← Beranda
JIS Simpan Luka Terdalam Persija Jakarta! 11 Poin Melayang di Kandang Sendiri, Jakmania Mulai Gelisah
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 18 Maret 2026 | 18.55 WIB
Suasana Jakarta International Stadium saat Persija Jakarta gagal meraih kemenangan dan kehilangan poin penting di hadapan Jakmania. (Persija)

 

JawaPos.com–Stadion Jakarta International Stadium nampaknya kurang bersahabat untuk Persija Jakarta di Super League 2025/2026. Alih-alih menjadi benteng kokoh, stadion megah itu justru menyimpan memori kelam dengan hilangnya 11 poin krusial di hadapan ribuan Jakmania.

Pada musim ini, Persija Jakarta sebenarnya memakai tiga stadion untuk menggelar laga kandang. Selain Stadion JIS, Persija Jakarta juga memakai Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dan Stadion Manahan Solo.

Namun fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya dari ekspektasi. Persija Jakarta malah kehilangan banyak poin saat bermain di Stadion JIS, yang seharusnya menjadi markas utama mereka.

Baca Juga: Bukan Trofi, Ini Warisan Terbesar Marcelo Bielsa untuk Sepak Bola Meksiko

Dari tujuh pertandingan di JIS, Persija Jakarta hanya meraih tiga kemenangan dan empat hasil imbang. Artinya, dari total 21 poin maksimal, Macan Kemayoran cuma mengamankan 13 poin saja.

Situasi ini tentu menjadi alarm serius bagi tim ibu kota. Apalagi selisih delapan poin yang hilang di kandang bisa berdampak besar pada posisi klasemen di akhir musim.

Dua laga kandang terakhir di JIS semakin mempertegas masalah tersebut. Persija Jakarta hanya mampu bermain imbang saat menghadapi Borneo FC dan Dewa United.

Baca Juga: Gila! Persija Jakarta Rajai Loyalitas Suporter, Persebaya Surabaya dan Persib Bandung Kalah Telak di Super League 2025/2026

Hasil imbang lainnya juga terjadi saat melawan Malut United dan Bali United. Empat laga tanpa kemenangan penuh di JIS menjadi bukti stadion ini belum benar-benar ramah bagi Persija Jakarta.

Padahal, dukungan Jakmania selalu memadati tribun dengan atmosfer luar biasa. Namun energi besar itu belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi hasil maksimal di lapangan.

Berbanding terbalik dengan performa di stadion lain. Saat bermain di Stadion Manahan, Persija Jakarta justru tampil sempurna dengan dua kemenangan dari dua laga.

PSBS Biak dan Persik Kediri menjadi korban keganasan Persija Jakarta di Solo. Produktivitas dan efektivitas permainan terlihat jauh lebih stabil dibandingkan saat tampil di JIS.

Sementara itu, performa di SUGBK juga tergolong cukup solid. Persija Jakarta mampu meraih tiga kemenangan meski sempat menelan satu kekalahan dari Arema FC dengan skor 0-2.

Jika ditotal, performa kandang Persija Jakarta di luar JIS justru lebih meyakinkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar soal faktor apa yang membuat JIS terasa berbeda.

Baca Juga: Drama Piala Afrika 2026: Senegal Kehilangan Gelar, Maroko Dinyatakan Juara

Secara rinci, hasil kandang Persija Jakarta memperlihatkan pola yang kontras. Kemenangan besar seperti 4-0 atas Persita Tangerang dan 3-0 melawan Bhayangkara FC memang terjadi di JIS, tetapi tidak konsisten.

Di sisi lain, hasil imbang terus menghantui. Persija Jakarta 1-1 Malut United, 1-1 Bali United, 2-2 Borneo FC, hingga 1-1 Dewa United menjadi deretan laga yang membuat poin terbuang sia-sia.

Total kehilangan 11 poin ini jelas bukan angka kecil. Dalam kompetisi ketat seperti Super League 2025/2026, setiap poin sangat menentukan dalam perburuan gelar maupun posisi papan atas.

Baca Juga: Kontrak Sisa 1 Bulan, Potensi Rekor Mandek! Bruno Moreira di Persimpangan Nasib Bersama Persebaya Surabaya

Kekecewaan pun tak terhindarkan, baik dari pemain, pelatih, maupun suporter. Pelatih Persija Mauricio Souza merasakan langsung beban tersebut usai hasil imbang kontra Dewa United.

”Tentu saja para suporter berhak untuk kecewa. Apa yang mereka rasakan, kami juga merasakannya. Namun saya tidak melihat kurangnya usaha di lapangan. Tidak ada tim yang datang bermain melawan kami yang benar-benar lebih baik dari kami. Hari ini kami lebih baik dari Dewa United,” ucap Mauricio.

Gol Emaxwell Souza di masa injury time babak pertama sempat memberi harapan kemenangan. Namun situasi berubah setelah Alexis Messidoro mencetak gol penyeimbang di babak kedua.

Baca Juga: Kontrak Sisa 1 Bulan, Potensi Rekor Mandek! Bruno Moreira di Persimpangan Nasib Bersama Persebaya Surabaya

”Pertandingan ini memang tidak indah. Semua orang tahu itu, dan saya juga setuju. Tetapi di lapangan yang buruk, permainan juga menjadi buruk,” kata Emaxwell Souza menambahkan.

Komentar tersebut sekaligus mengindikasikan adanya faktor non teknis yang memengaruhi performa tim. Kondisi lapangan hingga tekanan atmosfer bisa menjadi variabel yang tak bisa diabaikan.

Di tengah kritik yang bermunculan di media sosial, Pelatih Persija Mauricio Souza memilih tetap fokus. Dia menegaskan lebih mengutamakan analisis performa dibanding sekadar hasil akhir pertandingan.

”Jangan hanya mempertimbangkan apa yang dikatakan di media sosial, karena saya fokus pada hal-hal yang bisa saya kendalikan. Saya menganalisis performa, bukan hanya hasil,” ujar Mauricio Souza.

Baca Juga: Performa Apik Frans Putros di Persib Bandung Bikin Dipanggil Timnas Irak

Kini, Persija Jakarta dihadapkan pada tantangan besar untuk bangkit. Sisa pertandingan di Super League 2025/2026 menjadi momen krusial untuk menebus poin-poin yang hilang.

Mauricio pun memastikan timnya tidak akan menyerah. Dia berjanji Persija Jakarta akan bertransformasi dan tampil lebih baik pada laga berikutnya.

”Kami merasakan kekecewaan para suporter, dan itu juga menjadi kekecewaan kami. Kami bekerja setiap hari, di bawah terik matahari maupun hujan. Saya pulang pukul 01.00 pagi demi memikirkan bagaimana memberikan kegembiraan untuk kita semua. Kami akan berjuang sampai akhir,” tutur Mauricio Souza.

Baca Juga: Persib Bandung Kolaborasi dengan Weekend Offender, Hadirkan Koleksi Streetwear Eksklusif untuk Bobotoh

Tekad tersebut kini diuji dalam laga pekan ke-26. Persija Jakarta harus membuktikan JIS bukan lagi tempat kehilangan, melainkan titik balik kebangkitan.

Jika tidak segera menemukan solusi, bukan tidak mungkin ambisi besar musim ini akan kembali tergelincir. Jakmania tentu berharap, memori kelam di JIS segera berubah menjadi kisah kemenangan.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah