JawaPos.com - Di tengah ketidakpastian global dan lesunya ekonomi dunia, realisasi investasi di Provinsi Jawa Timur justru mencapai Rp 498,79 triliun pada awal tahun 2026, tumbuh 7,22 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Timur, Saiful Islam, mengatakan lonjakan investasi ini mempertegas posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat industrialisasi nasional.
"Kami mencatat realisasi investasi di Jawa Timur pada Q1 2026 (Januari - Maret 2026) tumbuh sebesar 7,22 persen secara year on year," tuturnya dalam acara Media Briefing di kantor OJK Surabaya, Selasa (23/6).
Hingga Mei 2026, Saiful menyebut sektor industri logam dasar menjadi penyumbang terbesar dalam realisasi investasi di Jatim. Nilainya mencapai Rp 69,3 triliun atau sekitar 13,9 persen dari total realisasi.
"Dominasi absolut sektor logam dasar menegaskan posisi Jawa Timur sebagai magnet utama industrialisasi strategis, dengan bersinergi langsung terhadap kebutuhan bahan baku," imbuhnya.
Kinerja investasi yang kuat tidak lepas dari tingginya aktivitas industri. Impor Jawa Timur selama Januari-April 2026 tercatat mencapai USD 10,39 Miliar. Angka ini setara Rp 186,24 triliun dengan kurs Rp 17.924 per USD.
Realisasi ekspor di Jawa Timur pada awal tahun 2026 pun cukup tinggi, yakni menyentuh USD 8,52 miliar. Jika dirupiahkan berdasarkan kurs Rp 17.924 per USD, maka setara dengan Rp 152,72 triliun.
Saiful menjelaskan dari angka tersebut, sebanyak 94,32 persen nilai ekspor di Jawa Timur berasal dari industri pengolahan. Sementara nilai impor Jatim didominasi dari industri bahan baku, yakni 79,40 persen.
"Artinya kapasitas produksi daerah terus meningkat, bukan konsumtif. Tingginya impor yang didominasi bahan baku itu secara langsung menjadi mesin pencetak rekor ekspor industri pengolahan," terang Saiful.
Secara keseluruhan, Saiful menilai ekonomi di Provinsi Jawa Timur tidak hanya tumbuh, tetapi juga menunjukkan daya tahan tinggi menghadapi ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.
"Defisit perdagangan yang dipicu impor bahan baku, dipadukan dengan lonjakan investasi sektor logam dasar, membuktikan bahwa Jawa Timur sedang memperkuat kapasitas pabrikasinya secara masif," pungkasnya.