JawaPos.com - Pemicu munculnya gumpalan busa tebal disertai banyak ikan mati di Kali Surabaya pada Minggu (6/9) terungkap.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur Nurkholis mengungkap penyebab munculnya busa itu karena tercemarnya badan air berkaitan dengan kebakaran gudang milik PT Wings Surya.
Kepastian itu diperoleh setelah tim gabungan menelusuri dampak kebakaran terhadap kualitas air di Kali Tengah hingga Kali Surabaya. Tim gabungan diterjunkan untuk meninjau kondisi sungai setelah kebakaran.
"Dalam koordinasi penanganan, PT Wings Surya menyatakan kesediaannya mendukung pemulihan Kali Surabaya," ujar Nurkholis, Rabu (9/9).
Berdasarkan hasil koordinasi, PT Wings Surya akan menggandeng konsorsium lingkungan hidup untuk membersihkan bangkai ikan membusuk di sepanjang sungai. Area penanganan difokuskan dari muara Kali Tengah hingga Pintu Air Jagir, Surabaya.
Perusahaan itu tidak hanya membersihkan limbah dan bangkai ikan, tapi juga diwajibkan memulihkan ekosistem secara berkala. Salah satu poin utama adalah melepas bibit ikan jenis endemik Kali Surabaya untuk mengembalikan populasi hayati terdampak.
"PT Wings Surya juga berkomitmen berkoordinasi dengan PJT I, PDAM Kota Surabaya, DLH Provinsi Jawa Timur, dan DLH Kabupaten Gresik untuk membahas langkah pemulihan kualitas air Kali Surabaya paling lambat Kamis besok," kata Nurkholis.
Untuk memastikan komitmen ini berjalan, PT Wings Surya wajib menyerahkan laporan perkembangan pemulihan tiap minggu kepada DLH Kabupaten Gresik. Laporan juga tembusan ke DLH Jatim, DLH Kota Surabaya, PJT I, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
Selain itu, DLH Kabupaten Gresik dijadwalkan mengawasi langsung kepatuhan lingkungan perusahaan pada pekan kedua September 2026. Ini tindak lanjut verifikasi lapangan serta memastikan perusahaan memenuhi kewajiban hukum lingkungan hidup.
“Pengawasan tersebut dilakukan sebagai bagian tindak lanjut hasil verifikasi lapangan dan memastikan pemenuhan kewajiban perusahaan dalam pengelolaan serta perlindungan lingkungan hidup,” katanya.
DLH Jatim masih menunggu hasil pengujian laboratorium untuk memperkuat analisis kualitas air serta dampak pada ekosistem Kali Tengah dan Kali Surabaya. Hasil laboratorium diharapkan memberi data lebih jelas mengenai kondisi air.
Nurkholis menegaskan pemerintah dan instansi terkait terus melakukan pemantauan agar penanganan tidak hanya berhenti pada kesimpulan awal. Penanganan bisa dilanjutkan dengan langkah pemulihan yang terukur.
"Hasil pengujian laboratorium akan digunakan memperkuat analisis kualitas air, dampak terhadap ekosistem, serta menentukan langkah penanganan dan pemulihan berikutnya," ucapnya.
Tagging: Berbusa, Kali Surabaya, Ikan Mati