← Beranda
Sama-sama Lakukan Tendangan Kungfu! Nasib Fadly Alberto Lebih Beruntung Ketimbang Pemain Liga 4
Andika Rachmansyah• Sabtu, 2 Mei 2026 | 18.47 WIB
Fadly Alberto saat lawan Dewa United U-20. (Dok. Bhayangkara FC Youth)

 

JawaPos.com - Komite Disiplin (Komdis) PSSI telah menjatuhkan sanksi kepada pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20, Fadly Alberto, buntut insiden tendangan kungfu di Elite Pro Academy (EPA) U-20.

Nasib Alberto pun lebih beruntung ketimbang pemain Liga 4, karena tidak mendapatkan sanksi larangan bermain seumur hidup.

Nama Alberto menjadi sorotan tajam ketika Bhayangkara Presisi Lampung FC melawan Dewa United U-20 dalam pertandingan EPA U-20 di Stadion Citarum, Semarang, pada 19 April 2026.

Pemain muda berlabel Timnas Indonesia U-20 itu melakukan tendangan kungfu ke pemain lawan, Rakha Nurcholis.

Baca Juga: Bhayangkara FC U-20 Bakal Banding! Lima Pemain Kena Sanksi Komdis PSSI Imbas Tendangan Kungfu Fadly Alberto

Atas insiden tersebut, tak sedikit pencinta sepak bola Tanah Air yang memprediksi Alberto akan terkena hukuman berat dengan larangan bermain seumur hidup.

Namun, berdasarkan keputusan Komdis PSSI, Alberto dijatuhi hukuman larangan bermain selama tiga tahun atas aksi tendangan kungfu ke Rakha.

Komdis PSSI tidak hanya menjatuhkan sanksi kepada Alberto saja, melainkan juga ke empat pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20. Keempat pemain itu adalah Aqilah Lissunnah Aljundi, Afrizal Riqh, Ahmad Catur, dan M. Mufdi Iskandar.

Baca Juga: Bukan Sanksi Seumur Hidup! Fadly Alberto Dihukum Larangan Main 3 Tahun Imbas Tendangan Kungfu

Hukuman yang diberikan kepada keempat pemain itu bervariasi. Aqilah, Afrizal, dan Ahmad Catur dikenakan sanksi larangan bermain selama dua tahun. Sementara Mufdi larangan bermain selama satu tahun. Artinya, hanya Alberto yang mendapat hukuman paling berat.

Hukuman Komdis PSSI kepada Alberto ini sangat kontras jika dibandingkan dengan beberapa pemain Liga 4 yang sama-sama melakukan tendangan kungfu. Bisa dibilang, Alberto memiliki nasib yang cukup beruntung karena hanya mendapat hukuman larangan bermain selama tiga tahun.

Diketahui, pada musim ini sudah ada tiga insiden tendangan kungfu yang terjadi di Liga 4. Yang menarik, semua pelakunya dihukum larangan beraktivitas di sepak bola Indonesia seumur hidup. Sanksi-sanksi tersebut dijatuhkan Komdis PSSI level provinsi.

Kasus pertama datang dari Provinsi Jawa Timur dalam duel Putrajaya Pasuruan versus Perseta Tulungagung. Dalam laga tersebut, Muhammad Hilmi Gimnastiar melancarkan tendangan keras ke dada Firman Nugraha. Atas insiden tidak terpuji tersebut, Komdis PSSI Jatim menjatuhkan sanksi seumur hidup kepada Hilmi.

Lalu, tak berselang lama muncul kasus kedua dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam duel Kafi Jogja kontra UAD FC. Pemain Kafi Jogja, Dwi Aan, mendapat sanksi larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup oleh Komdis PSSI DIY buntut aksi tendangan kungfu ke pemain lawan.

Baca Juga: Kontroversial! Usai Aksi Tendangan Kungfu Mematikan, Nova Arianto Tetap Panggil Fadly Alberto ke Timnas Indonesia U-20?

Kemudian kasus ketiga datang dari Provinsi Jawa Tengah dalam duel Persikaba Blora vs PSIR Rembang di Stadion Krida, Rembang, Blora, Rabu (21/1) lalu.

Kiper PSIR Rembang, Raihan Alfariq, melakukan tendangan telak ke dada pemain Persikaba, Rizal Dimas. Raihan pun dijatuhi hukuman larangan beraktivitias di sepak bola seumur hidup oleh Komdis PSSI Jateng.

Jika membandingkan tiga kasus pada Liga 4, terlihat jelas betapa kontrasnya sanksi yang diberikan Komdis PSSI Pusat kepada Alberto. Maka dari itu, pemain 17 tahun tersebut cukup beruntung masih bisa melanjutkan kariernya di sepak bola, karena mendapat hukuman bermain selama tiga tahun.

EDITOR: Edi Yulianto