JawaPos.com — Situasi pelik yang dialami pemain PSBS Biak akhirnya terungkap ke publik. Salah satu yang blak-blakan adalah George Brown, eks pemain Persebaya Surabaya, yang kini merasakan langsung kondisi memprihatinkan di dalam tim.
George Brown menjadi satu dari sekian pemain yang terdampak krisis internal klub. Mantan bek Persebaya Surabaya musim 2023/2024 hingga 2024/2025 itu tak menutupi realita yang kini dihadapinya bersama rekan-rekannya.
Masalah utama yang mencuat adalah keterlambatan pembayaran gaji yang sudah berlangsung cukup lama.
Dalam surat resmi yang diterima JawaPos.com, disebutkan ada pemain dan staf yang belum menerima haknya hingga dua setengah sampai tiga bulan.
“Kami menulis surat ini untuk dengan hormat meminta perhatian dan bantuan Anda terkait situasi yang sedang berlangsung yang memengaruhi beberapa pemain dan staf di PSBS Biak,” demikian isi surat tersebut.
Situasi ini diakui sudah memasuki fase yang mengkhawatirkan.
George Brown pun mengonfirmasi kondisi tersebut dari sudut pandangnya sebagai pemain aktif di dalam tim. Bahkan, dampaknya bukan hanya soal finansial, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar sehari-hari.
Baca Juga: Prediksi Bali United vs PSBS Biak, Tuan Rumah Wajib Rebut 3 Poin di Kandang
Dalam surat itu dijelaskan, fasilitas tim mulai terganggu akibat masalah finansial yang belum terselesaikan. Mulai dari air minum setelah latihan, makanan di mess pemain lokal, hingga kendaraan tim yang ditarik.
Tidak hanya itu, masalah juga merembet ke tempat tinggal para pemain. Pemain asing bahkan sudah menerima surat pengosongan apartemen akibat tunggakan pembayaran yang belum diselesaikan oleh pihak klub.
Kondisi tersebut juga dirasakan langsung oleh George Brown. Ia mengungkapkan situasi tim semakin tidak menentu menjelang pertandingan penting.
“Belum tau. Belum ada update untuk latihan. Kemaren gak latihan karna lapangan gak dibayar. Kita harus main lawan Persija hari Sabtu (18/4/2026), mau gimana menang,” ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (16/4/2026).
Pernyataan itu menggambarkan betapa tidak idealnya persiapan tim.
Latihan yang seharusnya menjadi rutinitas utama justru terhenti karena masalah administrasi. Lapangan tidak bisa digunakan lantaran belum dibayar oleh pihak klub.
Baca Juga: Percaya Diri Hadapi PSBS Biak, Thijmen Goppel Siap Bawa Bali United Bangkit
Hal ini tentu berdampak besar pada performa tim di lapangan. Tanpa latihan yang memadai, sulit bagi pemain menjaga kondisi fisik dan taktik menjelang pertandingan.
George Brown juga mengungkapkan perkembangan terbaru terkait tempat tinggal pemain. Situasinya semakin mendesak dan belum ada kepastian solusi dari manajemen klub.
“Belum ada kabar lagi (soal tempat tinggal). Iya betul, kata nya 3 hari lagi mess harus di mengosongkan. Pemain asing juga dapet surat keluar dari apartemen kemaren, karena gak bayar sudah lama,” jelasnya.
Kondisi ini membuat para pemain berada dalam ketidakpastian.
Beberapa pemain bahkan harus mencari solusi sendiri untuk bertahan. Termasuk George Brown yang memilih membayar tempat tinggalnya secara mandiri.
“Saya di apartemen, bayar sendiri,” tegasnya. Langkah itu diambil agar tetap memiliki tempat tinggal di tengah situasi yang tidak jelas.
Di sisi lain, para pemain sebenarnya sudah mencoba menjalin komunikasi dengan manajemen klub. Namun, hingga saat ini belum ada respons yang memadai.
Dalam surat tersebut juga disebutkan berbagai upaya komunikasi telah dilakukan. Sayangnya, panggilan dan pesan yang dikirim tidak mendapatkan tanggapan.
Situasi ini membuat para pemain merasa tidak memiliki arah yang jelas. Mereka berada dalam kondisi sulit tanpa kepastian solusi dari pihak klub.
Meski demikian, para pemain tetap berusaha menyelesaikan masalah dengan cara profesional. Mereka menegaskan tidak ingin menciptakan konflik, melainkan mencari jalan keluar terbaik.
“Kami ingin menegaskan bahwa kami tetap menghormati PSBS Biak sebagai klub, serta liga dan federasi. Niat kami bukan untuk menciptakan konflik, melainkan untuk mencari solusi yang konstruktif dan adil,” tulis mereka dalam surat tersebut.
Langkah lanjutan pun sudah diambil oleh para pemain. Mereka kini menggandeng APPI untuk membantu proses penyelesaian masalah.
Keterlibatan APPI diharapkan bisa menjadi jembatan antara pemain dan manajemen klub. Tujuannya agar persoalan ini dapat diselesaikan secara profesional dan transparan.
Situasi PSBS Biak kini benar-benar berada di titik kritis. Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin berdampak lebih luas, termasuk pada jalannya kompetisi.
Bagi George Brown, kondisi ini menjadi pengalaman pahit dalam kariernya. Dari klub besar seperti Persebaya Surabaya, kini ia harus menghadapi realita sulit di klub barunya.
Namun, di tengah semua keterbatasan itu, para pemain tetap dituntut profesional. Mereka harus tetap tampil maksimal, meski kondisi jauh dari ideal.
Laga melawan Persija menjadi ujian nyata bagi mental dan kekuatan tim. Tanpa persiapan matang, PSBS Biak menghadapi tantangan berat di lapangan.
Kini, publik menunggu respons dari manajemen klub dan pihak terkait. Apakah krisis ini bisa segera diselesaikan, atau justru semakin membesar dalam waktu dekat.