← Beranda
Hilal Tak Terlihat di Sidoarjo, Detik-detik Penentuan Lebaran dari Lantai 10 RSI Siti Hajar
Moch. Rizky Pratama Putra• Jumat, 20 Maret 2026 | 01.28 WIB
Tim falakiyah PCNU Sidoarjo memantau hilal dari lantai 10 RSI Siti Hajar saat matahari terbenam. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)

 

JawaPos.com — Rukyatul hilal di Kabupaten Sidoarjo menjadi momen krusial dalam penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah, Kamis (19/3/2026). Dari lantai 10 Rumah Sakit Islam Siti Hajar, tim falakiyah mengarahkan pandangan ke ufuk barat untuk mencari tanda awal Lebaran.

Harapan melihat hilal akhirnya pupus setelah pengamatan selesai dilakukan. Hilal dinyatakan tidak terlihat di Sidoarjo setelah proses pemantauan berlangsung singkat namun intens.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan biasa. Sidoarjo menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian rukyatul hilal yang digelar serentak di berbagai wilayah.

Di lokasi ini, pengamatan melibatkan delapan orang dari Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Sidoarjo. Sejumlah pegiat falakiyah dan mahasiswa UINSA Surabaya juga turut ambil bagian dalam proses tersebut.

“Agenda ini diikuti delapan orang dari tim tim rukyatul hilal dari Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Sidoarjo 8, pegiat falakiyah Sidoarjo, sebagian mahasiswa UINSA Surabaya,” ujar Muchammad Qolbir Rohman (Sekretaris LFPCNU Sidoarjo) kepada JawaPos.com, Kamis (19/3/2025).

Baca Juga: Tak Hanya Bicara Koleksi Lebaran, Para Jenama Lokal juga Perkuat Nilai Kepedulian saat Ramadhan

Pemilihan lantai 10 Rumah Sakit Islam Siti Hajar dilakukan dengan pertimbangan matang. Lokasi ini dinilai memiliki sudut pandang ufuk barat yang terbuka dan minim gangguan visual.

Hal tersebut sangat penting dalam proses rukyat. Hilal yang sangat tipis hanya muncul beberapa saat setelah matahari terbenam sehingga membutuhkan kondisi langit yang ideal.

Pengamatan dimulai pukul 17.41 WIB dan berlangsung hingga 17.49 WIB. Dalam waktu delapan menit itu, setiap perubahan langit dipantau dengan penuh ketelitian.

Tim menggunakan metode pengamatan langsung dengan mata telanjang yang didukung data astronomi. Sinkronisasi antara teori dan praktik menjadi kunci dalam menentukan hasil rukyat.

Namun hingga batas waktu pengamatan, hilal tetap tidak terlihat. Hasil ini kemudian dipastikan oleh tim yang berada di lokasi.

"Iya, jadi sesuai dengan yang disampaikan oleh tim rukyatul hilal dari Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Sidoarjo, bahwa setelah melihat secara kasat mata, bahwa sesuai dengan data yang ada, memang belum bisa terlihat bulannya. Artinya, kita harus memberikan laporan kepada yang di atas sana, artinya kita lapor ke PBNU bahwa Sidoarjo khususnya di titik markas Rumah Sakit Islam Siti Hajar kita tidak bisa melihat bulan secara kasat mata," ujar H. Agus Mahbub Ubaidillah (Sekretaris PCNU Sidoarjo).

Secara teknis, posisi hilal memang belum memenuhi kriteria visibilitas. Hal ini membuat peluang untuk melihat hilal di Sidoarjo sangat kecil sejak awal.

Baca Juga: 6 Aktivitas yang Sunnah Dianjurkan Dilaksanakan di Hari Raya Idul Fitri

"Iya, tadi sudah disampaikan oleh tim rukyatul hilal bahwa sampai dengan hari ini, bahwa kita masih ada pada posisi belum sampai 6,4 derajat, sehingga kita bisa tidak bisa, hal tersebut sangat tidak mungkin untuk kita bisa melihat bulan secara nyata. Karena standar yang ada adalah 6,4. Kita masih pada posisi 6,2, sehingga pada posisi tersebut itu saja ada terjadi di Aceh, sementara di daerah Sidoarjo sendiri kita masih pada posisi 5,29, sehingga masih sangat jauh sekali untuk kita melakukan melihat bulan secara kasat mata.”

Kriteria imkanur rukyat menjadi acuan utama dalam pengamatan ini. Hilal umumnya dapat terlihat jika memenuhi batas minimal tinggi dan elongasi tertentu.

Di Sidoarjo, angka tersebut belum tercapai sehingga hasil pengamatan sejalan dengan perhitungan astronomi. Kondisi ini memperkuat alasan hilal tidak dapat disaksikan secara langsung.

Meski demikian, proses pengamatan tetap berlangsung serius dan penuh kehati-hatian. Setiap detik waktu pengamatan dimanfaatkan untuk memastikan hasil yang akurat.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini memberikan pengalaman berharga. Mereka belajar langsung bagaimana proses ilmiah dan keagamaan berjalan beriringan.

Sinergi antara pegiat falakiyah dan akademisi terlihat jelas di lokasi pengamatan. Kolaborasi ini memperkuat kualitas sekaligus transparansi hasil rukyat.

Meski hilal tidak terlihat di Sidoarjo, proses pengamatan tetap memiliki nilai penting. Hasil ini menjadi bagian dari laporan yang akan digunakan dalam penentuan awal Syawal.

Dari lantai 10 RSI Siti Hajar, momen penantian Lebaran terasa begitu nyata. Meski hilal belum tampak, proses pencariannya tetap menjadi bagian penting dalam tradisi umat Islam.

EDITOR: Sabik Aji Taufan