← Beranda
Skema TBB Jadi Senjata Andalan! ASDP Siaga Penuh Hadapi Ledakan Arus Balik Lebaran 2026 di Ketapang–Gilimanuk
Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 20 Maret 2026 | 16.30 WIB
Aktivitas penyeberangan di lintasan Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang terus menunjukkan perkembangan. (Istimewa)

 

JawaPos.com — PT ASDP Indonesia Ferry terus mematangkan strategi operasional untuk menjaga kelancaran penyeberangan di lintasan Pelabuhan Ketapang–Pelabuhan Gilimanuk pascapenutupan Hari Raya Nyepi. Langkah ini menjadi krusial karena arus balik Lebaran 2026 diprediksi membludak dalam waktu singkat.

Fokus utama diarahkan pada optimalisasi skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB) serta penambahan armada kapal. Strategi ini disiapkan untuk memastikan pergerakan kendaraan dan penumpang tetap lancar tanpa antrean panjang.

Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, menegaskan skema TBB bukan sekadar rencana di atas kertas. Pola ini sudah terbukti efektif saat puncak arus mudik sebelumnya.

Baca Juga: Pakar Gizi Paparkan Risiko Pasien Asam Urat Saat Santap Makanan Khas Lebaran

“Antrean kendaraan yang sempat mengular puluhan kilometer di Gilimanuk berhasil terurai pada Rabu (18/3) malam berkat optimalisasi pola TBB,” ujarnya saat ditemui di Kantor ASDP Ketapang, Kamis (19/3/2026).

Pernyataan itu menegaskan efektivitas strategi yang kini kembali diandalkan.

Dalam skema ini, kapal yang tiba di pelabuhan tidak berlama-lama bersandar. Proses bongkar muatan dilakukan cepat, lalu kapal langsung berangkat kembali untuk mengangkut penumpang berikutnya.

Baca Juga: Diserbu Pemudik Usai Hari Raya Nyepi 2026! Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk Dibuka Antisipasi Lonjakan Mudik Lebaran

Dampaknya terasa signifikan pada siklus pergerakan kapal yang menjadi jauh lebih efisien. Waktu tunggu berkurang, sementara kapasitas angkut meningkat dalam periode yang sama.

Awalnya, skema TBB hanya diterapkan di dua dermaga sebagai uji coba. Namun saat lonjakan kendaraan terjadi, ASDP langsung meningkatkan intensitas operasional.

Sebanyak empat dermaga utama dioperasikan penuh dengan dukungan dua dermaga tambahan. Total enam dermaga aktif digunakan secara bersamaan saat kondisi puncak.

“Dengan pola TBB, pergerakan kapal jauh lebih cepat. Saat puncak kemarin, jumlah kapal yang menjalankan TBB bisa mencapai 15 unit,” jelas Yossianis.

Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan pola operasional normal.

Selain optimalisasi dermaga, ASDP juga memperkuat layanan dengan menambah jumlah armada kapal. Kapal berkapasitas besar menjadi andalan untuk mempercepat penguraian antrean kendaraan.

Salah satu yang dioptimalkan adalah KMP Prima Nusantara yang mampu mengangkut lebih dari 70 kendaraan dalam satu perjalanan. Kehadiran kapal besar ini memberi dampak langsung pada peningkatan kapasitas angkut.

Baca Juga: Jangan Gadget Melulu! 5 Ide Game Ramah Anak untuk Lebaran 2026

Penambahan armada membuat distribusi kendaraan menjadi lebih merata. Dengan begitu, penumpukan kendaraan di area pelabuhan bisa ditekan secara maksimal.

Menurut Yossianis, kombinasi antara skema TBB dan penambahan kapal menjadi kunci utama menjaga stabilitas layanan. Kedua strategi ini saling melengkapi dalam menghadapi lonjakan arus balik.

“Langkah ini kami siapkan agar setelah pelabuhan dibuka kembali, arus kendaraan bisa langsung terurai dan tidak kembali menumpuk seperti sebelumnya,” tegasnya.

Baca Juga: Sewa Tas Mewah Dior dan Chanel Bikin Lebaran Makin Gaya!

Pernyataan ini menunjukkan kesiapan ASDP menghadapi momentum krusial pasca Nyepi.

Mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat tajam setelah aktivitas kembali normal. Arus kendaraan dari Jawa ke Bali maupun sebaliknya diprediksi melonjak dalam waktu bersamaan.

Di sisi lain, ASDP juga menyoroti faktor lain yang memperparah kepadatan. Salah satunya adalah tingginya jumlah kendaraan logistik yang tetap beroperasi saat periode mudik.

Truk logistik disebut menjadi penyumbang signifikan antrean panjang di kedua sisi pelabuhan. Kondisi ini membuat pengaturan lalu lintas semakin kompleks.

Karena itu, ASDP kembali mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap kebijakan pembatasan operasional angkutan barang. Kebijakan ini telah diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) selama periode mudik.

Pengusaha logistik diminta mengatur jadwal distribusi lebih awal. Langkah ini penting agar tidak terjadi penumpukan kendaraan pada hari-hari puncak.

Baca Juga: Pentagon Benarkan Iran Tembak Jatuh Jet Tempur AS

Dalam situasi arus mudik dan balik, ASDP menegaskan prioritas diberikan kepada kendaraan penumpang. Kebijakan ini diambil untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat secara luas.

“Dampaknya sangat besar. Kami minta dukungan semua pihak, khususnya pengusaha truk, untuk mematuhi aturan pembatasan operasional,” ujar Yossianis.

Dukungan lintas sektor dinilai sangat menentukan keberhasilan pengaturan arus.

Kelancaran penyeberangan tidak hanya bergantung pada operator pelabuhan. Sinergi dengan kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi faktor kunci.

Baca Juga: Usai Ngambek Soal Selat Hormuz, Donald Trump Klaim NATO jadi Jauh Lebih Baik

Koordinasi lintas instansi terus diperkuat untuk memastikan pengaturan berjalan optimal. Setiap pihak memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran arus balik.

Dengan berbagai langkah antisipatif yang telah disiapkan, harapan besar disematkan pada operasional tahun ini. Arus balik Lebaran 2026 di lintasan Ketapang–Gilimanuk diharapkan berjalan lebih lancar, aman, dan terkendali.

Situasi yang sebelumnya sempat menimbulkan antrean panjang kini diupayakan tidak terulang. ASDP ingin memastikan pengalaman perjalanan masyarakat menjadi lebih nyaman.

Momentum arus balik menjadi ujian nyata efektivitas strategi yang diterapkan. Jika berjalan sesuai rencana, skema TBB bisa menjadi standar baru pengelolaan penyeberangan di masa depan.

EDITOR: Banu Adikara