JawaPos.com - Sebuah tim ilmuwan komputer yang dipimpin oleh University of Colorado Boulder telah mengembangkan platform kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) baru yang secara otomatis mampu mencari dan mendeteksi jurnal ilmiah yang "diragukan".
Studi yang diterbitkan 27 Agustus 2025 di jurnal Science Advances ini membahas tren yang mengkhawatirkan di dunia penelitian. Yakni, fenomena jurnal predator.
Dikutip dari Neuroscience News, Daniel Acuña, penulis utama studi ini sekaligus profesor madya di Departemen Ilmu Komputer, kerap mendapatkan pesan-pesan spam di email dari orang-orang yang mengaku sebagai editor di jurnal ilmiah
Biasanya jurnal yang belum pernah didengar Acuña dan menawarkan untuk menerbitkan makalahnya dengan bayaran yang sangat tinggi.
Publikasi semacam itu terkadang disebut sebagai jurnal "predator". Mereka menargetkan para ilmuwan, lalu meyakinkan mereka untuk membayar ratusan atau bahkan ribuan dolar untuk menerbitkan penelitian mereka tanpa pemeriksaan yang tepat.
’’Ada upaya yang semakin meningkat di antara para ilmuwan dan organisasi untuk memeriksa jurnal-jurnal ini,” kata Acuña.
’’Tapi, ini seperti "whack-a-mole". Anda menangkap satu, lalu muncul yang lain, biasanya dari perusahaan yang sama. Mereka hanya membuat situs web baru dan muncul dengan nama baru,” imbuh Acuña.
Adapun alat AI baru buatannya bersama tim tersebut secara otomatis menyaring jurnal ilmiah, mengevaluasi situs web, dan data daring lainnya berdasarkan kriteria tertentu.
Apakah jurnal tersebut memiliki dewan redaksi yang terdiri atas para peneliti mapan? Apakah situs web mereka banyak mengandung kesalahan tata bahasa?
Acuña menekankan, bahwa alat ini tidak sempurna. Pada akhirnya, ia berpendapat, bahwa para ahli manusia, bukan mesin AI, yang seharusnya membuat keputusan akhir tentang reputasi sebuah jurnal.
Namun, di era ketika tokoh-tokoh terkemuka mempertanyakan legitimasi sains, menghentikan penyebaran publikasi yang dipertanyakan menjadi lebih penting dari sebelumnya.
’’Dalam sains, Anda tidak memulai dari awal. Anda membangun di atas penelitian orang lain. Jadi, jika fondasi menara itu runtuh, maka semuanya runtuh,” kata Acuña.
Praktik Pemerasan
Ketika para ilmuwan mengirimkan studi terbarunya ke sebuah publikasi terkemuka, studi tersebut biasanya menjalani praktik yang disebut tinjauan sejawat (peer review).
Para ahli dari luar membaca studi tersebut dan mengevaluasi kualitasnya. Sayangnya, tak sedikit ilmuwan berusaha menghindari proses tersebut.
Akibatnya, semakin banyak perusahaan yang berupaya menawarkan solusi demi meraih keuntungan. Pada tahun 2009, Jeffrey Beall, seorang pustakawan di CU Denver, menciptakan istilah jurnal "predator" untuk menggambarkan publikasi dengan peer review abal-abal.
Sering kali, mereka menargetkan peneliti di luar Amerika Serikat dan Eropa, seperti di Tiongkok, India, dan Iran, negara-negara di mana lembaga ilmiahnya mungkin masih baru, dan tekanan serta insentif bagi peneliti untuk mempublikasikannya tinggi.
’’Mereka akan berkata, 'Jika Anda membayar USD500 atau USD1.000, kami akan meninjau makalah Anda’. Pada kenyataannya, mereka tidak menyediakan layanan apa pun. Mereka hanya mengambil PDF dan mengunggahnya di situs web mereka,” kata Acuña.
Beberapa kelompok telah berupaya untuk mengekang praktik ini. Di antaranya adalah organisasi nirlaba bernama Directory of Open Access Journals (DOAJ).
Sejak tahun 2003, para relawan di DOAJ telah menandai ribuan jurnal mencurigakan berdasarkan enam kriteria. Publikasi bereputasi baik, misalnya, cenderung mencantumkan deskripsi detail tentang kebijakan tinjauan sejawat mereka di situs web mereka.
Namun, mengimbangi penyebaran publikasi tersebut cukup menantang bagi manusia. Untuk mempercepat proses ini, Acuña dan rekan-rekannya beralih ke AI.
Tim melatih sistemnya menggunakan data DOAJ, lalu meminta AI untuk menyaring daftar hampir 15.200 jurnal akses terbuka di internet.
Di antara jurnal-jurnal tersebut, AI awalnya menandai lebih dari 1.400 jurnal sebagai jurnal yang berpotensi bermasalah.
Acuña dan rekan-rekannya pun meminta para ahli manusia untuk meninjau sebagian jurnal yang mencurigakan tersebut.
Hasilnya, AI melakukan kesalahan. Menurut para ahli, sekitar 350 publikasi yang disebut AI meragukan, ternyata kemungkinan besar valid.
Namun, masih tersisa lebih dari 1.000 jurnal yang diidentifikasi oleh para peneliti memang meragukan. ’’Saya pikir ini seharusnya digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan penyaringan awal terhadap sejumlah besar jurnal. Tetapi, para profesional manusialah yang harus melakukan analisis akhir,” ujarnya.
Firewall untuk Sains
Acuña menambahkan, bahwa para peneliti tidak ingin sistem mereka menjadi "black box" seperti beberapa platform AI lainnya.
’’Dengan ChatGPT, misalnya, Anda sering kali tidak mengerti mengapa ia menyarankan sesuatu. Kami berusaha membuat sistem kami interpretable (bisa ditafsirkan),” kata Acuña.
Tim menemukan, misalnya, bahwa jurnal-jurnal yang dipertanyakan menerbitkan jumlah artikel yang luar biasa tinggi.
Jurnal-jurnal tersebut juga mencakup penulis dengan jumlah afiliasi yang lebih banyak daripada jurnal yang lebih sah, dan penulis yang mengutip penelitian mereka sendiri, alih-alih penelitian ilmuwan lain, pada tingkat yang luar biasa tinggi.
Sistem AI baru ini belum dapat diakses publik, tetapi para peneliti berharap dapat segera menyediakannya untuk universitas dan perusahaan penerbitan.
Acuña memandang alat ini sebagai salah satu cara bagi para peneliti untuk melindungi bidang mereka dari data yang buruk. Ia menyebutnya sebagai "firewall untuk sains."
’’Sebagai ilmuwan komputer, saya sering memberi contoh ketika ponsel pintar baru dirilis. Kami tahu perangkat lunak ponsel akan memiliki kekurangan, dan kami berharap perbaikan bug akan segera hadir. Kami mungkin harus melakukan hal yang sama dengan sains,” katanya. (*)