← Beranda
Dicap APBD FC, Persija Jakarta Buka Kartu! Prapanca Ungkap Sumber Uang Macan Kemayoran di Super League 2025/2026
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 11 Maret 2026 | 14.39 WIB
Direktur Persija Jakarta Mohamad Prapanca saat berbincang dengan jurnalis dalam agenda Ngopi Bareng Persija di Persija Galeri. (Dok. Persija)

JawaPos.com — Isu mengenai sumber dana klub kembali menyeret nama Persija Jakarta. Klub berjuluk Macan Kemayoran itu sempat dicap sebagai tim yang bergantung pada dana APBD menjelang bergulirnya Super League 2025/2026.

Label tersebut akhirnya dijawab langsung oleh manajemen Persija Jakarta. Direktur Persija Jakarta, Mohamad Prapanca, memilih berbicara terbuka mengenai sumber finansial klub yang selama ini sering diperdebatkan.

Penjelasan itu disampaikan dalam agenda Ngopi Bareng Persija yang digelar di Persija Galeri pada Selasa sore (10/3/2026). Pertemuan santai tersebut menghadirkan suasana hangat antara manajemen klub dan para jurnalis.

Momentum Ramadhan membuat dialog berlangsung lebih cair. Dalam suasana penuh kebersamaan, berbagai isu mengenai Persija Jakarta dibahas secara terbuka.

Salah satu topik yang paling menarik perhatian adalah anggapan Persija Jakarta merupakan klub yang bergantung pada dana pemerintah daerah. Isu tersebut sudah lama beredar di kalangan publik sepak bola nasional.

Sebagian pihak menilai kedekatan Persija Jakarta dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat klub itu sering disebut sebagai APBD FC.

Narasi tersebut bahkan kerap muncul dalam diskusi suporter maupun perbincangan di media sosial.

Baca Juga: Manjakan Jakmania! Persija Jakarta Gandeng Se’Indonesia, Logo Baru Muncul di Jersey hingga Aktivasi di Stadion

Mohamad Prapanca menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Ia menegaskan Persija Jakarta saat ini dikelola sebagai klub profesional dengan sistem pembiayaan berbasis bisnis.

Menurutnya, operasional klub tidak bergantung pada satu sumber dana saja. Struktur pendanaan Persija Jakarta berasal dari berbagai jalur komersial yang saling mendukung.

Salah satu sumber utama tentu berasal dari sponsor. Kerja sama komersial dengan berbagai perusahaan menjadi bagian penting dalam menopang aktivitas klub sepanjang musim.

Selain sponsor, pemasukan juga datang dari penjualan tiket pertandingan. Basis suporter Persija Jakarta yang besar membuat potensi pendapatan dari sektor ini tetap signifikan.

Pendapatan lain juga diperoleh melalui penjualan merchandise resmi klub. Produk-produk berlogo Persija Jakarta menjadi bagian dari strategi bisnis yang terus dikembangkan.

Aktivitas bisnis klub tidak berhenti di situ. Persija Jakarta juga menjalin berbagai kolaborasi komersial yang membuka peluang pendapatan baru.

Model bisnis tersebut membuat klub mampu menjalankan operasional secara profesional. Dengan berbagai sumber pemasukan itu, Persija Jakarta berupaya menjaga stabilitas finansialnya.

Prapanca menegaskan kerja sama dengan berbagai pihak dilakukan melalui perjanjian yang jelas dan terukur. Setiap program yang tertuang dalam kontrak harus dijalankan sesuai kesepakatan.

Karena itu, menurutnya tidak mungkin klub menggunakan kerja sama tersebut secara sembarangan. Semua aktivitas tetap mengikuti aturan dan mekanisme yang berlaku.

“Saya sampaikan ini terkait APBD FC. Apa yang menjadi program yang ada di perjanjian itu, itu plek-plek (harus dijalankan). Tidak bisa main-main lho sama (perjanjian kerja sama). Kalau kami memanfaatkan partnership ini untuk ugal-ugalan tuh kayaknya tidak bisa,” tutur Prapanca.

Ia juga menjelaskan kerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah bukan berarti Persija Jakarta bergantung pada dana pemerintah. Kolaborasi tersebut dilakukan dalam konteks hubungan bisnis yang saling menguntungkan.

Bagi perusahaan atau BUMD, Persija Jakarta memiliki nilai promosi yang besar. Popularitas klub di ibu kota membuat brand yang bekerja sama berpeluang menjangkau pasar yang luas.

Hal itu membuat banyak perusahaan tertarik menjalin kemitraan. Persija Jakarta pun memanfaatkan peluang tersebut untuk memperkuat struktur finansial klub.

Prapanca menekankan model bisnis seperti ini lazim dalam industri sepak bola modern. Klub profesional memang harus mampu membangun jaringan sponsor dan kerja sama komersial yang kuat.

Karena itu, label APBD FC menurutnya tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Persija Jakarta kini berusaha menjalankan pengelolaan klub dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Baca Juga: Persebaya Surabaya Didenda Rp 250 Juta Lawan Persib Bandung! Makin Boncos Jelang Lebaran 2026

Transformasi manajemen juga terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Tujuannya agar klub memiliki fondasi finansial yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Stabilitas keuangan menjadi faktor penting dalam menghadapi persaingan kompetisi. Terutama di level tertinggi seperti Super League yang menuntut kesiapan klub secara menyeluruh.

Dengan sistem bisnis yang lebih modern, Persija Jakarta berharap mampu terus berkembang. Transparansi dan profesionalisme menjadi kunci agar klub tetap dipercaya oleh mitra maupun suporter.

Melalui forum Ngopi Bareng Persija, manajemen ingin membuka ruang komunikasi yang lebih luas. Prapanca berharap penjelasan ini dapat meluruskan berbagai persepsi yang berkembang di publik.

EDITOR: Hendra