← Beranda
Waspada! Serangan Phishing QR Code Meningkat 5 Kali Lipat, Kini Gunakan Kode QR Berbasis Teks
Dony Lesmana Eko PutraSabtu, 30 Mei 2026 | 03.36 WIB
Kaspersky mengungkap tren baru serangan phishing QR code. (Kaspersky)

JawaPos.com - Ancaman keamanan siber terus berkembang dengan berbagai modus baru yang semakin sulit dideteksi. Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah meningkatnya serangan phishing menggunakan QR code atau kode QR. 

Peneliti keamanan siber dari Kaspersky mengungkapkan bahwa pada paruh kedua tahun 2025 terjadi lonjakan hingga lima kali lipat dalam serangan phishing berbasis QR code dibandingkan periode sebelumnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, pelaku kini menggunakan teknik baru dengan membuat kode QR menggunakan karakter teks atau ASCII art, bukan dalam bentuk gambar seperti yang umum digunakan selama ini.

Metode tersebut memungkinkan kode QR berbahaya lolos dari berbagai sistem keamanan email yang mengandalkan pemindaian gambar maupun deteksi tautan.

Teknik ASCII sendiri sebenarnya bukan hal baru dalam dunia komputasi. Pada era komputer generasi awal, keterbatasan teknologi grafis membuat gambar ditampilkan menggunakan kombinasi karakter teks dari standar ASCII (American Standard Code for Information Interchange) yang diperkenalkan pada 1963. Teknik ini kemudian dikenal sebagai ASCII art.

Menurut Kaspersky, para pelaku kejahatan siber pernah memanfaatkan teknik serupa pada awal tahun 2000-an untuk menghindari sistem penyaring spam.

Kini, metode tersebut kembali digunakan untuk menyembunyikan kode QR yang mengarahkan korban ke situs phishing.

Dalam skenario serangan yang ditemukan, korban menerima email yang tampak berasal dari mitra bisnis terpercaya. Email tersebut biasanya menginformasikan adanya dokumen rahasia yang harus ditandatangani melalui layanan tanda tangan digital seperti DocuSign.

Korban kemudian diminta memindai kode QR yang disusun menggunakan karakter teks. Setelah dipindai, kode tersebut mengarahkan pengguna ke situs web palsu yang menyerupai halaman resmi dan meminta korban memasukkan kredensial perusahaan atau data login.

Karena kode QR tersebut tidak berbentuk gambar, banyak sistem keamanan email gagal mengenali adanya tautan berbahaya maupun aktivitas mencurigakan di dalam pesan.

Roman Dedenok, Anti-Spam Expert Kaspersky, menjelaskan bahwa teknik ini merupakan evolusi terbaru dari metode phishing yang selama ini digunakan pelaku kejahatan siber.

"Sebelumnya para pelaku phishing menyembunyikan URL berbahaya di dalam gambar untuk menghindari pemindaian tautan. Kini mereka mencoba menghindari pemindaian berbasis gambar dengan kembali menggunakan teks untuk menampilkan kode QR. Setiap kali kode QR meminta pengguna memasukkan kredensial perusahaan melalui perangkat seluler, hal tersebut harus menjadi tanda peringatan," ujarnya dalam pernyataan resminya, Jumat (29/5).

Menurutnya, penggunaan kode QR berbasis ASCII hampir selalu mengindikasikan upaya phishing atau pengalihan ke situs berbahaya. Tujuan utama teknik ini adalah untuk melewati teknologi keamanan yang selama ini digunakan perusahaan.

Cara Menghindari Phishing QR Code

Meningkatnya penggunaan QR code dalam aktivitas bisnis membuat pengguna perlu lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko menjadi korban phishing QR code:

  • Jangan langsung memindai kode QR yang dikirim melalui email tanpa melakukan verifikasi sumber pengirim.
  • Periksa kembali alamat email pengirim dan pastikan berasal dari domain resmi perusahaan.
  • Hindari memasukkan username, password, atau data sensitif setelah mengakses tautan dari kode QR yang tidak dikenal.
  • Gunakan autentikasi multifaktor (MFA) untuk menambah lapisan keamanan akun.
  • Pastikan perusahaan menggunakan solusi keamanan email yang mampu mendeteksi berbagai bentuk phishing modern.

Kaspersky juga merekomendasikan penggunaan sistem perlindungan email yang mampu mendeteksi spam, phishing, Business Email Compromise (BEC), serangan QR code, serta berbagai ancaman siber lainnya yang terus berkembang.

Dengan semakin canggihnya teknik yang digunakan pelaku kejahatan siber, kewaspadaan pengguna menjadi faktor penting dalam mencegah kebocoran data dan pencurian kredensial yang dapat merugikan individu maupun perusahaan.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra