JawaPos.com - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyebut penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Timur telah mencapai sekitar Rp 37 triliun hingga Selasa (22/9).
Penyaluran tersebut telah menjangkau sekitar 643 ribu debitur yang merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Timur.
Maman menyampaikan data tersebut saat menghadiri kegiatan Bursa Wirausaha Unggulan, serta akad masal Kredit Usaha Rakyat (KUR) Jawa Timur 2026 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Rabu (23/9).
Dia menegaskan bahwa akad KUR yang dilakukan dalam kegiatan tersebut hanya merupakan simbolisasi dari penyaluran yang telah berjalan.
“Akad KUR yang di depan itu tadi simbolisasi. Kita hanya ingin mengundang beberapa, tadi di depan itu paling cuma 10, tapi untuk 20 orang,” kata Maman.
Baca Juga: Maman Ungkap Masalah Terbesar UMKM Saat Ini: Bukan Modal, tapi Pasar
Menurutnya, secara keseluruhan penyaluran KUR di Jawa Timur telah mencapai sekitar Rp37 triliun dengan jumlah debitur kurang lebih 643 ribu UMKM.
“Total penyaluran KUR di Jawa Timur itu sampai kemarin, itu Rp37 triliun dengan jumlah debitur 643.000 usaha mikro, kecil, dan menengah,” ujarnya.
Dari total penyaluran tersebut, sekitar Rp 23 triliun telah dialokasikan ke sektor produksi. Hal ini menunjukkan sebagian besar pembiayaan KUR juga diarahkan untuk mendukung kegiatan usaha produktif di Jawa Timur.
Maman mengatakan dukungan pembiayaan merupakan salah satu bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat UMKM.
Namun, menurutnya, akses permodalan perlu diikuti dengan dukungan lain, terutama terkait perizinan, sertifikasi, pembinaan, hingga akses pasar.
Dia sebelumnya menyebut terdapat tiga persoalan utama yang banyak dihadapi pelaku UMKM, yakni perizinan dan sertifikasi, permodalan, serta pasar.
“Yang pertama itu salah satunya pasti perizinan, sertifikasi. Yang kedua, permodalan. Dan yang ketiga, yang menurut saya yang paling penting hari ini, itu adalah pasar,” kata Maman.
Karena itu, pemerintah juga mendorong penguatan ekosistem UMKM melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta lembaga inkubator.
Pembinaan tersebut diharapkan dapat membuat pelaku UMKM tidak hanya memperoleh pembiayaan, tetapi juga mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
"Makanya kami bersama-sama kampus kami hidupkan inkubator dan mudah-mudahan dari kebijakan ini lahir usaha-usaha mikro, kecil, dan menengah yang berkualitas yang bagus untuk bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri kita," tandas Maman.