JawaPos.com — Tangisan Nyo saat Indonesia Raya berkumandang sebelum laga Timnas Indonesia vs Oman menjadi sorotan publik. Di balik air mata bocah 10 tahun asal Manado itu, tersimpan perjuangan dua tahun mengejar mimpi menjadi pendamping pemain Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Syailendra Ahmad Budiyanto atau yang akrab disapa Nyo, tak mampu menahan air mata ketika berdiri di lapangan sambil menggandeng Nathan Tjoe-A-On. Tak ayal, Nyo disorot kamera TV paling lama diantara player escort yang lain.
Perjuangannya menjadi player escort sejak 2024 akhirnya terwujud.
Di balik momen itu, tersimpan kisah panjang tentang mimpi, perjuangan, dan kecintaan seorang anak terhadap Timnas Indonesia.
Baca Juga: Emil Audero Ungkap Kunci Tepis Penalti Oman, Puji Elkan Baggott di Timnas Indonesia
Mengapa Nyo Menangis Saat Indonesia Raya Berkumandang?
Tangisan Nyo ternyata bukan sekadar karena atmosfer megah Stadion GBK yang dipenuhi puluhan ribu suporter. Air mata itu menjadi puncak perjalanan panjang yang telah ia perjuangkan selama dua tahun terakhir.
Sang ibu, Nurintan Afriliana atau akrab disapa Intan, mengungkapkan putranya memang sangat mengidolakan Timnas Indonesia dan sudah lama bercita-cita menjadi pendamping pemain saat laga internasional.
"Bisa gandengan sama Timnas aja dia langsung terharu. Berkah perjuangan dia dari 2024. Kemudian bisa berdiri di GBK, nyanyi Indonesia Raya digandeng Om Nathan, aduh dia terharu sekali," ujar Intan saat dihubungi langsung JawaPos.com, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, Nyo memang memiliki karakter yang lembut dan mudah tersentuh oleh momen emosional. Karena itu, saat impian yang sudah lama dinanti akhirnya menjadi kenyataan, emosinya tidak lagi terbendung.
"Pasti bangga sama terharu. Karena kelembutan hatinya, dia memang lembut banget hatinya. Kadang-kadang saya juga bilang, 'Kamu kenapa gampang nangis?' Memang anaknya begitu. Dan ini memang momen yang dia tunggu," tuturnya.
Perjuangan Dua Tahun Mengejar Mimpi Menjadi Pendamping Garuda
Perjalanan Nyo menuju lapangan GBK ternyata tidak instan. Bocah yang kini berusia 10 tahun itu sudah mengikuti seleksi player escort sejak 2024.
Ia berkali-kali mengirim video pendaftaran dengan harapan bisa terpilih menjadi Pendamping Garuda. Bahkan, menurut sang ibu, ada video lama yang dikirim ketika gigi depan Nyo masih ompong.
"Anak saya dari Manado ikut seleksi Pendamping Garuda ini kirim-kirim video dari tahun 2024. Jadi dia memang sudah berharap sekali, pengen sekali," kata Intan kepada JawaPos.com.
Kesempatan tahun 2026 menjadi sangat spesial karena merupakan peluang terakhir bagi Nyo. Sebab, batas maksimal usia pendamping pemain hanya sampai 10 tahun.
Saat menerima kabar lolos seleksi, Nyo sempat tidak percaya. Bocah pecinta sepak bola itu bahkan mengira dirinya sedang bermimpi.
"Langsung bilang, 'Meme (panggilan Ibu), ini beneran apa ngimpi?' Dia sampai nangis dulu dari sini. Sudah terharu dan enggak percaya," ungkap Intan.
Perjuangan Nyo juga menunjukkan kemandirian luar biasa. Demi mengejar impiannya, ia berani terbang seorang diri dari Manado menuju Jakarta pada Kamis (4/6/2026).
Karena sang ibu tidak bisa mendampingi, Nyo menempuh perjalanan udara sendirian sebelum dijemput keluarganya di Jakarta dan dibawa menuju rangkaian kegiatan player escort.
"Yang beraninya dia, berangkat dari Manado naik pesawat sendirian. Dia bilang, 'Oke, berani'," kenang Intan.
