JawaPos.com - Setelah sepekan lebih berjibaku mencari dan menyelamatkan korban, operasi SAR bencana non alam runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo resmi ditutup pada Selasa (7/10).
Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, yang juga bertindak sebagai SAR Coordinator dalam konferensi penutupan SAR di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo.
"Saya sampaikan bahwa apa yang kita tutup pada hari ini, Selasa, 7 Oktober 2025 sebenarnya di koridor pencarian dan pertolongan (SAR), terkait apa yang nanti ditindaklanjuti, teman-teman bisa monitor perkembangan," tutur Syafii.
Ia mengatakan bahwa kegiatan operasi SAR telah dilaksanakan sejak Senin (29/9), sesaat setelah bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai tempat ibadah di Ponpes Al Khoziny, tiba-tiba ambruk sekitar pukul 15.35 WIB.
"Dan hari ini masuk di hari sembilan, kita telah menyelesaikan pelaksanaan pencarian dan pertolongan terhadap korban. Kita juga telah memindahkan seluruh material bangunan yang runtuh," imbuhnya.
Kendati demikian, Syafii menegaskan bahwa kegiatan tidak berhenti pada evakuasi korban dan pembersihan puing. Setelah ini, tragedi yang terjadi di Ponpes Al Khoziny memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
"Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukan teman teman juga tidak sia-sia. Artinya menjadi bagian amal ibadah teman teman bahwa apa yang telah dilakukan teman-teman rescue tersampaikan ke publik," ujar Syafii.
Sementara itu, Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Yudhi Bramantyo mengatakan sampai dengan hari kesembilan, Selasa (7/10), korban dalam bencana non alam ini mencapai 171 orang.
"Jadi total keseluruhan korban terevakuasi adalah 171 orang, dengan 67 orang meninggal dunia. Dari 67 itu ada 8 body part. Kemudian korban selamat 104 orang. Harapan kami, tidak ada lagi yang tersisa," tukas Bramantyo.