← Beranda
Satya Nadella Rombak Elite Internal Microsoft demi Perang AI Global, Struktur Lama Disingkirkan
Mellyna Putri DiniarSelasa, 26 Mei 2026 | 03.52 WIB
CEO Microsoft Satya Nadella memimpin perombakan besar internal perusahaan untuk menghadapi persaingan AI yang semakin agresif (Business Insider)

JawaPos.com - Transformasi besar sedang berlangsung di tubuh Microsoft. Di tengah persaingan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin agresif, Chief Executive Officer (CEO) Microsoft Satya Nadella kini membongkar struktur kepemimpinan lama perusahaan demi menciptakan organisasi yang lebih cepat, ramping, dan berorientasi teknis untuk menghadapi era AI.

Perombakan internal ini menandai perubahan budaya terbesar di Microsoft sejak perusahaan tersebut beralih ke bisnis komputasi awan atau cloud. Dengan lebih dari 220.000 karyawan di seluruh dunia, Satya Nadella menilai model birokrasi lama tidak lagi cukup kompetitif untuk menghadapi perusahaan teknologi yang bergerak jauh lebih agresif dalam pengembangan AI generatif.

Dilansir dari Business Insider, Senin (25/5/2026), Satya Nadella secara diam-diam membubarkan struktur tradisional Senior Leadership Team (SLT) yang selama puluhan tahun menjadi pusat kekuasaan Microsoft.

"Kami menghentikan apa yang dikenal sebagai SLT," kata seorang sumber yang bekerja dekat dengan Nadella. Sebagai gantinya, Nadella membentuk tim yang lebih kecil dan datar untuk mendekatkan pengambilan keputusan ke pengembangan produk AI.

Baca Juga: Microsoft dan Anthropic Bahas Kesepakatan Cip AI Maia di Tengah Komitmen Investasi 5 Miliar Dolar AS

Perubahan tersebut dinilai sangat besar di internal Microsoft, terutama karena perusahaan itu selama bertahun-tahun dikenal memiliki budaya kerja yang stabil dan birokratis. Pendiri Amazon Jeff Bezos bahkan pernah menyindir Microsoft sebagai "klub eksklusif yang terlalu nyaman dan elitis, tanpa tekanan besar" bagi pegawai yang dapat menjalani karier hingga pensiun. 

Kini, Microsoft justru bergerak ke arah sebaliknya. "Kecepatan perubahan platform ini terjadi lebih cepat dibanding apa pun yang pernah kami lihat," ujar sumber dekat Satya Nadella.

Nadella mulai mendorong pola kerja yang lebih menyerupai startup teknologi dengan struktur yang lebih ringkas dan pengambilan keputusan yang lebih cepat. Tekanan investor juga meningkat setelah Microsoft menghadapi sorotan atas investasi AI bernilai ratusan miliar dolar AS yang kini dituntut segera menghasilkan pertumbuhan bisnis nyata.

Sebagai bagian dari reboot AI tersebut, Nadella menunjuk CEO baru untuk bisnis komersial Microsoft pada Oktober lalu agar dia dapat lebih fokus pada pekerjaan teknis. Kemudian, pada November, dia menunjuk penasihat AI baru untuk membantu merancang ulang model bisnis perusahaan. Bersamaan dengan itu, para eksekutif senior diminta memilih antara menerima budaya kerja baru yang lebih keras atau hengkang dari perusahaan.

Kini, Nadella memimpin kelompok baru bernama corporate leadership yang berisi Presiden Microsoft Brad Smith, Chief Financial Officer Amy Hood, Chief People Officer Amy Coleman, dan CEO bisnis komersial Judson Althoff. Dia juga membentuk kelompok engineering leadership berisi sekitar 35 pemimpin teknik dan produk yang bekerja dengan model menyerupai startup, yakni mempertemukan insinyur, peneliti, desainer, dan pengembang produk dalam koordinasi langsung tanpa rantai birokrasi panjang.

Pendekatan itu mulai diterapkan khusus pada pengembangan Copilot, asisten AI andalan Microsoft. Tim baru Copilot dipimpin oleh Charles Lamanna, Jacob Andreou, dan Ryan Roslansky yang bertemu langsung dengan Nadella setiap pekan. Sementara itu, nama lain seperti Pavan Davuluri dan Arun Ulag mulai muncul sebagai figur penting dalam lingkaran baru Nadella.

Di sisi lain, sejumlah tokoh lama mulai tersingkir atau dipersempit perannya. Pendiri bersama DeepMind sekaligus CEO Microsoft AI Mustafa Suleyman kini hanya memimpin sekitar 650 pegawai dan difokuskan pada pengembangan superintelligence. Veteran Microsoft Yusuf Mehdi mengumumkan hengkang, sementara pemimpin produk senior Rajesh Jha bersiap pensiun mulai Juli mendatang.

Perubahan paling mengejutkan terjadi di divisi gim. Microsoft menunjuk Asha Sharma sebagai CEO Microsoft Gaming menggantikan Phil Spencer meski Sharma relatif minim pengalaman di industri gim. Menurut sumber yang memahami strategi Nadella, keputusan itu menunjukkan kesediaan Microsoft mengangkat figur baru dari luar lingkaran veteran lama demi mempercepat modernisasi bisnis di era AI. 

Profesor Georgetown University Jason Schloetzer menilai langkah tersebut bertujuan memastikan "orang yang tepat mendapatkan informasi yang tepat pada waktu yang tepat," karena para eksekutif senior kini harus benar-benar memahami dinamika yang terjadi di level paling bawah perusahaan teknologi. Perubahan ini menegaskan bahwa dalam era AI, kecepatan membaca realitas organisasi kini lebih menentukan daripada panjangnya pengalaman.

Baca Juga: OpenAI Akhiri Kemitraan Eksklusivitas dengan Microsoft, Siap Buka Akses ke Amazon dan Google

EDITOR: Candra Mega Sari