JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Sidoarjo, setelah ratusan siswa mengalami keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan, penghentian operasional dilakukan sejak Selasa (1/9) malam.
Surat suspend terhadap dapur tersebut kemudian diterbitkan pada Rabu (2/9).
Baca Juga: Lihat HP, Puryani Meluncur ke Pondok Manbaul Hikam Cari Anaknya yang Diduga Keracunan MBG
“Awalnya di malam hari itu sudah kita hentikan, tapi per tadi pagi sudah ada surat suspend untuk dapur ini,” kata Teguh usai meninjau SPPG Kalitengah.
Menurut dia, tim dari BGN Provinsi Jawa Timur bersama Koordinator Wilayah (Korwil) Sidoarjo telah turun ke lokasi untuk melakukan investigasi awal. Hasilnya kemudian dilaporkan kepada pimpinan BGN di tingkat pusat.
Hari ini, tim pusat BGN juga dijadwalkan datang ke Sidoarjo untuk melakukan investigasi lanjutan. Pemeriksaan tersebut akan menentukan apakah sanksi suspend terhadap SPPG bersifat ringan atau berat.
“Untuk tim pusat pun akan datang di hari ini juga untuk investigasi lebih lanjut, apakah suspend ini ringan atau berat,” ujarnya.
Baca Juga: Hamas Minta Dewan Perdamaian Hentikan Serangan Israel ke Gaza
Teguh memastikan SPPG Kalitengah saat ini tidak beroperasi. Namun, dia belum dapat memastikan sampai kapan penghentian tersebut diberlakukan karena masih menunggu hasil investigasi dari tim pusat.
“Ya, sudah tidak beroperasi untuk saat ini,” tegasnya.
Terkait penyebab dugaan keracunan, Teguh mengatakan BGN masih melakukan pemeriksaan dan evaluasi. Dia belum dapat memastikan bahan makanan mana yang menjadi sumber masalah.
Menu MBG yang dibagikan kepada para santri pada Selasa (1/9) terdiri dari nasi, telur orak-arik bumbu bali, tumis sayur buncis, dan tempe bumbu bali.
“Kami masih investigasi dan evaluasi,” jelas Teguh.
Dia juga membantah informasi yang beredar di media sosial terkait adanya belatung dalam makanan MBG yang dikonsumsi para santri.
“Itu tidak ada. Tidak benar. Tidak benar yang itu,” katanya.
Baca Juga: 35 Santri Keracunan MBG Masih Dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo
SPPG tersebut diketahui telah menyuplai makanan ke Ponpes Manbaul Hikam sejak April 2026. Selain pesantren, dapur tersebut juga memasok MBG untuk sejumlah sekolah.
“Sudah dari April 2026. Ini Kepala SPPG-nya juga di sini,” ungkap Teguh.
Total terdapat 19 sekolah yang menerima pasokan dari SPPG tersebut. Di lingkungan Ponpes Manbaul Hikam sendiri terdapat dua sekolah, sedangkan penerima lainnya merupakan sekolah swasta, termasuk jenjang taman kanak-kanak (TK).
Untuk Ponpes Manbaul Hikam, SPPG tersebut memasok sekitar 1.000 porsi MBG setiap hari. Sementara total produksi dari dapur mencapai sekitar 2.800 porsi per hari.
Baca Juga: Dampak Ekonomi Karhutla 2026 Bisa Mencapai Rp 123 Triliun!
Teguh menambahkan, BGN juga akan mengevaluasi aspek perizinan dan kelayakan dapur. Salah satunya terkait Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Kami akan koordinasi pasti dengan Forkopimda Sidoarjo. Alhamdulillah Forkopimda Sidoarjo sangat luar biasa tanggapnya, responsnya dengan kami, kami dibantu terus,” tuturnya.
Dia mengatakan proses pengurusan SLHS bagi dapur yang belum memilikinya akan dipercepat dengan bantuan Pemkab Sidoarjo.
Selain evaluasi terhadap SPPG Kalitengah, BGN memastikan pengawasan terhadap dapur penyedia MBG akan diperketat.
“Pastinya akan lebih ketat. Kami dan pimpinan akan mengevaluasi kembali dari pusat,” pungkasnya.