JawaPos.com - Ecoton melakukan uji kualitas air di Sungai Jagir setelah banyak busa memenuhi Bendungan Rolak Gunungsari.
Menurut pernyataan dari Perum Jasa Tirta (PJT), busa ini berasal dari sisa proses pemadaman kebakaran PT Wings di Driyorejo, Gresik. Akibat kejadian itu, ikan mati massal dan masyarakat mengeluhkan air keruh dan berbusa.
Koordinator ronda sungai Ecoton 2026, Jofanny Ahmad Arianto, mengatakan Ecoton ukur kualitas air di Pintu Air Jagir dan depan Stikosa AWS. "Hasil pengukuran menunjukkan adanya parameter yang tidak memenuhi baku mutu air Kelas II berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VI," kata Jofanny, Selasa (8/9).
Ecoton mengimbau masyarakat agar tidak menangkap, menjual, atau mengonsumsi ikan mati atau dalam kondisi mabuk/munggut dari Sungai Jagir. “Kami khawatir jika polutan atau racun kimia lain masuk ke tubuh ikan. Jika dikonsumsi manusia, racun dapat berpindah dan masuk ke tubuh manusia, hingga akhirnya kita sendiri yang rugi,” ungkap Jofanny.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak jadikan ikan yang ditemukan mati atau mabuk sebagai bahan pangan sampai ada hasil pemeriksaan resmi tentang penyebab dan keamanan ikan.
Tim koordinator Ecoton lain, Alaika Rahmatullah, menjelaskan air di Jagir Wonokromo mengandung fosfat tinggi sampai 0,6 mg/L, sekitar 3 kali lipat dari ambang 0,2 mg/L.
Sedangkan di depan Stikosa AWS, konsentrasi fosfat mencapai 1,2 mg/L, enam kali lipat dari baku mutu.
"Tingginya fosfat bisa jadi tanda beban nutrien masuk badan air. Jika berlebihan, nutrien ini bisa memicu pertumbuhan alga dan eutrofikasi, yang menurunkan oksigen terlarut," ujarnya.
Alaika menerangkan saat musim kemarau, debit air sungai menurun drastis dan konsentrasi limbah industri dan domestik meningkat tajam.
Baca Juga: 1.845 Warga Surabaya Turun Desil Usai Verifikasi Dinsos
"Kondisi ini merusak kualitas air dan menyebabkan ikan mengapung ke permukaan karena kekurangan oksigen hingga mati massal, dari uji awal, Ecoton tidak menyimpulkan fosfat penyebab tunggal kematian ikan,'' terangnya. Dia menambahkan, pemeriksaan parameter lain yang lebih lengkap perlu dilakukan untuk tahu penyebab pasti kematian ikan. (*)