JawaPos.com - Oracle mempercepat langkah agresifnya dalam perlombaan infrastruktur kecerdasan buatan global dengan komitmen investasi jumbo senilai 70 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.257 triliun (kurs Rp17.960 per dolar AS) untuk pembangunan pusat data dalam satu tahun ke depan.
Namun, di balik ekspansi ambisius tersebut, pasar justru membaca sinyal risiko yang meningkat. Lonjakan belanja modal di tengah proyeksi pertumbuhan pendapatan yang stagnan memunculkan kekhawatiran atas keberlanjutan struktur keuangan perusahaan dalam jangka menengah.
Dilansir dari Financial Times, Kamis (11/6/2026), Oracle menyampaikan bahwa belanja modalnya akan meningkat sekitar 25 persen menjadi 70 miliar dolar AS, naik dari 55,7 miliar dolar AS pada tahun fiskal yang berakhir 31 Mei. Perusahaan juga memperkirakan akan menghimpun sekitar 40 miliar dolar AS melalui kombinasi utang dan ekuitas dalam 12 bulan mendatang.
Baca Juga: Oracle Menjelma Jadi Mesin Infrastruktur AI Dunia, Larry Ellison Salip Bezos dan Brin
Meski belanja modal meningkat tajam, Oracle tetap mempertahankan proyeksi pendapatan tahun fiskal berikutnya di kisaran 90 miliar dolar AS, tidak berubah dari panduan sebelumnya pada Maret. Kondisi ini memperlihatkan bahwa laju investasi yang agresif belum diimbangi dengan percepatan prospek pendapatan, sehingga menimbulkan keraguan terhadap keseimbangan pertumbuhan jangka pendek perusahaan.
Ketidakseimbangan tersebut segera tercermin di pasar. Saham Oracle sempat terkoreksi hingga 8 persen dalam perdagangan setelah penutupan bursa, menandakan meningkatnya sensitivitas investor terhadap risiko pendanaan ekspansi besar-besaran di sektor infrastruktur kecerdasan buatan.
Di sisi operasional, co-CEO Oracle Clay Magouyrk menyebut perusahaan telah mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan kapasitas pusat data. Dia menegaskan bahwa Oracle telah menghadirkan 1,2 gigawatt kapasitas pada 2026 dan tengah mengerjakan sejumlah proyek besar, terutama yang terkait dengan OpenAI. Dia juga menyebut perusahaan telah membuat "kemajuan signifikan" pada berbagai proyek strategis tersebut.
Oracle sebelumnya diketahui menandatangani kontrak jangka panjang senilai sekitar 300 miliar dolar AS dengan OpenAI untuk penyediaan kapasitas pusat data bagi pengembang ChatGPT tersebut. Kesepakatan ini membuat Oracle harus menanggung beban awal pembangunan yang sangat besar, sekaligus meningkatkan kebutuhan pendanaan eksternal secara signifikan.
Meski tekanan biaya meningkat, kinerja pendapatan Oracle masih berada di atas ekspektasi pasar. Perusahaan mencatat pendapatan kuartal keempat sebesar 19,2 miliar dolar AS, sementara pendapatan tahunan mencapai 67,4 miliar dolar AS, keduanya melampaui proyeksi analis.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, Oracle juga meningkatkan penerbitan utang, termasuk penghimpunan 25 miliar dolar AS pada Februari. Strategi ini ditempuh untuk menjaga peringkat kredit investasi perusahaan, meskipun risiko peningkatan leverage terus membayangi.
Di sisi lain, Oracle melaporkan total kontrak masa depan atau remaining performance obligations mencapai 638 miliar dolar AS, serta sekitar 75 miliar dolar AS kontrak perangkat keras yang telah dibayar di muka oleh pelanggan, yang membantu meredam tekanan pembiayaan langsung.
Selain upaya penguatan arus kas tersebut, perusahaan juga melakukan pemangkasan lebih dari 30.000 posisi dalam beberapa bulan terakhir untuk menekan biaya sekaligus mengalihkan sumber daya ke investasi kecerdasan buatan.
Magouyrk menegaskan bahwa infrastruktur AI mengubah skala industri secara fundamental. Dia menyebut, "infrastruktur kecerdasan buatan membuat pasar infrastruktur cloud yang ada tampak kecil. Semua yang kami lihat menunjukkan bahwa ukuran pasar ini bernilai triliunan dolar per tahun."
Dengan skala investasi yang sangat besar, Oracle kini berada di pusat persaingan infrastruktur AI global, di mana kapasitas komputasi telah berubah menjadi aset strategis yang diperebutkan oleh para raksasa teknologi. Namun, di balik ekspansi ini, muncul pertanyaan mendasar apakah pasar masih mampu menyerap kebutuhan pendanaan sebesar itu tanpa menekan neraca dan meningkatkan risiko pembiayaan jangka panjang.
Baca Juga: Taruhan 300 Miliar Dolar Larry Ellison: Oracle Ikat Nasib pada OpenAI di Tengah Risiko Gelembung AI