← Beranda
Dua Desainer FPPI Kenalkan Wastra Nusantara ke Panggung Dunia
Dian Wahyu PratamaSenin, 18 Mei 2026 | 00.00 WIB
Desainer Era Krisna (kiri), Bendahara Umum DPP FPPI Yuli Andriyani (dua dari kiri) bersama istri Kedubes RI Untuk Australia Ibu DR. Siswo Pramono (dua dari kanan), dan Desainer Rasyida Alam (kanan) saat Modest Fashion Week in Melbourne. (FPPI untuk Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Gaun-gaun bernuansa batik dan tenun Nusantara melenggang di panggung Indonesia Modest Fashion Week in Melbourne, Australia, akhir pekan ini. Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Jawa Timur membawa dua desainer asal Jatim untuk memperkenalkan wastra Indonesia ke pasar internasional sekaligus menunjukkan bahwa kain tradisional mampu tampil modern di panggung dunia.

Bendahara Umum DPP FPPI Yuli Andriyani mengatakan, FPPI Jatim mengirim dua desainer dalam ajang tersebut. Mereka adalah Era Krisna dan Rasyida Alam/Shanty Tuakiya yang membawa koleksi berbahan batik, tenun, dan lagosi Makasar khas Nusantara.

Menurut dia, keikutsertaan desainer Jatim menjadi bagian penting untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui industri fashion muslim modern. ”Kami ingin wastra Nusantara dikenal lebih luas di pasar internasional,” ujar Yuli Andriyani.

Baca Juga: Pascakebakaran, Gedung PPJT RSUD Dr Soetomo Masih Ditutup, Pasien Kritis Membaik

Yuli menjelaskan, kedua desainer tersebut tidak hanya membawa karya busana, tetapi juga memperkenalkan filosofi kain tradisional Indonesia kepada masyarakat Australia. Setiap koleksi yang ditampilkan memadukan unsur modern dengan motif khas daerah sehingga tetap mempertahankan identitas budaya lokal.

Selain itu, penggunaan kain tenun, batik & lagosi menjadi bentuk pelestarian warisan budaya di tengah perkembangan industri mode global. ”Kain Nusantara punya nilai budaya yang sangat kuat,” kata Yuli Andriyani.

Menurut dia, ajang Indonesia Modest Fashion Week in Melbourne digelar atas kerja sama Atase Perdagangan Indonesia di Australia dengan Perhimpunan Warga Indonesia di Victoria (Perwira) Australia. Kegiatan berlangsung mulai 16 hingga 26 Mei dan menjadi ruang promosi produk fashion Indonesia di mancanegara. Dalam pelaksanaannya, acara itu digelar di sejumlah kota besar di Australia.

Baca Juga: Polisi masih Selidiki Kebakaran Gedung PPJT RSUD Dr Soetomo yang Sebabkan 1 Pasien Meningggal

”Ini menjadi kesempatan besar bagi desainer Indonesia untuk go internasional,” terang Yuli Andriyani.

Rangkaian kegiatan dimulai di Canberra, Australia, selama dua hari mulai hari ini hingga Minggu (17/5). Acara digelar di kediaman Duta Besar Indonesia untuk Australia dan dibuka Siswo Pramono.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan di Sydney sebelum akhirnya berlangsung di Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Australia pada 18-20 Mei. ”Puncak acaranya nanti digelar di Melbourne,” jelas Yuli Andriyani.

Dalam ajang tersebut, karya desainer Jatim tampil berdampingan dengan koleksi dari berbagai daerah lain di Indonesia. Sejumlah desainer dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga DI Yogyakarta juga ikut memperkenalkan karya mereka kepada publik internasional.

Meski demikian, koleksi dari Jatim disebut memiliki kekuatan pada eksplorasi wastra dan detail etnik yang dipadukan dengan desain modest fashion modern. ”Karakter wastra Jatim cukup kuat dan menarik perhatian,” ungkap Yuli Andriyani.

