JawaPos.com - Di sudut Terminal Purabaya, Bungurasih, Kabupaten Sidoarjo, seorang pria paruh baya duduk di bawah jembatan penyeberangan area peron, seolah tak terusik dengan hiruk pikuk arus mudik di sekitarnya.
Dengan tangan cekatan, pria tersebut terlihat memasukkan satu per satu tahu sumedang ke dalam kemasan plastik bening. Lalu menatanya rapi ke dalam keranjang yang siap untuk dibawa dan dijajakan.
Namanya Casmudin, 41 tahun, warga Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Ia seorang pedagang asongan yang setiap hari berjuang mengais rezeki dengan berjualan tahu sumedang dan lumpia.
Baca Juga: Terjadi 141 Kecelakaan Pada 17-18 Maret 2026, Jumlah Korban Meninggal Dunia Sebanyak 21 Orang
"Tahu sumedang, tahu sumedang, lumpianya, Pak, Bu, Rp 10 ribu tiga," tutur Casmudin dengan suara lantang, menawarkan dagangannya kepada penumpang di area Terminal Purabaya, Bungurasih.
Tak jarang, ia juga naik dari satu bus ke bus lain yang tengah mangkal di area peron. Casmudin menyusuri lorong sempit di antara kursi untuk menawarkan tahu sumedang dan lumpianya kepada penumpang.
Rela Nggak Mudik Demi Kumpulkan Pundi-Pundi Rupiah
Casmudin mengaku sudah sekitar tiga tahun menyambung hidup sebagai penjual asongan di Terminal Purabaya Bungurasih. Setiap hari, ia membawa sekitar 200 tahu sumedang dan 100 lumpia untuk dijajakan.
Bagi pedagang asongan seperti Casmudin, arus mudik Lebaran bukan sekadar momen perayaan, melainkan kesempatan yang paling dinanti untuk menambah penghasilan di tengah tingginya mobilitas masyarakat.
Karena itu, ia rela tak mudik dan meninggalkan keluarga di kampung halaman demi pundi-pundi rupiah. "Nggak mudik, soalnya di sini ramai, aji mumpung ada kesempatan jualan. Nanti habis lebaran, kalau udah sepi baru pulang," imbuhnya.
Selama di Sidoarjo, Casmudin tinggal bersama saudaranya di kawasan Medaeng, Kecamatan Waru. Lokasinya tak sampai 2 kilometer dari terminal, bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar lima menit.
Tak Seramai Arus Mudik Lebaran Tahun Lalu
Lebaran tinggal menghitung hari, arus mudik di Terminal Purabaya tak pernah benar-benar sepi. Namun, keramaian itu belum sepenuhnya terasa bagi pedagang asongan seperti Casmudin.
Ia mengingat betul bagaimana suasana musim mudik tahun lalu. Bahkan dalam sepekan menjelang Lebaran, penumpang di Terminal Purabaya membludak dan dagangannya kerap ludes lebih cepat dari biasanya.
Kini cerita itu seperti tinggal kenangan. "Belum rame ini. Tahun lalu mending apik. Lebaran jangka seminggu apik. Dibanding sekarang 2026? Waduh. Belum rame ini," keluhnya dengan nada pasrah.
“Kalau lagi ramai, ya lumayan, ada lebihnya sedikit-sedikit,” kelakar pria berdarah Sunda itu.
Namun ketika sepi, penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan membeli rokok.
Mengandalkan Tenaga, Menyambung Asa di Terminal
Siapa sangka, sebelum mengadu nasib sebagai penjual asongan, Casmudin pernah bekerja di sektor transportasi pariwisata. Ia kerap berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk memandu perjalanan wisata pelanggan.
"Pernah kerja di mobil pariwisata, cuma pariwisatanya kan sepi, jadi banting setir jualan tahu di sini (Terminal Purabaya). Ya lumayan buat tambah-tambah dan sambung hidup, alhamdulillah," tuturnya sambil tersenyum tipis.
Kini, ia menggantungkan hidup sebagai pedagang asongan. Bagi Casmudin, pekerjaan ini terbilang cukup sederhana karena ia hanya bermodalkan tenaga untuk menjajakan dagangan.
Sementara itu, tahu sumedang dan lumpia yang Casmudin jual diperoleh dari pihak ketiga yang ia panggil dengan nama “juragan". Sistem berjualan di Terminal Purabaya pun dinilai sudah tertata rapi.
Saat berjualan, Casmudin mengenakan seragam berwarna hitam dengan dominasi hijau, lengkap dengan kartu identitas dari Paguyuban Asongan Purabaya (PAP) yang selalu tersimpan di dompetnya.
"Kalau di dalam terminal ini resmi, pakai seragam semua. Jualannya juga di area terminal saja, kalau di luar beda lagi yang jualan," ucap Casmudin sambil menunjukkan kartu keanggotaan PAP bernomor 30.
Setiap hari, Casmudin mulai berjualan sejak pukul 9 pagi. Keringat bercucuran menjadi saksi bagaimana perjuangannya menyusuri peron, menerjang terik matahari agar dagangannya bisa habis sebelum matahari terbenam.
“Saya cuma modal tenaga, tahu sama lumpia semua dari Juragan. Jualannya dari jam 9 pagi sampai tergantung habisnya. Kalau Maghrib belum habis, ya dilempar ke shift malam, jadi shift-shift-an," ujar Casmudin antusias menceritakan cara kerjanya.
Kisah Casmudin menjadi satu dari sekian banyak potret perjuangan pedagang kecil di tengah riuh arus mudik. Mereka memilih bertahan di perantauan demi menyambung hidup dan menjaga harapan keluarga. (*)