.

Selain itu, Telkomsat dan UNIVITY turut mengevaluasi konsep arsitektur hybrid multi-orbit yang menggabungkan jaringan satelit geostasioner milik Telkomsat dengan sistem VLEO yang sedang dikembangkan UNIVITY.

Integrasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan layanan konektivitas yang lebih aman, andal, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan nasional, termasuk untuk mendukung sektor publik serta aplikasi keamanan nasional.

Direktur Pengembangan Telkomsat, Anggoro K. Widiawan, mengungkapkan bahwa konektivitas satelit terus memainkan peran penting dalam mendukung ekosistem digital Indonesia, khususnya di wilayah terpencil dan tersebar secara geografis.

“Kami berharap dapat mengeksplorasi bagaimana arsitektur satelit yang berkembang dan kapabilitas jaringan nonterestrial pada masa mendatang dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan konektivitas yang terus berkembang di seluruh Indonesia,” kata Anggoro.

Sebagai operator satelit nasional, Telkomsat memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan layanan komunikasi satelit dan jaringan terestrial melalui dukungan aset satelit, infrastruktur stasiun bumi, kemampuan operasional, serta pemahaman terhadap regulasi telekomunikasi di Indonesia.

Sementara itu, Founder dan CEO Univity, Charles Delfieux, mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan salah satu pasar konektivitas paling dinamis di dunia, dengan peluang bagi konvergensi jaringan terestrial dan jaringan berbasis antariksa.

“Kami berharap dapat menjajaki bagaimana solusi konektivitas satelit masa depan dapat melengkapi infrastruktur yang telah tersedia serta mendukung berbagai penerapan baru seiring waktu,” ungkapnya.

Saat ini Univity mengembangkan infrastruktur antariksa bersama yang bersifat netral dan dirancang agar operator telekomunikasi tetap menjadi bagian utama dalam rantai nilai layanan konektivitas.

Perusahaan tersebut juga mengembangkan konstelasi satelit Very Low Earth Orbit yang memanfaatkan spektrum 5G milik operator telekomunikasi untuk menghadirkan konektivitas berkecepatan tinggi dengan latensi rendah sebagai pelengkap jaringan terestrial.

Melalui pengembangan teknologi tersebut, kolaborasi kedua perusahaan diharapkan dapat mendorong lahirnya ekosistem konektivitas hybrid multi-orbit sekaligus memperluas peluang pemanfaatan teknologi satelit generasi baru guna mendukung transformasi digital dan memperkuat kedaulatan konektivitas Indonesia.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra