← Beranda
Lulusan Bersertifikat AI Makin Diburu, 49 Persen Perusahaan Siap Naikkan Gaji Lebih dari 15 Persen
Nanda PrayogaKamis, 25 Juni 2026 | 23.34 WIB
Ilustrasi AI. (Pinterest)

JawaPos.com - Sertifikasi keterampilan atau micro-credentials semakin menjadi nilai jual penting bagi lulusan baru di pasar kerja Indonesia, terutama di bidang kecerdasan buatan generatif (Generative AI/GenAI). Bahkan, hampir separuh perusahaan di Indonesia mengaku bersedia memberikan gaji awal lebih tinggi kepada lulusan yang memiliki sertifikasi tersebut.

Temuan itu terungkap dalam Micro-Credentials Impact Report 2026 yang dirilis Coursera. Laporan tersebut menunjukkan 96 persen pemberi kerja di Indonesia bersedia menawarkan gaji awal lebih tinggi kepada lulusan yang memiliki micro-credentials. Khusus untuk sertifikasi di bidang GenAI, sebanyak 49 persen perusahaan menyatakan siap memberikan kenaikan gaji lebih dari 15 persen.

Laporan yang menghimpun pandangan lebih dari 3.500 pemberi kerja, mahasiswa, lulusan, dan pimpinan perguruan tinggi di tujuh negara, termasuk Indonesia, juga menemukan bahwa keterampilan yang dibuktikan melalui micro-credentials semakin diperhitungkan dalam proses perekrutan.

Baca Juga: Kemenkes Tegaskan Penyebaran Hasil Rekam Medis Pasien Demi Edukasi di Medsos Tak Diperbolehkan

Sebanyak 99 persen perusahaan di Indonesia mengaku telah merekrut sedikitnya tiga kandidat yang memiliki micro-credentials dalam satu tahun terakhir. Selain itu, 85 persen pemberi kerja menilai kandidat dengan sertifikasi tersebut dapat melewati proses rekrutmen lebih cepat dibandingkan kandidat lainnya.

Tak hanya berdampak pada proses perekrutan, keberadaan micro-credentials juga dinilai berkontribusi terhadap performa karyawan. Sebanyak 96 persen perusahaan menyatakan pegawai level pemula yang memiliki micro-credentials menunjukkan kinerja lebih baik pada tahun pertama bekerja.

“Seiring berkembangnya pemanfaatan AI di dunia kerja, kemampuan untuk menunjukkan keterampilan yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri menjadi semakin penting bagi para pencari kerja. Di Indonesia, micro-credentials tidak lagi sekadar menjadi nilai tambah, tetapi semakin menjadi indikator penting dari kesiapan kerja dan daya saing kandidat,” ujar Ashutosh Gupta, Managing Director, Asia Pacific, Coursera.

Menurut dia, terjadi keselarasan kepentingan antara dunia usaha, mahasiswa, dan institusi pendidikan tinggi dalam pengembangan micro-credentials.

Dijelaskannya, para mahasiswa menginginkan kredensial yang dapat diakui sebagai bagian dari program gelar, pemberi kerja bersedia memberikan kompensasi yang lebih tinggi bagi pemiliknya, dan perguruan tinggi memandangnya sebagai elemen penting untuk tetap relevan.

“Dengan mengintegrasikan micro-credentials yang diakui industri ke dalam jalur pendidikan formal, perguruan tinggi di Indonesia dapat membantu membangun talenta lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri dan mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045,” tambah Gupta.

Di sisi lain, laporan tersebut juga menunjukkan tingginya minat mahasiswa terhadap program pendidikan yang mengintegrasikan micro-credentials. Sebanyak 88 persen mahasiswa Indonesia lebih tertarik mengambil micro-credentials yang dapat dikonversi menjadi kredit akademik, jauh lebih tinggi dibandingkan yang tidak memperoleh pengakuan kredit.

Bahkan, 97 persen lulusan yang memiliki micro-credentials berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya dalam waktu 12 bulan setelah lulus. Temuan ini memperlihatkan semakin kuatnya hubungan antara sertifikasi keterampilan berbasis industri dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah, khususnya di era adopsi AI yang semakin masif.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah