← Beranda
Gema Takbir dan Rezeki di Balik Alas Plastik: Kisah 20 Tahun Muslimin Menyambung Hidup di Masjid Agung Sidoarjo
Moch. Rizky Pratama Putra• Sabtu, 21 Maret 2026 | 16.00 WIB
Muslimin menjajakan alas plastik di pelataran Masjid Agung Sidoarjo saat shalat Idulfitri 1447 Hijriah. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)

 

JawaPos.com — Gema takbir menggema sejak pagi di pelataran Masjid Agung Sidoarjo, menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah dengan penuh khidmat. Ribuan jemaah memadati area masjid hingga meluber ke jalanan, menciptakan lautan manusia yang datang membawa kebahagiaan setelah sebulan berpuasa.

Di tengah suasana sakral itu, ada cerita lain yang tak kalah menarik dari sudut pelataran. Hamparan plastik sederhana menjadi bagian penting bagi jemaah, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi sosok seperti Muslimin.

Pria kelahiran 1969 itu tampak sigap melayani pembeli yang membutuhkan alas untuk shalat. Dengan wajah ramah dan logat Jawa yang kental, ia menawarkan plastik seharga lima ribu rupiah per lembar kepada jmaah yang tak kebagian tempat di dalam masjid.

Baca Juga: Lens Rebut Pucuk Klasemen Setelah Hancurkan Angers dengan skor 5-1

“Iya, sudah lama. Sudah ada sekitar 20 tahun,” ujar Muslimin kepada JawaPos.com (21/3/2026). Ucapan sederhana itu menyimpan perjalanan panjang yang tak semua orang tahu.

Selama dua dekade terakhir, Muslimin telah menjadi bagian dari denyut kehidupan setiap hari raya di Jawa Timur. Ia bukan sekadar pedagang, tetapi juga saksi hidup bagaimana tradisi shalat Id berkembang dengan jumlah jemaah yang terus meningkat setiap tahun.

“Iya, saya kulakan (lalu saja jual 5 ribu per lembar). Mengambil dari teman-teman.” Dari situ, ia memutar roda ekonomi kecil yang ternyata cukup membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Baca Juga: PBB Sebut Kunci Penghentian Konflik Timur Tengah Ada di Tangan AS

Meski terlihat sederhana, usaha ini membutuhkan kejelian membaca momen. Hari raya seperti Idulfitri menjadi waktu paling sibuk, di mana permintaan alas shalat melonjak drastis dalam waktu singkat.

Muslimin memahami betul peluang tersebut. Ia rela datang lebih awal dan menyiapkan dagangan sebelum jemaah mulai berdatangan, memastikan tidak kehilangan kesempatan di momen yang hanya datang dua kali dalam setahun.

Tak hanya saat Idulfitri, ia juga aktif berjualan di berbagai kegiatan keagamaan lainnya. “Selain hari raya, juga saat ada kegiatan pengajian, seperti acara Haul,” tuturnya.

Mobilitasnya pun cukup tinggi demi mengejar rezeki. Ia bahkan kerap berkeliling hingga ke Surabaya untuk mengikuti agenda keagamaan yang ramai jemaah.

“Keliling juga sampai Surabaya, di tempat Kyai Asrori.” Perjalanan itu bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk ikhtiar yang ia jalani dengan penuh kesabaran.

Menariknya, meski sering berpindah tempat, akar kehidupannya tetap di Sidoarjo. Ia berasal dari Tanggulangin, meski kini tinggal di Kedung Peluk.

“Saya asli sini (Sidoarjo), Tanggulangin. Tapi sekarang tinggal di Kedungpeluk.” Identitas lokal itu membuatnya semakin memahami karakter jemaah dan kebutuhan di setiap momen besar.

Baca Juga: Tak Mudik, Tapi Tetap Hangat! Kisah Dian Perantau dari Bandung Rayakan Lebaran di Sidoarjo Penuh Makna

Usia yang tak lagi muda tidak menyurutkan semangatnya. “Sekitar 57 tahun. Saya kelahiran tahun 1969,” ujarnya dengan santai, seolah menegaskan bahwa kerja keras tak mengenal batas usia.

Di balik kesederhanaan alas plastik yang ia jual, tersimpan makna besar tentang ketekunan. Ia hadir bukan hanya sebagai pedagang, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ibadah yang saling mendukung.

Bagi jemaah, alas plastik itu mungkin hanya benda kecil yang digunakan beberapa menit. Namun bagi Muslimin, itu adalah sumber kehidupan yang telah ia rawat selama puluhan tahun.

Baca Juga: Gol Semata Wayang Scott McTominay Antar Napoli Lompati AC Milan

Fenomena ini menunjukkan bagaimana momen keagamaan juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil. Di tengah khusyuknya ibadah, ada aktivitas ekonomi yang berjalan secara alami dan saling melengkapi.

Masjid Agung Sidoarjo pun bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Dari jemaah hingga pedagang, semua memiliki peran dalam membangun suasana hari raya yang hidup.

Muslimin adalah potret nyata ketangguhan masyarakat akar rumput. Ia membuktikan bahwa keberkahan Idulfitri tak hanya dirasakan secara spiritual, tetapi juga dalam bentuk rezeki yang mengalir dari usaha sederhana.

Di tengah gemuruh takbir dan lautan jemaah, kisah seperti ini sering kali luput dari perhatian. Padahal, di sanalah tersimpan cerita tentang perjuangan, harapan, dan ketulusan dalam mencari nafkah.

Hari raya memang identik dengan kemenangan setelah Ramadan. Namun bagi Muslimin, kemenangan itu juga berarti kesempatan untuk terus bertahan dan menghidupi keluarga dari usaha yang ia jalani dengan sepenuh hati.

Ketika jemaah mulai beranjak pulang usai shalat Id, pelataran perlahan kembali lengang. Namun bagi Muslimin, momen itu menjadi penutup dari satu hari penuh makna yang kembali menguatkan langkahnya untuk terus berjuang.

EDITOR: Banu Adikara