← Beranda
Menteri HAM Pigai Sebut MBG Program Bagus: yang Bermasalah Itu Dapur SPPG
Novia HerawatiRabu, 13 Mei 2026 | 19.18 WIB
Menteri HAM Natalius Pigai saat meninjau siswa korban keracunan MBG di RSIA IBI Kota Surabaya, Rabu (13/5). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia, Natalius Pigai menyebut insiden keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah terjadi karena pengelola SPPG tidak cakap dalam menjalankan tugasnya.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pigai saat meninjau korban keracunan massal MBG yang dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Ikatan Bidan Indonesia (RSIA IBI) Kota Surabaya pada Rabu (13/5). 

"MBG itu nggak salah, maksudnya baik untuk mewujudkan masa depan anak yang sehat, kenyang, dan pintar, yang salah itu cara masaknya, pengelola SPPG-nya kurang profesional," ucapnya. 

Menteri Pigai turut menyoroti SPPG Tembok Dukuh yang mendistribusikan lebih dari tiga ribu paket makan MBG ke 13 sekolah setiap harinya. Menurut Pigai, jumlah sekolah penerima manfaat terlalu banyak. 

Baca Juga: Nahas! 4 Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Tanjung Priok

"Saya pikir, 1 dapur mengelola 13 sekolah itu terlalu banyak, sehingga dalam manajemen pengelolaannya, ya amatir, tidak profesional dan tidak cermat, tidak teliti, tidak cekatan, dan tidak disiplin," tutur Pigai. 

Ia tak menampik bahwa masih banyak dapur MBG di berbagai daerah yang tidak cakap dalam mengelola makanan bergizi. Hal ini menjadi perhatian pemerintah pusat dan Badan Gizi Nasional. 

"Tidak semua dilakukan secara profesional. Ada beberapa dapur yang manajemennya amburadul, kita harus akui. Masih ada dapur yang pengelolaannya kurang cermat, sehingga terjadi seperti ini (insiden keracunan)," tegas Pigai.

Klarifikasi SPPG Tembok Dukuh, Klaim Olah Makanan Sesuai Prosedur
Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla menyampaikan permohonan maaf atas insiden keracunan yang diduga terjadi setelah ratusan korban menyantap menu MBG dari dapurnya. 

"Kami mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak yang terdampak, kepada siswa dan guru yang keracunan makanan kita. Dari kami akan bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan," ujar Chafi. 

Kendati demikian, Chafi menegaskan bahwa bahan makanan yang dipakai dalam kondisi segar. Proses pengolahan hingga penyajian dalam ompreng MBG juga sudah dilakukan sesuai prosedur BGN yang berlaku. 

"Dagingnya nggak basi, karena saat kita terima dagingnya sudah bagus. Memang daging itu kan bahan yang sangat riskan banget gitu. Bumbunya pun sudah sesuai sama resep dan standar masaknya begitu," tegasnya. 

Baca Juga: Sopir MBG di Depok Ditangkap, Nekat Nyambi Jadi Kurir Sabu!

Chafi tak menampik bahwa dapur MBG tersebut memang baru beroperasi selama 3 bulan sejak 2026. Namun, ia mengklaim pihaknya telah mengantongi izin dan sertifikasi yang disyaratkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). 

"Sertifikasi sudah, lengkap semua. Memang ini kejadian di luar kontrol kita. Untuk tindak lanjut dari SPPG, kita bertanggung jawab penuh terhadap anak-anak yang menjadi korban, dan kami akan banyak evaluasi," pungkas Chafi. 

Atas insiden ini, operasional dapur MBG di SPPG Tembok Dukuh dihentikan sementara waktu. Penghentian dilakukan sambil menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan dari BBLK Surabaya keluar. 

EDITOR: Sabik Aji Taufan