← Beranda
PHK karena AI kian Marak: Kuncinya  Harus Adaptif agar Tak semakin Kalah
Rian AlfiantoSelasa, 12 Mei 2026 | 22.00 WIB
Ilustrasi AI melakukan pekerjaan administrasi yang sebelumnya biasa dikerjakan oleh manusia. (Pixabay)

 

 

JawaPos.com-Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada kenyataannya semakin mendisrupsi kehidupan manusia dalam banyak hal. Termasuk yang banyak ditakuti adalah peranannya yang menggantikan banyak bidang pekerjaan.

Ketakutan tersebut memang tidak sepenuhnya benar. Tapi realitanya, banyak PHK atau layoff saat ini tak sedikit disebabkan oleh proses otomasi sistem yang banyak dilakukan oleh berbagai industri, termasuk mengoptimalkan peranan AI.

Dalam risetnya, John Hopkins University bahkan memprediksi bahwa AI tidak hanya mengganti  beberapa bidang pekerjaan yang semula dikerjakan manusia. Lebih jauh, kemunculan teknologi AI yang masif dan cepat juga akan memunculkan bidang-bidang baru.

Beberapa sektor bahkan masuk kategori sangat rentan, dengan studi yang menunjukkan bahwa AI dapat berdampak pada lebih dari 300 juta pekerjaan penuh waktu, khususnya di bidang entri data, dukungan administratif, dan beberapa peran di bidang manufaktur.

Selain itu, menurut survei tahun 2026 oleh Express Tribune, dilaporkan kalau lebih dari 30 persen pekerja global khawatir AI akan menggantikan pekerjaan mereka. 

Sementara itu, CNN dalam laporannya menyebut,AI menjadi alasan utama perusahaan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja pada bulan April 2026 untuk bulan kedua berturut-turut.

“Kecemasan seputar AI di tempat kerja itu nyata, mulai dari ketakutan kehilangan pekerjaan hingga tekanan untuk mengikuti perkembangan teknologi yang pesat,” tulis Microsoft dalam sebuah laporan tentang bagaimana AI mengubah pekerjaan yang dirilis pekan lalu.

Namun, menurut para ahli, realitas AI di tempat kerja tidak sesederhana itu. Perusahaan menggunakan AI untuk mengotomatisasi bagian-bagian tertentu dari pekerjaan, bukan untuk menggantikan seluruh posisi.

Para pemimpin bisnis juga masih atau sedang mencari tahu apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh AI, menyesuaikan kembali pekerjaan yang ada di sekitar tanggung jawab yang hanya dapat dilakukan oleh manusia walaupun faktanya, banyak perusahaan khususnya perusahaan teknologi global telah banyak melakukan PHK massal dan beralih memaksimalkan teknologi AI.

Data dari laman Programs juga memaparkan demikian. Lebih dari 100.000 karyawan terkena dampak PHK yang didorong oleh AI pada tahun 2025 dan lebih dari 70.000 karyawan telah terkena dampak PHK yang didorong oleh AI pada awal tahun 2026.

Amazon, Google, Microsoft, Meta selaku induk utama Facebook termasuk dalam daftar konglomerat teknologi global yang banyak melakukan PHK yang salah satu faktor utamanya adalah mengejar efisiensi dengan lebih memilih AI.

 

Apakah AI Sanggup Menggantikan Manusia?

Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji mengamini ketakutan teknologi AI mungkin menggantikan peranan manusia dalam beberapa sektor pekerjaan. Keyakinan tersebut didasari pada saat ini, AI juga mendisrupsi sektor pendidikan.

Kehadiran teknologi AI saat ini sedikit banyak membuat siswa, peserta didik, jadi semakin bergantung pada kecepatan dan 'kenyamanan instan' menggunakan prompt AI untuk tugas-tugas sekolah dan kuliah mereka.

"Sepakat. Banyak pekerjaan akan digantikan oleh AI. Sekarang saja contohnya, tenaga admin, pekerjaan di bidang pembukaan, itu kan lebih murah pakai AI. Bahkan manufaktur pun saat ini lebih memilih AI," terang Indra dihubungi JawaPos.com.

Sebelumnya, dia juga menjelaskan kalau dampak AI telah terasa di bidang pendidikan dan bukan tidak mungkin, di sektor pekerjaan dan industri, AI juga akan membawa disrupsi.

"Dalam menyikapi perkembangan teknologi, intinya kita akan mendapatkan sesuatu, tapi juga akan kehilangan sesuatu. Dan kita harus siap," tegas Indra.

Senada, Sosiolog Pendidikan dari Universitas Airlangga Tuti Budirahayu turut mengamini bahwa AI akan mengambil peranan manusia dalam banyak bidang pekerjaan. 

"Mungkin iya. Beberapa kan sudah kita lihat (AI mengerjakan tugas manusia). Terutama banyak sektor yang berbasis pada teknologi itu mengandalkan AI dan kita harus siap. Anak-anak yang saat ini sedang studi ya mau tidak mau harus menguasai," terang Tuti.

Meski demikian, tak menutup kemungkinan generasi saat ini tetap kompetitif pada masing-masing keilmuannya. Sektor pendidikan menurutnya menjadi organisasi yang penting untuk membekali generasi mendatang agar tidak kalah dengan AI. 

Baca Juga: Pelajar di Indonesia mulai Ketergantungan AI: Pakar Pendidikan Sebut Punya Dua Sisi yang Harus Disikapi Hati-hati

Baca Juga: Ekonomi Digital RI Diprediksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Ancaman Siber dan Penipuan AI Ikut Meledak

"AI di dasarkan pada pengetahuan. Kecerdasan itu kan datang karena akumulasi inteligensi yang dikembangkan para ilmuwan. Kita menjadi bagian dari situ (pendidikan). Saya sebagai ilmuwan sosial contohnya, berperan sebagai pencaga moral," tandasnya. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan