JawaPos.com - Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, meminta proses penyediaan Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah dievaluasi secara menyeluruh.
Permintaan itu disampaikan setelah ratusan santri diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG.
Koordinator Bidang Humas Ponpes Manbaul Hikam Bahron Nafi’ mengatakan, evaluasi tidak cukup hanya dilakukan terhadap hasil akhir makanan yang dibagikan kepada para santri.
Menurutnya, seluruh tahapan perlu diperiksa, mulai dari pengadaan bahan baku, proses memasak hingga distribusi makanan.
Baca Juga: Karhutla Gunung Semeru Hanguskan 600 Hektare, BPBD Jatim Kerahkan Heli Water Bombing
“Pelayanan kelanjutannya itu harus dievaluasi, dilihat, dikontrol. Mulai dari cara masak, pengadaan bahan,” kata Bahron saat ditemui di ponpes, Rabu (2/9).
Bahron menegaskan, pihak pesantren tetap mendukung program pemerintah, termasuk MBG. Namun, insiden tersebut menjadi catatan penting agar kualitas pelayanan dan keamanan makanan yang diterima para santri semakin diperhatikan.
Dia menyebut, secara administrasi SPPG Kalitengah memang telah memenuhi persyaratan. Kendati demikian, pemenuhan syarat administratif dinilai perlu diikuti dengan pengawasan terhadap pelaksanaan di lapangan.
“Harapannya pascakejadian ini pelayanan SPPG lebih baik lagi,” ujarnya.
Setiap hari, Ponpes Manbaul Hikam menerima sekitar 1.000 porsi MBG yang diperuntukkan bagi santri tingkat SMP dan SMA. Dari jumlah tersebut, sekitar 450 santri disebut mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan.
Sementara itu, pihak pesantren masih melakukan pemantauan terhadap santri lain yang belum menunjukkan gejala. Pengawasan dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi adanya tambahan santri yang mengalami keluhan.
“(Santri lain) kita masih lihat kondisi. Tiap 15 menit kontrol keliling pesantren juga. Harapannya tidak nambah lagi,” tutur Bahron.
Pesantren juga menyiapkan langkah alternatif untuk membantu menjaga kondisi santri, salah satunya dengan memberikan air kelapa hijau.
Baca Juga: BGN Kawal Penanganan 80 Siswa yang Masih Dirawat Imbas Keracunan MBG di Sidoarjo
Tak hanya penanganan kesehatan, aktivitas belajar mengajar dan mengaji di lingkungan pesantren juga dihentikan sementara. Kebijakan tersebut diberlakukan agar para santri dapat beristirahat hingga kondisinya benar-benar pulih.
Bahron mengatakan, santri yang telah mendapat izin dari tenaga kesehatan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Pihak pesantren memberikan dispensasi selama masa pemulihan.
“Yang penting kalau sudah sehat bisa kembali lagi. Harapannya mungkin satu minggu ke depan sudah selesai,” katanya.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat jumlah korban dugaan keracunan mencapai 566 orang hingga pukul 11.45 WIB. Dari jumlah tersebut, sebanyak 123 orang masih menjalani perawatan medis.