← Beranda
Sunyi dan Tertutup Rapat, Begini Suasana Dapur MBG di Surabaya Usai Insiden Keracunan Massal
Novia HerawatiSelasa, 12 Mei 2026 | 22.08 WIB
Potret bangunan SPPG Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, yang berhenti beroperasi untuk sementara waktu, setelah insiden keracunan massal yang dialami ratusan siswa, Selasa (12/5). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Sehari setelah insiden ratusan siswa diduga keracunan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), suasana di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Surabaya, berubah drastis.

Dari pantauan JawaPos.com, dapur MBG yang berada di Jalan Demak Madya, Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, Jawa Timur itu tampak lengang dan nyaris tanpa aktivitas pada Selasa (12/5).

Halaman depan SPPG yang umumnya dipenuhi kendaraan pengangkut paket makanan, kini tampak kosong. Pintu pagar hitam tertutup rapat, sementara area teras terlihat sunyi tanpa hilir mudik pegawai.

Baca Juga: Menkes Budi Tegaskan Penularan Hantavirus Sangat Sulit, Beda dengan Covid-19

Tidak ada suara denting alat masak dari dapur, tidak pula terlihat kepulan asap ataupun aroma masakan khas yang biasanya tercium dari dalam bangunan dengan dominasi cat berwarna biru muda dan biru tua itu.

Di sisi depan bangunan, tumpukan ompreng makanan berwarna silver tersusun rapi. Belum diketahui apakah ompreng tersebut berisi makanan atau dalam kondisi kosong karena seluruh bangunan terkunci rapat

Beberapa lampu di bagian teras dibiarkan menyala meski aktivitas di dalam tampak minim. Kondisi sepi ini terjadi karena SPPG Tembok Dukuh memutuskan menghentikan operasionalnya sementara waktu pasca insiden.

Kronologi singkat

Ratusan siswa yang berasal dari 12 sekolah tingkat TK, SD, dan SMP di Kecamatan Bubutan, Surabaya mengalami keracunan setelah menyantap makanan MBG pada Senin pagi (11/5).

Korban dilarikan ke Puskesmas Tembok Dukuh dan RSIA IBI Surabaya. Adapun menu MBG yang dimakan korban berasal dari satu dapur SPPG yang terletak di Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Surabaya.

Kepala Puskesmas Tembok Dukuh Surabaya, drg Tyas Pranadani mengatakan, total ada 200 siswa dari 12 sekolah yang diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap menu MBG dari dapur SPPG yang sama.

Ia menjelaskan gejala yang dialami para korban yakni mual dan pusing. Dari keterangan guru, dugaan sementara keracunan dipicu oleh hidangan berbahan daging yang disajikan dalam menu tersebut.

"Kalau dari pantauan kami dan dari laporan dari guru-guru itu, biasanya nggak dikasih daging, hari ini ada daging. Jadi mungkin dari dagingnya, karena selama ini nggak pernah dikasih daging," ujar Tyas.

SPPG Tembok Dukuh Klaim Olah Makanan Sesuai Prosedur

Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla menyampaikan permohonan maaf atas insiden keracunan massal, yang diduga terjadi setelah menyantap menu makanan dari dapurnya.

"Kami mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak yang terdampak, kepada siswa dan guru yang keracunan makanan kita. Dari kami akan bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan," ujar Chafi.

Kendati demikian, Chafi menegaskan bahwa bahan makanan yang dipakai dalam kondisi segar. Proses pengolahan hingga penyajian dalam ompreng MBG juga sudah dilakukan sesuai prosedur BGN yang berlaku.

"Dagingnya nggak basi, karena saat kita terima dagingnya sudah bagus. Memang daging itu kan bahan yang sangat riskan banget gitu. Bumbunya pun sudah sesuai sama resep dan standar masaknya begitu," tegasnya.

Chafi mengatakan bahwa dapur MBG tersebut memang baru beroperasi selama 3 bulan sejak 2026. Namun, ia mengklaim pihaknya telah mengantongi izin dan sertifikasi yang disyaratkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

"Sertifikasi sudah, lengkap semua. Memang ini kejadian di luar kontrol kita. Untuk tindak lanjut dari SPPG, kita bertanggung jawab penuh terhadap anak-anak yang menjadi korban, dan kami akan banyak evaluasi," pungkas Chafi.

Atas insiden ini, SPPG Tembok Dukuh menghentikan sementara operasional dapur MBG hingga hasil laboratorium sampel makanan yang kini tengah diuji Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLK), keluar. (*)

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah