JawaPos.com — Gema takbir menggema di Masjid Agung Sidoarjo saat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah tiba. Ribuan jemaah memadati pelataran, menciptakan suasana khidmat sekaligus hangat di jantung Kota Udang.
Sebagai salah satu masjid terbesar di wilayah tersebut, Masjid Agung Sidoarjo menjadi titik temu warga lokal hingga para perantau.
Mereka datang dari berbagai daerah, membawa cerita dan pengalaman masing-masing dalam merayakan hari kemenangan.
Di antara lautan jemaah, ada kisah sederhana namun penuh makna dari seorang perantau asal Bandung bernama Dian. Tahun ini, ia memutuskan tidak mudik ke kampung halaman dan memilih merayakan Lebaran di Sidoarjo.
Baca Juga: Menteri Purbaya Yudhi Sadewa Sampaikan Ucapan Lebaran, Ajak Rayakan dengan Hangat Bersama Keluarga
Keputusan itu bukan tanpa alasan, karena keluarga istrinya menetap di kota tersebut. Bagi Dian, kebersamaan dengan keluarga mertua tetap menghadirkan suasana Idulfitri yang hangat dan berkesan.
"Masjid ini adalah Masjid Agung, salah satu masjid terbesar di Sidoarjo. Di sini kita bisa berkumpul dan bersilaturahmi dengan warga Sidoarjo lainnya," ujar Dian kepada JawaPos.com, Sabtu (21/3/2026).
Baca Juga: Di Tengah Ketidakpastian Global, Golkar Maknai Idul Fitri dengan Menjaga Persatuan
Ia mengaku, merantau bukan berarti kehilangan makna Lebaran yang sesungguhnya. Justru, momen ini menjadi kesempatan memperluas ikatan kekeluargaan di tempat yang baru.
"Saya merantau dari Bandung. Kebetulan tahun ini saya tidak pulang ke Bandung karena mertua saya tinggal di sini, jadi saya merayakan Lebaran bersama mereka," imbuh pria 43 tahun tersebut.
Pengalaman merayakan Idulfitri di luar kampung halaman bukanlah hal baru bagi Dian. Dalam beberapa tahun terakhir, ia terbiasa berpindah tempat, mengikuti situasi dan kondisi keluarga.
"Tahun-tahun sebelumnya saya sering berkeliling; kadang di sini, terkadang di Surabaya, atau di kampung halaman saya di Bandung."
Meski begitu, ia menegaskan tidak ada perbedaan berarti dalam menjalankan ibadah. Baik di kota asal maupun di tanah rantau, nilai kebersamaan tetap menjadi inti dari perayaan Idulfitri.
"Menurut saya tidak ada perbedaan yang signifikan. Jika di rumah sendiri saya bersama keluarga inti, di sini saya bersama keluarga istri dan tetangga. Semuanya adalah bagian dari keluarga besar, dan yang terpenting adalah menjaga ikatan silaturahmi."
Apa yang dirasakan Dian menjadi gambaran nyata bagaimana Lebaran tidak selalu identik dengan mudik. Di tengah keterbatasan jarak, kehangatan tetap bisa tercipta melalui kebersamaan dengan orang-orang terdekat.
Baca Juga: Gema Takbir Mengalun, Ribuan Jemaah Shalat Id di Masjid Raya Islamic Center Surabaya
Suasana di Masjid Agung Sidoarjo pagi itu pun mencerminkan hal serupa. Jemaah saling bersalaman, bermaafan, dan berbagi kebahagiaan tanpa memandang asal daerah.
Fenomena perantau yang tidak mudik juga menjadi bagian dari dinamika Lebaran modern. Banyak faktor yang memengaruhi keputusan tersebut, mulai dari pekerjaan hingga kondisi keluarga.
Namun, seperti yang dialami Dian, esensi Idulfitri tetap bisa dirasakan sepenuhnya. Silaturahmi tidak dibatasi oleh lokasi, melainkan oleh niat untuk menjaga hubungan baik antar sesama.
Momen seperti ini juga memperlihatkan bagaimana masjid berperan sebagai pusat kebersamaan. Bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu tujuan.
Di tengah gema takbir yang terus berkumandang, cerita Dian menjadi pengingat sederhana. Lebaran bukan sekadar tentang pulang ke kampung halaman, tetapi tentang pulang ke hati, menjaga hubungan, memaafkan, dan mempererat silaturahmi.
Bagi banyak orang, termasuk para perantau, makna itu justru terasa lebih dalam ketika dirayakan bersama keluarga di mana pun berada. Dan di Masjid Agung Sidoarjo, kisah-kisah seperti ini terus hidup, menghangatkan suasana Idulfitri dari tahun ke tahun.