Baca Juga: Mathew Baker Cetak Sejarah di Timnas Indonesia, Menangis Saat Lagu Tanah Airku Berkumandang
Momen Tak Terlupakan Bersama Nathan Tjoe-A-On
Puncak kebahagiaan Nyo terjadi saat berada di samping Nathan Tjoe-A-On menjelang kick-off. Bek Timnas Indonesia itu menjadi sosok yang paling membekas dalam ingatannya.
Setelah momen pelukan yang viral tersebut, Nyo bahkan menyimpan kenangan unik yang membuat keluarganya tersenyum. Ia melarang seragam yang dikenakannya dicuci karena masih menyimpan aroma sang pemain.
"Bajunya enggak boleh dicuci, bau Nathan," ujar Intan sambil tertawa.
Menurut cerita Nyo kepada ibunya, ia sempat mengalami luapan emosi yang luar biasa hingga membuat tubuhnya gemetar. Tangannya terasa dingin dan dirinya sulit mengucapkan kata-kata.
"Dia cerita tangannya semuanya dingin. Speechless banget dia. Tadi pagi waktu saya telepon, matanya masih bengkak," kata Intan.
Cerita polos khas anak-anak itu menjadi bukti betapa besar arti pengalaman tersebut bagi Nyo. Bukan hanya bertemu pemain idolanya, tetapi juga menjadi bagian dari momen kebanggaan nasional di hadapan puluhan ribu penonton.
Tumbuh di Keluarga Sepak Bola, Bercita-cita Jadi Pemain Timnas
Kecintaan Nyo terhadap sepak bola ternyata tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia sepak bola.
Sejak usia enam tahun, Nyo sudah bergabung dengan sekolah sepak bola dan terus menekuni olahraga tersebut hingga sekarang. Saat ini ia berlatih di Jasfa Sakti Football Academy Manado.
"Dia bergabung di akademi sudah dari umur enam tahun. Memang cita-citanya jadi pemain bola," tutur Intan.
Sang ayah juga aktif di dunia sepak bola nasional. Saat wawancara berlangsung, ayah Nyo sedang bertugas bersama Bolsel FC yang tampil dalam kompetisi Liga 4 Indonesia yang baru selesai berjuang di Pasuruan, Jawa Timur.
Tak hanya sepak bola, Nyo juga aktif mengikuti olahraga panahan. Namun, sepak bola tetap menjadi impian terbesar yang ingin ia kejar hingga masa depan.
Baca Juga: Faktor Kenyamanan! Cahya Supriadi Masuk Radar Timnas Indonesia, PSIM Langsung Ikat Kontrak Baru
Pelukan Nathan Jadi Bahan Bakar Mimpi Besar Nyo
Bagi keluarga, momen di GBK bukan sekadar pengalaman sekali seumur hidup. Mereka percaya pengalaman tersebut akan menjadi motivasi besar bagi Nyo untuk terus berkembang.
Intan melihat putranya semakin bersemangat mengejar cita-cita menjadi pemain sepak bola profesional. Dukungan keluarga akan terus diberikan agar mimpi itu tetap terjaga.
"Iya, pastinya habis ini akan lebih termotivasi dia untuk latihan bolanya lagi dan lagi. Dia memang hobinya sepak bola dan memang cita-citanya jadi pemain bola. Kami cuma bisa mendukung dan menyekolahkan dia di akademi," ujarnya.
Kebahagiaan Nyo semakin lengkap karena Timnas Indonesia tampil gemilang dalam laga tersebut. Tim asuhan John Herdman menang meyakinkan 3-0 atas Oman dalam FIFA Matchday di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Di tengah kemenangan Garuda, terselip kisah seorang bocah dari Manado yang berhasil mewujudkan impiannya setelah dua tahun berjuang.
Tangisan haru saat Indonesia Raya bergema dan pelukan hangat Nathan Tjoe-A-On kini menjadi kenangan yang kemungkinan akan terus dikenang sepanjang hidupnya.
Baca Juga: Emil Audero Ungkap Kunci Tepis Penalti Oman, Puji Elkan Baggott di Timnas Indonesia