JawaPos.com — Gema takbir yang bersahutan dari pengeras suara masjid di kawasan Buduran, Sidoarjo, Sabtu (21/3/2026), menjadi latar yang kontras bagi Asrul Setyo. Saat banyak orang bersiap menunaikan shalat Idulfitri 1447 Hijriah dan berkumpul bersama keluarga, ia justru berdiri siaga di pos perlintasan kereta api.
Pagi Lebaran yang identik dengan kehangatan keluarga, bagi pria 33 tahun itu justru dimulai dengan rutinitas penuh tanggung jawab. Seragam yang dikenakannya bukan sekadar pakaian kerja, melainkan simbol pengabdian yang tak mengenal hari libur.
Sebagai petugas perlintasan dari KAI Properti, Asrul bertugas menjaga keamanan perjalanan kereta api sekaligus keselamatan pengguna jalan. Ia berjaga di perlintasan depan pabrik Cat Avian, Buduran, salah satu titik sibuk di jalur Sidoarjo–Surabaya.
Arus mudik Lebaran membuat intensitas kendaraan meningkat tajam di kawasan tersebut. Di situlah peran Asrul menjadi krusial, memastikan tak ada celah bagi kecelakaan di perlintasan sebidang.
Bagi Asrul, bekerja saat hari raya bukan cerita baru. Ia telah menjalani profesi ini selama 15 tahun tanpa pernah benar-benar menikmati libur Lebaran seperti kebanyakan orang.
“Namanya kewajiban ya dijalankan dengan baik. Di sini tidak ada liburnya, hari besar atau tanggal merah tetap masuk sesuai jadwal perusahaan,” ujar Asrul Setyo kepada JawaPos.com, Sabtu (21/3/2026).
Baca Juga: Idul Fitri di Palestina Mencekam: Al-Aqsa Ditutup 21 Hari, Warga Gaza Shalat di Tengah Reruntuhan
Selama belasan tahun itu, ia terbiasa dengan sistem kerja shift yang tak mengenal kompromi. Jadwal libur datang tak menentu, bahkan kerap kali bertepatan dengan momen-momen penting bersama keluarga.
“Sudah sekitar 15 tahun di perlintasan,” katanya singkat, menggambarkan panjangnya perjalanan pengabdian yang ia jalani.
Dalam satu hari, perlintasan tersebut dijaga oleh tiga petugas secara bergantian. Masing-masing menjalankan tugas selama delapan jam untuk memastikan operasional berjalan tanpa gangguan.
“Tiga shift, 8 jam per shift,” ucapnya menjelaskan sistem kerja yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Meski demikian, ada sedikit kelegaan yang kini ia rasakan. Setelah bertahun-tahun harus pulang-pergi dari Sidoarjo ke Surabaya, kini ia bertugas lebih dekat dengan rumah.
“Ya alhamdulillah sudah satu tahun dipindah dekat rumah sini. Saya asli Sidoarjo sih, sebelumnya kan di Surabaya,” ungkapnya.
Pengalaman pulang-pergi setiap hari menjadi cerita tersendiri dalam perjalanan kariernya. Waktu dan tenaga terkuras di jalan, bahkan sebelum dan sesudah menjalankan tugas utama.
“(Pas bertugas di Surabaya) Pulang-Pergi Sidoarjo-Surabaya,” kenangnya singkat namun penuh makna.
Kini, meski lebih dekat dengan keluarga, bukan berarti ia bisa sepenuhnya menikmati momen Lebaran bersama mereka. Tugas tetap menjadi prioritas utama, bahkan di hari yang paling dinanti banyak orang.
“Nggak menentu (hari liburnya). Kadang pas hari raya gini libur ada, ada yang shift malam ada yang shift pagi gitu kan, cuma nggak ada liburnya. Hari besar hari tanggal merah tetap jadwalnya seperti biasa mengikuti perusahaan,” jelasnya.
Ada jeda sejenak saat ia berbicara tentang keluarga. Di balik sikapnya yang tenang, tersimpan kerinduan yang tak selalu bisa ia ungkapkan.
Lebaran, yang bagi banyak orang menjadi waktu berkumpul, justru ia jalani dengan menjaga keselamatan orang lain. Ia memastikan para pemudik bisa sampai ke tujuan dengan selamat, meski dirinya harus menunda kebersamaan.
“Ya namanya kewajiban Pak ya, harus dijalankan dengan baik.”
Di tengah hiruk pikuk arus mudik dan balik, sosok seperti Asrul sering kali luput dari perhatian. Padahal, peran mereka menjadi bagian penting dari kelancaran perjalanan ribuan orang setiap harinya.
Ia bukan satu-satunya yang berjaga, namun kisahnya mewakili banyak petugas lain yang tetap bekerja saat hari raya. Mereka memilih tetap di pos, memastikan semua berjalan aman.
Ada pesan sederhana yang ia titipkan untuk keluarganya di rumah. Kalimat yang singkat, tapi sarat makna dan perasaan.
“Ya mohon maaf lahir batin (pesan untuk keluarga di rumah), belum bisa mudik bareng sama (keluarga) kayak orang-orang itu. Terus yang di rumah ya sehat walafiat gitu aja.”
Kalimat itu menjadi penutup percakapan, sekaligus pengingat tentang harga dari sebuah pengabdian. Di balik perjalanan mudik yang lancar, ada orang-orang seperti Asrul yang memilih tetap terjaga.
Lebaran memang identik dengan kebersamaan, namun bagi sebagian orang, pengorbanan justru menjadi makna utamanya. Asrul Setyo adalah salah satu wajah dari dedikasi yang sering tak terlihat, tetapi selalu terasa.