Yuli menilai, panggung fashion internasional menjadi media efektif untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia. Menurut dia, wastra Nusantara tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan cerita sejarah dan identitas daerah asalnya.

Baca Juga: Surabaya Shopping Festival 2026 Hadir Lagi, 15 Mal Tebar Diskon hingga 80 Persen!

”Karena itu, kami mendorong agar semakin banyak desainer muda berani membawa kain tradisional ke pasar global. Fashion bisa menjadi sarana diplomasi budaya Indonesia,” tandas Yuli Andriyani.

Dia menambahkan, keterlibatan diaspora Indonesia di Australia turut mendukung promosi produk fashion Tanah Air. Dalam kegiatan tersebut, model-model yang tampil berasal dari kalangan diaspora Indonesia yang tinggal di Australia. Selain pertunjukan busana, pengunjung juga dapat membeli langsung koleksi yang dipamerkan oleh para desainer.

”Konsepnya memang bukan sekadar fashion show, tetapi juga membuka peluang transaksi,” ujar Yuli Andriyani.

Baca Juga: SDN Manukan Kulon II/499 B Cetak 56 Gol pada Fase Gugur MLSCSeri 2

Menurut Yuli, kegiatan tersebut memiliki konsep serupa misi dagang karena mempertemukan langsung pelaku industri fashion dengan calon pembeli di luar negeri. Dengan begitu, desainer Indonesia tidak hanya memperoleh panggung promosi, tetapi juga kesempatan memperluas pasar ekspor.

Dia menyebut antusiasme masyarakat Australia terhadap busana berbahan batik dan tenun cukup tinggi. ”Banyak yang tertarik karena desainnya unik dan berbeda,” tutur Yuli Andriyani.

Desainer asal Jatim yang tampil dalam ajang itu juga berupaya menghadirkan sentuhan modern tanpa menghilangkan identitas kain tradisional. Potongan busana dibuat lebih fleksibel dan elegan agar dapat diterima pasar internasional, khususnya segmen modest fashion.

Baca Juga: Wujudkan Kemandirian Ekonomi, UMKM Surabaya Dapat Pelatihan Pembuatan Tempe Berstandar Halal

”Motif batik dan tenun tetap menjadi elemen utama dalam setiap koleksi. Kami ingin menunjukkan bahwa kain tradisional bisa tampil fashionable,” ungkap Yuli Andriyani.

FPPI Jatim berharap partisipasi dalam Indonesia Modest Fashion Week in Melbourne dapat membuka peluang baru bagi industri fashion di Jawa Timur. Apalagi, industri modest fashion Indonesia saat ini terus berkembang dan mulai mendapat perhatian pasar global.

”Dengan dukungan promosi internasional, produk fashion lokal memiliki peluang besar bersaing di luar negeri. Potensi fashion Indonesia sangat besar,” jelas Yuli Andriyani.

Selain menjadi sarana promosi, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menginspirasi pelaku UMKM dan desainer muda di daerah. Yuli menyebut banyak produk lokal sebenarnya memiliki kualitas tinggi, tetapi belum berani tampil di pasar internasional.

Baca Juga: Awas Macet! Ini Rekayasa Lalu Lintas dan Jalan Ditutup saat Surabaya Vaganza 2026

Melalui kegiatan itu, FPPI ingin menunjukkan bahwa karya anak bangsa mampu bersaing dengan brand luar negeri. “Yang penting percaya diri dan terus berinovasi,” tutur Yuli Andriyani.

Dia menambahkan, promosi wastra Nusantara perlu terus dilakukan secara konsisten agar generasi muda semakin mencintai produk budaya lokal. Menurut dia, batik dan tenun bukan hanya kain, tetapi simbol identitas bangsa yang harus dijaga keberlangsungannya.

”Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri fashion menjadi penting untuk memperluas pasar wastra Indonesia. Pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi kreatif,” ucap Yuli Andriyani.

Baca Juga: 1 Kasus Hantavirus Muncul di Jatim, Dinkes Perketat Deteksi Dini di RS Rujukan

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah