JawaPos.com - Kebocoran data pribadi di era digital kini berkembang menjadi ancaman yang jauh lebih besar dibanding sekadar persoalan teknis belaka.
Di tengah semakin masifnya aktivitas digital masyarakat, data pribadi berubah menjadi aset bernilai tinggi yang diperebutkan pelaku kejahatan siber, kelompok kriminal, hingga aktor negara.
Fenomena itu terlihat dari meningkatnya intensitas serangan siber di Indonesia. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat jumlah serangan siber sepanjang 2025 mencapai 5,5 miliar serangan atau melonjak 714 persen dibanding rata-rata tahunan periode 2020–2024.
Tren tersebut masih berlanjut pada awal 2026 dengan 1,52 miliar serangan tercatat hanya dalam periode 1 Januari hingga 15 April.
Pakar Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha mengatakan, ketika hampir seluruh aktivitas manusia telah terdigitalisasi, data tidak lagi sekadar kumpulan informasi, tetapi telah menjadi instrumen ekonomi, politik, bahkan kekuasaan.
“Data berubah menjadi aset bernilai tinggi yang diperebutkan oleh berbagai aktor. Dalam konteks tersebut, kebocoran data bukan hanya persoalan hilangnya informasi, tetapi juga berkaitan dengan perebutan kekuasaan, keuntungan ekonomi, pengaruh politik, dan dominasi teknologi,” ujar Pratama kepada JawaPos.com.
Menurut Pratama, sebagian besar kebocoran data terjadi akibat lemahnya pengamanan sistem informasi, eksploitasi celah keamanan, pencurian kredensial, hingga kesalahan manusia.
Verizon Data Breach Investigations Report (DBIR) 2024 mencatat sekitar 68 persen insiden kebocoran data melibatkan unsur manusia non-malicious seperti salah klik tautan berbahaya, penggunaan password lemah, atau kelalaian pengguna.
Selain itu, serangan phishing masih menjadi modus paling efektif karena memanfaatkan psikologi korban. Pelaku biasanya menyamar sebagai institusi resmi untuk mencuri data login maupun informasi sensitif pengguna.
Kebocoran juga banyak terjadi akibat organisasi terlambat memperbarui sistem keamanan. Infrastruktur digital modern yang bergantung pada cloud, API, dan integrasi layanan pihak ketiga membuat permukaan serangan semakin luas.
“Infrastruktur digital modern sangat bergantung pada integrasi antarsistem, API, layanan pihak ketiga, dan penyimpanan berbasis cloud. Kompleksitas tersebut memperluas attack surface yang dapat dimanfaatkan pelaku,” kata Pratama.
Malware Kini makin Adaptif
Sementara itu, Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN Mayjen TNI Bondan Widiawan mengatakan sebagian besar serangan siber saat ini masih didominasi malware yang semakin sulit dikenali.
Menurut dia, pola serangan kini sudah berbasis perilaku atau behavior based attack sehingga sistem keamanan lama tidak lagi cukup efektif.
“Nggak mungkin bisa menangkap behavior-nya. Begitu malware teridentifikasi dia langsung berubah wajah. Melakukan mutasi-mutasi,” ujar Bondan dalam forum Shaping Secure Data Intelligence for Digital Resilience di Jakarta belum lama ini.
Siapa Pelaku Kebocoran Data?
Pelaku kebocoran data sangat beragam. Sebagian merupakan kelompok kriminal siber yang mengejar keuntungan ekonomi melalui penjualan data di dark web. Namun ada pula kelompok hacktivist, aktor negara, hingga insider threat atau orang dalam perusahaan.
Praktisi Digital Forensik PT Digital Forensic Indonesia (DFI), Ruby Alamsyah, mengatakan kebocoran data umumnya memiliki dua modus utama.
Pertama melalui ransomware, yakni pelaku meretas sistem perusahaan lalu meminta tebusan agar data tidak disebarluaskan.
“Kedua, pelaku memang mencari data-data yang bisa mereka retas untuk dijual di dark forum atau dark web,” kata Ruby terpisah.
Menurut Pratama, keuntungan dari kebocoran data sangat besar. Data pribadi seperti nomor telepon, email, NIK, biometrik, hingga histori transaksi memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat digunakan untuk berbagai tindak kejahatan digital.
“Dalam konteks kejahatan siber modern, data bahkan disebut sebagai ‘the new oil’ karena menjadi bahan bakar utama ekonomi digital,” tandas Pratama. (*)