← Beranda
Dari Lintasan ke Prestasi Dunia: Pentingnya Dukungan Nyata untuk Atlet Lari Indonesia
Rian AlfiantoKamis, 30 April 2026 | 01.14 WIB
Yad Hapizudin (kiri) dan Irma Handayani (kanan) pada ajang Adhyaksa International Run 2026. (Istimewa)

 

JawaPos.com–Prestasi atlet jelas tidak lahir dari garis finis semata. Di balik catatan waktu dan podium juara, ada proses panjang yang sering kali luput dari perhatian yaitu konsistensi latihan, pengorbanan personal, hingga minimnya dukungan sistematis.

Kisah dua pelari nasional, Yad Hapizudin dan Irma Handayani, menjadi cermin mengapa dukungan terhadap atlet dalam negeri masih menjadi isu krusial.

Yad Hapizudin, pelari spesialis 1.500 meter asal Lombok Timur, baru saja menorehkan prestasi dengan finis di posisi pertama Singapore Open Track and Field Championships 2026. Dia juga memegang rekor nasional U-20 dan mencatatkan waktu impresif 15 menit 8 detik pada nomor 5 kilometer di Adhyaksa International Run 2026.

Baca Juga: Aprilia Kuasai Tes MotoGP Jerez, Motor Marco Bezzecchi Dibekali Saluran Udara Tambahan

Sementara itu, Irma Handayani, pelari maraton asal Kalimantan Timur, terus menjaga konsistensi performa di berbagai ajang internasional. Dalam Daegu Marathon 2026 di Korea Selatan, dia mencatatkan waktu 2 jam 56 menit 1 detik, sebuah capaian yang menempatkannya di jajaran pelari maraton nasional yang patut diperhitungkan.

Namun, capaian tersebut tidak datang dengan mudah. Karir Yad berawal dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Dia sempat menekuni dua cabang olahraga sekaligus sebelum akhirnya fokus pada lari. Kemenangan di level pelajar menjadi titik balik yang mengubah sekadar hobi menjadi ambisi profesional.

”Awalnya cuma ikut-ikutan, tapi setelah menang, aku jadi ngerasa ini bukan sekadar aktivitas. Dari situ aku mulai serius dan termotivasi untuk terus lari,” ujar Yad.

Baca Juga: Madrid Open 2026: Elena Rybakina dan Coco Gauff Keok, Aryna Sabalenka Masih Bertahan

Perjalanannya diwarnai berbagai tantangan, mulai dari latihan dengan fasilitas terbatas hingga menghadapi cedera. Bahkan, dia harus mengorbankan waktu bersama keluarga demi menjaga disiplin latihan. Kini, targetnya tidak main-main: memecahkan rekor nasional nomor 1.500 meter di kategori senior.

Cerita serupa juga datang dari Irma. Berangkat dari keterbatasan, dia pernah mengikuti lomba tanpa sepatu. Kondisi tersebut justru membentuk mental kompetitifnya.

Bagi Irma, lari bukan sekadar olahraga, melainkan jalan hidup yang menuntut komitmen penuh. Termasuk mengorbankan kenyamanan pribadi.

”Setiap tantangan jadi dorongan untuk berkembang,” ungkap Irma.

Dukungan Jadi Faktor Penentu

Kisah Yad dan Irma menyoroti satu hal penting, bakat saja tidak cukup. Atlet membutuhkan ekosistem pendukung yang kuat, mulai dari pelatihan, nutrisi, hingga perlengkapan yang memadai.

Di Indonesia, isu ini masih menjadi pekerjaan rumah. Banyak atlet berbakat yang kesulitan berkembang optimal karena keterbatasan akses terhadap fasilitas dan dukungan berkelanjutan.

Baca Juga: Cooper Flagg Raih Rookie of the Year NBA 2026, Forward Dallas Mavericks Ungguli Kon Knueppel

Dalam konteks ini, peran pihak swasta, termasuk brand olahraga seperti PUMA Indonesia menjadi salah satu elemen penting. Dukungan tidak hanya berupa perlengkapan, tetapi juga kepercayaan dan keberlanjutan pembinaan.

Dengan teknologi NITRO Foam yang memberikan energy return optimal serta PWRPLATE yang menjaga stabilitas saat pace tinggi, Deviate 4 membantu setiap langkah terasa lebih efisien dan bertenaga. Dilengkapi juga dengan engineered mesh upper yang ringan dan breathable serta PUMAGRIP outsole untuk traksi maksimal, Deviate 4 memberikan kenyamanan sekaligus kepercayaan diri di setiap sesi latihan.

Bagi Yad, dukungan tersebut terasa saat menghadapi fase krusial lomba. Dia membutuhkan perlengkapan yang mampu menjaga responsivitas dan stabilitas saat sprint di kilometer akhir.

Baca Juga: Hasil Undian Perempat Final Uber Cup 2026: Indonesia Tantang Denmark!

Sementara bagi Irma, konsistensi ritme dalam lari jarak jauh menjadi kunci, sehingga dukungan yang tepat sangat berpengaruh terhadap performanya.

Baik Yad maupun Irma sepakat bahwa setiap lomba bukanlah akhir, melainkan awal dari target berikutnya. Pola pikir ini menunjukkan bahwa prestasi atlet bukan hanya soal hasil instan, tetapi proses berkelanjutan yang membutuhkan dukungan jangka panjang.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari, momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat perhatian terhadap atlet nasional. Dukungan publik, federasi, hingga sektor swasta dapat menjadi pembeda antara potensi dan prestasi nyata.

Baca Juga: PBVSI Panggil 17 Nama! Skuad Timnas Voli Putri Indonesia Bersiap Jelang AVC Nations Cup dan SEA V League

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah