JawaPos.com - Persaingan industri kecerdasan buatan (AI) dan perangkat wearable memasuki babak baru. Meta diketahui menguji teknologi pengenal wajah untuk kacamata pintarnya dengan menggandeng Rank One Computing, perusahaan biometrik yang selama ini menjadi pemasok bagi militer dan aparat penegak hukum Amerika Serikat. Langkah tersebut memperlihatkan semakin tipisnya batas antara teknologi pertahanan dan produk konsumen massal.
Temuan itu muncul di tengah perlombaan para raksasa teknologi, termasuk Meta, dalam menghadirkan perangkat AI yang dapat digunakan sehari-hari. Kacamata pintar dipandang sebagai gerbang berikutnya bagi interaksi manusia dengan AI, namun integrasi pengenal wajah memunculkan perdebatan baru mengenai privasi, pengawasan, dan keamanan data biometrik.
Dilansir dari WIRED, Selasa (16/6/2026), hubungan bisnis Meta dengan Rank One terungkap melalui dokumen lisensi perangkat lunak yang diperoleh media tersebut. Lisensi itu dikaitkan dengan versi uji aplikasi Meta AI yang menjadi pendamping kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley.
Baca Juga: Meta Tambah Fitur AI di Facebook, Pencarian Kini Bisa Rangkum Jawaban dari Grup dan Reels
WIRED menyebut, kerja sama itu menjadi bukti pertama yang diketahui publik mengenai hubungan kedua perusahaan. "Semakin banyak perusahaan yang sama, dan algoritma dasar yang sama, melayani kebutuhan pemerintah sekaligus pasar konsumen," tulis laporan tersebut.
Rank One bukan pemain baru di bidang biometrik. Sekitar 80 persen pendapatannya berasal dari klien pemerintah. Teknologinya digunakan oleh US Marshals Service untuk memverifikasi identitas tahanan tanpa sidik jari dan oleh Naval Criminal Investigative Service melalui sistem ROC Watch. Perusahaan itu juga mengembangkan teknologi pengenal wajah jarak jauh untuk US Special Operations Command yang diklaim mampu mengenali wajah dari jarak hingga satu kilometer.
Lisensi yang diperoleh Meta mencakup teknologi pengenal wajah sekaligus fitur liveness detection, yakni kemampuan membedakan manusia asli dengan foto atau topeng. Sistem tersebut mendukung hingga 10 juta template wajah. Kode yang ditelaah WIRED menunjukkan komponen Rank One sempat tertanam dalam aplikasi Meta AI yang telah diunduh lebih dari 50 juta perangkat, berdampingan dengan sistem pengenal wajah buatan Meta sendiri.
Meski demikian, Meta menegaskan teknologi tersebut tidak pernah diaktifkan untuk pengguna. Perusahaan bahkan menghapus seluruh komponen pengenal wajah dari aplikasi pada 5 Juni 2026, sehari setelah WIRED mengungkap keberadaan sistem internal bernama NameTag.
Meta juga menolak menjelaskan alasan penggunaan lisensi Rank One, kapan kerja sama dimulai, maupun apakah hubungan itu masih berlangsung. Rank One pun memilih tidak memberikan komentar.
Pengamat kebijakan teknologi sekaligus mantan pejabat Meta Reality Labs, Joseph Jerome, menilai perkembangan tersebut bukan hal yang mengejutkan. "Ada sejarah panjang teknologi militer yang kemudian menjadi produk konsumen. Internet sendiri merupakan salah satu contoh paling nyata dari proses tersebut," ujarnya.
Di sisi lain, teknologi Rank One juga menuai kritik. Pengujian oleh National Institute of Standards and Technology menunjukkan algoritma perusahaan menghasilkan tingkat kesalahan yang berbeda berdasarkan jenis kelamin dan negara kelahiran seseorang, yang digunakan sebagai indikator ras. Tingkat kesalahan cenderung lebih rendah pada individu kelahiran Eropa Timur dan lebih tinggi pada perempuan.
Direktur Privacy and Data Project di Center for Democracy and Technology, Eric Null, mengingatkan bahwa regulasi pengenal wajah di Amerika Serikat masih terbatas. "Perusahaan yang berhadapan langsung dengan konsumen jelas menginginkan akses terhadap teknologi pengenal wajah berkinerja tinggi. Tanpa pengawasan yang memadai, risiko teknologi ini menjadi produk konsumen umum sangat besar dan nyaris tak berbatas," katanya.
Kasus Meta dan Rank One menunjukkan bahwa perlombaan AI global kini tidak lagi sekadar tentang menghadirkan perangkat pintar, melainkan juga tentang siapa yang mampu mengendalikan teknologi biometrik paling canggih. Di saat batas antara inovasi, keamanan, dan privasi semakin kabur, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah teknologi itu dapat diwujudkan, melainkan bagaimana dunia akan mengaturnya.
Baca Juga: Manus Lepas dari Meta, Ambisi AI Tiongkok Tersandung Regulasi Beijing